Menu

Pj Gubernur: Untuk Masjid Raya Sumbar, Saya Rela Minta-Minta

  Dibaca : 1599 kali
Pj Gubernur: Untuk Masjid Raya Sumbar, Saya Rela Minta-Minta
Puan Maharani

rehab masjid raya sumbar

PADANG, METRO–Penjabat (Pj) Gubernur Sumbar Reydonnyzar Moenek menunjukkan komitmennya untuk mencarikan dana untuk pembangunan Masjid Raya Sumbar. Untuk Masjid Raya, Donny – sapaan Pj Gubernur – mengaku rela meminta-minta anggaran ke pusat dan berencana melakukan kerja sama dengan daerah lain, dengan berharap adanya dana hibah dari daerah bersangkutan.

”Masjid Raya Sumbar harus selesai dibangun. Dananya akan sekuat tenaga saya carikan. Baik dari pihak ketiga, atau hibah dari daerah lain. Kini, saya sedang jajaki perbincangan dengan beberapa daerah agar mau membantu pembangunan Masjid Raya,” terang Donny ketika bertemu dengan awak redaksi POSMETRO Padang, Padang Ekpres dan Padang TV di Adinegoro Room, Gedung Grahapena, Lubuk Buaya, Padang, Senin (31/8) sore.

Dituturkan Donny, sebagai Pj Gubernur yang tak memiliki kepentingan apa pun, kecuali untuk membangun Sumbar, dirinya ingin benar-benar maksimal dalam bekerja. Khusus untuk Masjid Raya, katanya progres pembangunannya baru mencapai 49 persen dan telah menyerap dana pembangunan yang bersumber dari APBD sebesar Rp202,2 miliar.  Untuk melanjutkan pembangunan, masih dibutuhkan lagi dana mencapai Rp220 Miliar.

”Karena keterbatasan anggaran, pembangunan Masjid Raya ini berjalan pelan. Makanya harus ada sumber lain. Sekarang saya sedang menjajaki kerja sama dengan Gubernur Papua,” ucap Ditjen Keuangan Daerah Kemendagri itu.

Selain berkisah tentang komitmennya membangun Sumbar, Reydonnyzar Moenek juga berkisah tentang lika-liku hidupnya. Dia adalah seorang birokrat Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri Indonesia (Kemendagri). Di awal kariernya sebagai birokrat, ia pernah jadi staf di Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dari tahun 1989 sampai 1993. Karena keah­liannya menulis, ia dipercaya menjadi penulis dan penyusun naskah pidato Gubernur Jawa Tengah, Muhammad Ismail.
Reydonnyzar Moenek yang akrab disapa Donny ini mena­matkan pendidikannya di Seko­lah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Semarang sebe­lum melanjutkannya ke Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tahun 1988 ia pun berhasil menyelesaikan kuliahnya di UGM dan selan­jutnya meneruskan studinya ke Filipina dan Australia.

Dalam karirnya ia pernah mendapat penghargaan dari The World Green Environment Union dan Pemerintah Korea Selatan dan Elshinta Award 2012.. Penghargaan yang diberikan bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT) Elshinta ke-13 itu lantaran dinilai sebagai narasumber yang tidak pelit memberikan keterangan kepada wartawan.

Dari delapan yang meraih penghargaan, Reydonnyzar merupakan satu-satunya juru bicara kementerian yang meraih Elshinta Award 2012. “Reydonnyzar mengatakan, komunikasi publik di institusinya bisa berjalan sangat baik berkat peran media. Karena pembangunan tidak bisa lagi dididirikan dengan kekuasaan, kata dia, maka segala kritik dan aduan masyarakat harus diterima,” ungkapnya.

Reydonnyzar Moenek yang akrab disapa Donny ini menamatkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Semarang, sebelum melanjutkannya ke Fisipol Universitas Gadjah Mada. Tahun 1988 ia pun berhasil menyelesaikan kuliahnya di UGM dan selanjutnya ia meneruskan studinya ke Philipina dan Australia.

Selesai kuliah di luar negeri ia juga sempat menulis tiga seri buku mengenai analisa investasi. Buku yang diterbitkan dalam dua bahasa itu akhirnya dibeli hak ciptanya oleh suatu lembaga internasional, sehingga Reydonnyzar kehilangan hak ciptanya sebagai penulis, tapi itu semua dikompensasi dengan sejumlah uang yang jumlahnya bisa untuk membeli sebuah rumah. “Pulang kuliah, saya malah bawa dolar,” ungkapnya. (ben)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional