Menu

Pilkada Sumbar: Bacalon Harus Bersih

  Dibaca : 409 kali
Pilkada Sumbar: Bacalon Harus Bersih
Bacalon Harus Bersih

Oleh : Reviandi

JELANG pendaftaran calon kepala daerah ke KPU, baik tingkat Provinsi atau Kabupaten/Kota, calon pemilih harus lebih jeli. Jangan hanya tergiur wajah rupawan, gaya menawan, dan cara-cara klasik mendapatkan suara – bagi-bagi sembako dan sejenisnya. Jangan lagi Pilkada hanya ajang untuk “borjuis” mengubah hidupnya dan menjadi pejabat klimis.

Rekam jejak atau track record harus benar-benar dipastikan dulu sebelum menentukan pilihan. Karena, akan banyak calon-calon “pesolek” alias “salon” yang akan datang menyapa warga. Memaksakan diri dekat dengan rakyat, padahal selama ini tak pernah kenal – apalagi merakyat. Mereka yang datang tiba-tiba dan merasa penting serta harus jadi perhatian.

Setidaknya, sebagai calon penentu pemimpin masa depan, warga Sumbar harus pintar memilih, mana yang berbakat, berpengalaman, atau hanya sekadar coba-coba di Pilkada. Apalagi mereka yang “dicukongi” pemilik modal dari luar Sumbar sampai luar negeri – tolong jangan dipilih. Pastinya kalau “manjadi” akan lebih loyal pada tuannya daripada kepada pemilihnya.

Mereka yang maju karena punya dana seabreg tanpa batas, tak akan pernah berpikir bagaimana menyejahterakan rakyat. Bagaimana agar anak-anak sekolah dengan murah dan lebih baik. Bagaimana ke rumah sakit tak lagi susah apalagi yang tak sanggup membayar BPJS. Yang kalau ingin permodalan tak perlu mengemis-ngemis ke bank dan menggadaikan pusaka tinggi.

Satu lagi, cek lagi rekam jejak sang kandidat. Jangan sampai orang-orang bermasalah di instansi dia bekerja, di perusahaan, di pergaulan, di organisasi dan sejenisnya yang diberikan kesempatan. Orang seperti itu tentu akan menjadikan jabatannya untuk menuntaskan masalah-masalah yang ditinggal di masa lalu. Beban berat akan membuatnya tak akan fokus bekerja andai jadi Gubernur, Bupati atau Wali Kota.

Paling tidak, pemilih harus benar-benar bersih-bersih dalam Pilkada serentak yang kalau tak diundur KPU karena pandemi corona akan berlangsung 23 September 2020. Orang yang bermasalah, apalagi masih ada jejak digital dan sejarahnya, singkirkan dari pikiran untuk memilihnya. Jangan sampai, karena tergiur dengan style yang hebat, pidato yang mantap, janji yang kuat, terpilih orang yang membuat masyarakat sengsara lima tahun ke depan.

Banyak kandidat yang selama dua hari terakhir benar-benar “marasai” jadi bulan-bulanan netizen – pegiat dunia maya. Mereka yang berniat maju ditantang untuk membagi-bagikan masker atau hand sanitizer. Beredar luas di media sosial (medsos), harapan itu terus menggelinding membesar. Akun pribadi atau offisial para calon itupun banyak diserbu “netijen” yang “maha benar.”

Apakah mereka yang mampu membagi-bagikan ribuan masker dan pembersih tangan dari bakteri akan terpilih? Sebenarnya bisa saja, karena akan berkesan bagi banyak pemilih. Tapi, akan sulit rasanya di situasi saat ini tiba-tiba mendapatkan masker yang banyak dan membagi-bagikan ke masyarakat. Bukan soal harga – karena banyak kandidat yang super tajir melintir, tapi mendapatkannya yang sangat susah.

Awalnya, yang paling banyak diserang soal kapan bagi-bagi masker ini adalah para anggota dewan baik DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPR RI sampai DPD RI. Mereka yang dulu saat kampanye sangat baik dan selalu membagi-bagikan sembako, masker, dan lain-lain. Kini, mereka seakan hilang dan tak bisa memenuhi kehendak konstituennya yang ingin masker.

Dari pantauan di dunia maya, ternyata yang paling getol “mengkampanyekan” itu sampai ke ketua umum partai adalah caleg-caleg yang belum beruntung di Pileg 2019. Mereka begitu bersemangat, dan mungkin merasa bisa menjadi anggota dewan yang lebih baik andai terpilih. Tapi sudahlah, memang susah mencari pemimpin yang benar-benar bersih. Tapi harus kita cari.

Kini, katanya era keterbukaan informasi publik yang bahkan sudah ada komisi khususnya. Harusnya, tak ada lagi yang ditutup-tutupi dari para calon yang akan maju itu. Paling tidak, mereka yang tidak benar-benar bersih, jangan pulalah sok-sokan berani maju. Kalau tak ingin “ditelanjangi” publik dunia maya dan nyata.

Cukuplah apa yang didapat hari ini; karena aib yang ada masih tertutupi dengan baik oleh yang kuasa. Takutnya, maju mencalon malah menjadi sasaran tembak lawan untuk membuka aib yang selama ini tertutup dengan rapi. Seperti slogan yang sering disampaikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kalau bersih kenapa harus risih. Jadi, yang bersih-bersih sajalah yang maju; yang tidak jangan. Mambana ha. (Wartawan Utama)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

IKLAN

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional