Menu

Peti Jenazah Dibuka Paksa Keluarga

  Dibaca : 168 kali
Peti Jenazah Dibuka Paksa Keluarga
Ilustrasi

LIMAPULUH KOTA, METRO
Penolakan pemakaman jenazah pasien positif Covid-19 dengan protokol kesehatan terjadi di Jorong Padang Parit Panjang, Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Senin (24/8) sekitar pukul 21.00 WIB. Bahkan, petugas yang akan memakamkan diusir warga dan keluarga.

Meski sudah sempat dilakukan mediasi, keluarga tetap saja menolak jenazah YS (47) yang dinyatakan positif Covid-19 dimakamkan secara protokol. Pihak keluarga dan masyarakat malah makin emosi mengusir Tim Gugus Tugas Percepatan Penaganganan Covid-19 Kecamatan dan Kabupaten.

Tidak hanya itu, Wakil Bupati Ferizal Ridwan yang datang ke lokasi bersama Camat, Polisi, juga sempat diusir warga. Sedangkan peti jenazah dan plastik pembalut jenazah dibuka paksa. Jenazah kemudian dikeluarkan dari peti dan dimandikan lalu di shalatkan. Setelah itu, keluarga bersama ratusan warga melangsungkan pemakaman secara biasa.

Kepala Dinas Kesehatan Limapuluh Kota, dr Tein Septino membenarkan ada warga di Limapuluh Kota, yang menolak pemakaman jenazah positif covid-19 secara protokol kesehatan. Keluarga ingin jenazah YS, dimakamkan secara islami. Sehingga pihak kelurga saat jenazah datang dari Rumah Sakit Achmad Muchtar (RSAM) Bukittinggi pakai ambulns, langsung membawa ke dalam rumah.

“Memang benar. Dan awalnya saya dapat kontak dari RSAM ada warga yang meninggal positif covid. Dan ketika disampaikan kepada keluarga, mereka menolak dilakukan pemakaman secara protap. Sehingga rapat di rumah jorong, belum selesai rapat, sekitar pukul 21.00 WIB jenazah tiba dan langsung dibawa pihak keluarga dalam rumah,” sebut Tien Septono.

Dikatakannya, ketika petugas datang ternyata mendapat penolakan dari warga termasuk menolak yang hadir ketika itu Wakil Bupati H Ferizal Ridwan, Camat dan Polisi. Namun, karena emosi pihak keluarga dan warga sudah memuncak, maka petugas Covid-19 terpaksa harus meninggalkan lokasi untuk mengindari adanya konflik.

“Ketika petugas meninggalkan lokasi, tetap ditinggalkan APD untuk pihak kelurga yang akan memakamkan Jenazah YS. Tapi apakah dipakai atau tidak kami tidak tau, tapi inshaAllah kami bersama petugas dari TNI dan Polri serta Pol PP akan melakukan tracking Rabu (26/8) ini. Ini agar masyarakat kita tetap terlindungi dari penyebaran Covid-19,” sebut Tien Septono.

Disampaikannya, YS yang sehari hari bekerja sebagai pegawai THL Dinas Linglungan Hidup Kota Payakumbuh itu, pernah mengeluhkan sakit dan berobat ke RS Adnan Wd Payakumbuh. Saat itu dilakukan swab, dan dirujuk ke RSAM Bukittinggi. Tidak beberapa lama dirawat YS meninggal Senin (24/8) sore.

“Pengurusan jenazah sesuai protokol kesehatan itu sudah dimandikan, di shalatkan dan dikafani. Bahkan kami meminta kepada petugas do RSAM agar prosesi penyelenggaran jenazah diperlihatkan kepasa istrinya. Dan petugas menyebut bahwa istrinya ikut menyolatkan,” sebutnya.

Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan, membenarkan jika dirinya diusir warga bersama Tim Gugus Tugas Covid-19 lainnya. Namun, saat itu dirinya terlambat datang, sehingga belum sempat berdiskusi dengan pihak keluarga, tiba-tiba sudah diusir.

“Saya dapat kabar sekitar pukul 19.00 WIB dan pihak Kepolisian juga berharap Wakil Bupati bisa datang. Namun datang sudah lewat pukul 21.00 WIB tengah malam. Saya sempat dibentak dan ditolak masyarakat. Padahal meninggal karena Covid-19 adalah sahid,” sebut Ferizal.

Terkait kejadian itu, Ferizal tidak menyalahlan masyarakat. Hanya dirinya menyayangkan minimnya sosialisai dari Gugus Tugas terkait covid-19. “Intinya masyarakat tak bisa disalahkan, cuman kita yang kurang akomodir dan kita kurang mengkomunikasikan, harus lebih banyak sosialisasi kemasyarakat,” sebutnya.

Salah seorang Tokoh Masyarakat yang juga mantan Wali Nagari Taeh Baruah, Safri, menyebut bahwa YS, sebelum dirawat do RSAM pernah memeriksakan diri di RS Adnan WD Payakumbuh. Kemudian pihak RS Adnan WD merujuk YS ke RSAM Bukittinggi.

“Beliau sebelumnya sudah merasakan sakit, kemudian pergi berobat ke RS Adnan WD. Setelah itu dirujuk ke RSAM Bukittinggi, hanya beberapa hari dirawat dan kemarin meninggal. Dan keluarga menginginkan jenazah YS dimakamkan secara islam, dan sempat rapat di rumah jorong,” seburnya.

Syafri menuturkan, setelah peristiwa itu YS dimakamkan keluarga sekitar 23.30 Wib tengah malam. “Akhirnya keluarga yang memakamkan sekitar pukul 23.30 Wib. Dan masyarakat dan keluarga meminta maaf kepada Tim gugus tugas covid-19,” disampaikanya melalui sambungan telepon kepada Wartawan.

Melanggar Hukum
Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto mengatakan, tindakan membuka peti jenazah merupakan tindakan melawan hukum sebagaimana diatur pasal 212 KUHP dan 214 KUHP serta pasal 14 ayat 1 UU nomor 4 tahun 1984.

“Meski kejadian di Kabupaten Limapuluh Kota namun untuk wilayah hukum di lokasi kejadian adalah Polres Kota Payakumbuh. Intinya diminta polres setempat untuk menindaklanjuti kasus ini. Kan kasus tersebut melanggar hukum. Seharusnya masyarakat harus mematuhi peraturan yang telah ada,” katanya, Selasa (25/8).

Ditegaskan Kombes Pol Satake bayu, mungkin Kapolseknya harus segera melakukan tindakan. Atau polres setempat segera menindaklanjuti. Insiden ini terjadi kemungkinan kurangnya pemahaman masyarakat setempat terkait wabah corona. Selain itu pihak kepolisian yang bertanggung jawab di daerah itu kurang melakukan sosialisasi.

”Mungkin Kapolseknya harus segera melakukan tindakan. Atau polres setempat segera menindaklanjuti. Selain itu, sangat penting mengedukasi masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya. (us/rgr)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional