Menu

Pilkada Sumbar: Peluang Politik Dinasti

  Dibaca : 383 kali
Pilkada Sumbar: Peluang Politik Dinasti
Peluang Politik Dinasti

Oleh : Reviandi

POLITIK dinasti tak begitu dikenal sejak era reformasi dan rezim Pilkada serentak di Sumbar Namun, tak menutup kemungkinan hal itu terjadi di era kekinian. Dari pengertian politik dinasti, sebenarnya saat Pileg 2019 kemarin adalah puncak-puncaknya. Bahkan, dari 14 orang anggota DPR RI asal Sumbar, beberapa di antaranya terindikasi. Apalagi di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Dalam pengertiannya di situs mkri.id milik Mahkamah Konstitusi (MK) politik dinasti dapat diartikan sebagai sebuah kekuasaan politik  yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga. Dinasti politik lebih identik dengan kerajaan, sebab kekuasaan akan diwariskan secara turun temurun dari ayah kepada anak. Agar kekuasaan akan tetap berada di lingkaran keluarga.

Menilik hal itu, maka peluang terjadinya politik dinasti memang masih terbuka lebar saat ini. Apalagi MK telah membatalkan UU Pilkada Nomor 8 Tahun 2015 Pasal 7 huruf r mengatur tentang bagaimana cara menjadi calon kepala daerah melalui pilkada serentak. Dalam pasal itu, seseorang yang mempunyai hubungan darah atau konflik kepentingan dengan incumbent tidak diperbolehkan maju menjadi calon kepala daerah. Pascadicabut, tentu menjadi lampu hijau kembali.

Saat ini, ada potensi politik dinasti itu terjadi, salah satunya di Kabupaten Sijunjung. Anak kandung Bupati Sijunjung Yuswir Arifin yang sekarang menjadi Kepala Bappeda Sijunjung Benny Yuswir disebut-sebut akan maju menggantikan sang ayah yang sudah dua periode. Tak sekadar desas-desus lagi, baliho yang memampangkan foto dan namanya sudah banyak beredar di Sijunjung.

Peluang Benny kini terbuka lebar, karena sudah ada beberapa partai yang menyatakan dukungan. Apalagi sejumlah lembaga survei juga menempatkannya di posisi puncak, meninggalkan jauh para pesaingnya seperti Endre Saifoel, Arrival Boy sampai Syafrizal. Menilik survei, sepertinya masyarakat Sijunjung tak terlalu peduli dengan gembar-gembor politik dinasti yang sudah heboh di media sosial.

Peluang politik dinasti lain bisa saja terjadi di Solok Selatan usai Pilkada 2020. Pasalnya saat ini, calon kuat Bupati Solsel adalah Khairunnas dari Partai Golkar. Sementara Ketua DPRD Solsel adalah Zigo Rolanda, anak kandung Khairunnas, juga dari Golkar. Andai memenangkan Pilkada, maka ayah dan anak resmi memimpin Kabupaten yang Bupatinya baru saja ditahan KPK karena diduga tersangkut kasus korupsi dana

Awalnya, Khairunnas disebut akan maju sebagai calon Gubernur atau wakil Gubernur karena menjabat Ketua DPD Golkar Sumbar. Namun, dua hari terakhir beredar informasi dan lembaran surat tugas yang menyatakan DPP Golkar Sumbar menjagokan Shadiq Pasadigoe sebagai bakal calon Gubernur/Wagub. Jadi, peluang Khairunnas untuk kembali bertarung di Pilkada Solsel masih tinggi. Kalau memang terjadi, alangkah bijaknya bagi Golkar mengganti ketua DPRD Solsel.

Shadiq sendiri juga disebut-sebut pernah dekat dengan politik dinasti. Hal itu setelah istrinya Betty Shadiq Pasadigoe pernah menjadi anggota DPR RI asal Sumbar 2014-2019 dari Partai Golkar. Kini malah, Betty diperkirakan akan maju sebagai calon Bupati Tanahdatar, posisi yang ditinggalkan Shadiq 2015 lalu setelah menjabat selama 10 tahun (2005-2015).

Andai Shadiq benar-benar diusung Golkar — kabarnya berpasangan dengan Mulyadi (Demokrat-Golkar) dan Betty diusung pula di Tanahdatar, tentu akan sangat menarik. Baru kali ini di Sumbar terjadi suami-istri maju di Pilkada secara bersamaan, di Pilgub dan Pilkada Kabupaten. Rekor yang hampir saja diukir oleh pasangan suami istri Syamsuar Syam-Misliza yang mendaftar sebagai Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang 2018 melalui jalur perseorangan. Sayang, persyaratan dukungan mereka belum membuat KPU meloloskannya.

Andai ini masuk dalam politik dinasti, maka keluarga anggota DPD Emma Yohanna pada Pileg 2019 lalu dan Pilkada 2020 ini juga menarik. Sang suami yang juga ketua DPW PPP Sumbar Hariadi adalah mantan caleg DPR RI Sumbar 2 yang sekarang diperkirakan akan maju sebagai calon Bupati Agam. Sang anak Nicky Lauda Hariona juga pernah menjadi caleg DPR RI Dapil Sumbar 1. Namun, posisi mereka tidak saling menggantikan, tapi “melebarkan sayap” ke jabatan lainnya.

Di Pasbar, juga ada informasi kemungkinan hal yang sama saat Deki Bahar dikatakan akan maju sebagai calon Bupati. Dia adalah putra dari mantan Bupati Pasbar (2010-2015) Baharuddin R yang juga pernah menjadi Bupati Pasaman 2000-2005. Andai Deki maju dan menang, maka dia akan menjadi anak Bupati pertama yang menjadi Bupati di daerah yang sama di Sumbar.

Kalau menang di Pilkada Pariaman 2013, sebenarnya Is Prima Nanda yang akan menjadi yang pertama sebelum Deki Bahar. Sayang, dia harus mengakui keunggulan Mukhlis Rahman yang menjadi pemenang. Is Prima Nanda adalah putra pertama dari mantan Gubernur Sumbar yang pernah menjadi Bupati Padangpariaman Zainal Bakar. Waktu itu, Kota Pariaman masih jadi bagian dari Kabupaten.

Dosen ilmu politik Fisipol UGM, A.G.N. Ari Dwipayana pernah mengatakan, tren politik kekerabatan itu sebagai gejala neopatrimonialistik. Benihnya sudah lama berakar secara tradisional. Yakni berupa sistem patrimonial, yang mengutamakan regenerasi politik berdasarkan ikatan genealogis, ketimbang merit system, dalam menimbang prestasi.

Dinasti politik sendiri ternyata tak membuat banyak pihak sewot dan mengungkapkannya ke publik. Tak begitu kentara saat proses pencalonan ini terjadi. Namun, akan meledak andai ada yang memenangkan Pilkada 2020 nanti. Bisa saja akan ada istri mantan Bupati yang jadi Bupati, anak mantan Bupati yang jadi Bupati. Bapak dan anak jadi Bupati dan Ketua DPRD dan sejenisnya. Tentunya, hal ini dikembalilan kepada pemilih yang akan menentukan langkahnya.

Andai kualitas seorang kandidat yang diutamakan, maka benarlah MK membolehkan politik dinasti ini. Karena tak menghalangi seseorang untuk mengabdi menyejahterakan masyarakat. Namun kalau yang terpilih anak, istri, adek, keluarga dari mantan pejabat itu tak baik dan bekerja buruk, maka politik dinasti akan kembali dipertanyakan. Bisa saja akan kembali ada yang membawa-bawa ke MK. Yang pasti, sekarang kita lihat saja, apa ada arah-arah politik dinasti ini akan mendapatkan kapal dan pelabuhannyan (Wartawan Utama)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

IKLAN

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional