Menu

Petani Dharmasraya Menjerit, Harga Jual TBS Sawit dan Karet Anjlok

  Dibaca : 124 kali
Petani Dharmasraya Menjerit, Harga Jual TBS Sawit dan Karet Anjlok
SAWIT— Para petani terlihat sedang menaikkan sawit ke atas truk untuk diproses ke tahap selanjutnya. Saat ini, petani di Dharmasraya mengeluhkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit produksi kebun rakyat yang masih rendah. (guspira ardillah/posmetro)

DHARMASRAYA, METRO – Petani di Dharmasraya mengeluhkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit produksi kebun rakyat masih rendah. Yaitu harga TBS hanya Rp1.010 per kg dan harga karet Rp7.000 per kg pascalebaran Idul Fitri 2019.

Sebelumnya, satu minggu jelang lebaran 1440 H, harga komoditi TBS sawit mencapai 1.500 per kg, sedangkan harga karet Rp9.000 per kg. “Situasi ini sangat tidak menguntungkan, apalagi saat harga kebutuhan pokok cenderung naik, harga jual TBS malah anjlok,” kata petani asal Kecamatan Koto Baru, Jamil (53), Selasa (18/6).

Bahkan kata dia, harga TBS pada tingkat pengepul anjlok hingga Rp700 per kg saat dua hari menjelang Idul Fitri. Ia menjelaskan, pascalebaran harga TBS dibuka pada harga Rp850 per kg. Beberapa hari ini hanya menyentuh dan terus menetap di harga Rp950 per kg.

Menurut dia, rendahnya harga jual TBS tidak berbanding lurus dengan biaya produksi, seperti upah panen dan biaya pupuk yang dikeluarkan. “Misalnya saat panen dapat 1.000 kilogram atau satu ton, dikeluarkan upah panen Rp150, upah langsir Rp150 dan biaya pupuk Rp200, hanya sisa Rp500 untuk petani. Tentu ini menyulitkan kami masyarakat,” katanya.

Petani lainnya, Mukhlis (49) mengaku dengan harga TBS yang rendah tidak sesuai dengan keperluan kebutuhan pokok yang harganya tinggi saat ini. Ia berharap harga TBS kembali normal atau mencapai Rp1.500 per kg. Dengan demikian petani mendapat harga bersih Rp1.000 per kg. “Kalau Rp1.500 kan bisa bersih untuk petani Rp1.000, sementara Rp500 untuk biaya produksi hingga pupuk, dan lain-lain,” ungkapnya.

Sementara itu, Mansur (62) menyebutkan bahwa harga karet masih sangat rendah dibandingkan dengan sebulan sebelum lebaran.

“Harga karet sebelumnya lebaran Rp9.000 per kg dan sekarang masih bertahan di Rp5.000 per kg. Sedangkan harga beras dan cabai terus naik,” ujarnya dengan nada kesal.

Parahnya lagi, sambungnya, harga cabai saja sepuluh kali lipat harga karet. Sedangkan harga beras dua kali lipat harga karet per kilogramnya. “Ini sangat memberatkan bagi kami, yang mana sumber pendapatan kami, ya hanya dari karet dan sawit ,” tambahnya

Sebelumnya, harga cabai merah di tingkat pedagang di Pasar Tradisional Sikabau, Dharmasraya, masih tinggi mencapai Rp58 ribu per kg pascalebaran Idul Fitri 1440 Hijriah. Menurutnya harga pembelian bahan pangan tidak seimbang lagi dengan pendapatan petani sawit maupun petani karet. Pasalnya, kedua harga komoditi unggulan masyarakat itu, sudah mencapai penjualan terendah.

“Sejak pertengahan bulan puasa kemarin, sampai sekarang ini, penjualan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tidak bergerak dari Rp850/kg, sedangkan harga karet tidak bergeser dari Rp7.000/kg,” terang Andi Pitopang.

Melirik harga penjualan karet tentunya berbanding sepuluh kali lipat harga pembelian cabai, tambah Ia lagi. Disebutkan harga cabai merah saat ini mencapai Rp70 ribu /kg. Dengan mahalnya harga Sembako membuat masyarakat semakin menjerit. Apalagi kondisi sulit mencari pekerjaan saat ini. (g)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional