Menu

PKM STEI Ar Risalah Sumbar, Koperasi Syariah Solusi Keuangan saat Pandemi

  Dibaca : 670 kali
PKM STEI Ar Risalah Sumbar, Koperasi Syariah Solusi Keuangan saat Pandemi
TIM PKM— Ketua tim PKM STEI Ar Risalah Afriyanti memaparkan pentingnya koperasi syariah dalam masa pandemi Covid-19.

KOTOTANGAH, METRO
Koperasi syariah dapat menjadi solusi keuangan bagi masyarakat. Terlebih di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Sebab, koperasi sebagai badan usaha yang berbasis syariah dalam operasional berjalan sesuai prinsip Islam, seperti keadilan dan rasa persaudaraan.

Pernyataan tersebut kembali menghangat saat berlangsungnya pengabdian kepada masyarakat (PKM) oleh tim dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Ar Risalah Sumatera Barat, Minggu (5/7) di Kecamatan Kototangah.

Tim dosen dan mahasiswa yang menggelar PKM terdiri dari Afriyanti, SHI, ME, Nenengsih, SPd, MSi, Muthia Ulfah, SE, ME, Bayu Kurnia, SHI, ME, serta dua orang mahasiswa Prodi Ekonomi Islam Dina Ramadani dan Anita Gustiara.

Ketua tim PKM STEI Ar Risalah, Afriyanti memaparkan, pada operasional koperasi syariah tidak ditemukan unsur-unsur riba, gharar dan unsur haram lainnya. Koperasi syariah salah satu tujuan dan fungsinya adalah ta’awun yaitu saling tolong menolong antar sesama anggotanya dan menjadi sebuah wadah atau mediator yang menghubungkan penyandang dana dengan pengguna dana sehingga hasilnya lebih optimal.

“Banyak kegiatan yang dapat kita lakukan dengan memanfaatkan koperasi syariah, misalnya bagi anggota yang punya bakat menjahit, buat kue atau usaha lain bisa dikembangkan lewat koperasi syariah,” jelas Yanti.

Mantan Manajer KJKS (Koperasi Jasa Keuangan Syariah) itu menguraikan bahwa untuk mendirikan koperasi minimal harus ada anggota sebanyak 20 orang. Masing-masing menyalurkan dananya minimal Rp100.000, lalu dana tersebut dikumpulkan dan dana yg terkumpul dijadikan modal usaha.

Ia menjelaskan, misalnya jika salah satu anggota ada yang mempunyai bakat usaha membuat seprai, maka dapat meminjam modal pada koperasi. Pengembalian modal yang dipinjam pada koperasi dilakukan berdasarkan prinsip bagi hasil.

“Tidak ada istilahnya bunga pinjaman, tapi yang ada bagi hasil. Contoh begini, anggota yang meminjam mendapatkan keuntungan dari usahanya. Maka keuntungan atau margin tersebut dilakukan bagi hasil dengan koperasi sesuai kesepakatan. Misalnya bagi hasilnya 60:40, atau 60 persen untuk si peminjam dan 40 persen untuk koperasi,” terangnya.

Di dalam koperasi syariah, juga terdapat simpanan. Jika koperasi syariah tersebut sudah berjalan baik, maka wajib adanya dalam koperasi tersebut simpanan pokok (Simpok) dan Simpanan wajib (Simwa). Gunanya adalah modal bagi para anggota koperasi syariah yang bergabung di dalamnya. Simpok dan Simwa tersebut uangnya kembali untuk anggota juga.

Ia menambahkan, contoh lain dalam simpanan koperasi syariah yang sangat sederhana bisa dilakukan bagi anggota adalah Tabungan Persiapan Qurban atau disingkat degan TASAQUR. Caranya dengan mencicil simpanan tersebut sampai hari raya qurban tiba.

“Apabila para anggota koperasi syariah selalu solid, saling percaya, dengan prinsip koperasi saling tolong menolang sesama, maka koperasi akan berjalan dengan baik dan sukses sesuai syariahnya,” tutup Yanti. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional