Menu

Pesta Demokrasi Kongres VI IKA Unand, Suharman N: Gagalnya Nilai Musyawarah Mufakat

  Dibaca : 112 kali
Pesta Demokrasi Kongres VI IKA Unand, Suharman N: Gagalnya Nilai Musyawarah Mufakat
Suharman Noerman Caketum IKA Unand

PADANG, METRO–Pesta demokrasi Kong­res VI IKA Unand sudah selesai Sabtu malam (7/8) sekitar pukul 19.00 WIB. Pimpinan sidang, Teddy Alfonso membacakan ke­pu­tusan hasil kongres, Ke­tua Umum IKA Unand ter­pilih adalah Dr (C) Rustian Apt, dan beberapa nama Mide Formatur dari bebe­rapa unsur.

Salah seorang Cake­tum IKA Unand, Suharman Noerman merasakan riuh-rendahnya suasana kong­res. ‘’Menjadi hal yang luar biasa, karena sebagai rasa memiliki (ownership) para anggota delegasi terhadap kualitas dan output kong­res itu nantinya,’’ ujarnya, saat dimintai komentarnya.

Kebimbangan para pe­serta dan pemilik sura (legal voters) pada kongres ini, kata Noerman, cukup terasa. Apakah kongres akan tetap memegang mu­syawarah mufakat untuk sebuah karpet merah, atau mulai logis untuk pada demokrasi ‘one man, one vote’. “Kongres akhirnya  mempertahankan one delegation one vote,” ujarnya.

Menurutnya, model-model kajian musyawarah dan vote yang masih ‘men­dua’ menandakan transfor­masi di IKA Unand masih belum berhasil sepenuh­nya terjadi. Itu menun­jukan kajian etik dan hake­kat demokrasi organisasi telah alpa dari bagian per­jalanan penting organisasi itu sendiri dari waktu ke waktu nantinya.

Hilangnya value kon­ten dan local wisdom yang substantif di Kongres IKA Unand adalah refleksi trans­formasi sistem de­mok­rasi sosial yang ‘ga­lau’, dari mengadopsi nilai barat (vote) dan atau tetap konsistensi pada nilai ke­timuran (musyawarah – mufakat).

“Kegigihan untuk mem­pertahankan nilai musya­warah untuk mufakat telah ditelan oleh ambisi dan pragmagtisme sebagian besar pemilik suara. Bah­kan, para caketum yang sedang menunjukkan pe­nga­ruhnya, terbukti meng­gadeng dua nilai. Yakni musyawarah untuk mu­fakat, dan akhirnya voting sebagai piranti pamungkas atau vote as total solution,” ungkap Noerman.

Sosok Rustian yang low profil, komunikatif, berasal dari birokrat sukses dan selalu menawarkan siner­gitas (kerjasama) merupa­kan daya tarik sendiri oleh para pemilik suara khusus dari (DPD, DPC) yang ada. Sehingga pada demokrasi berkiblat liberal tersebut berhasil menyabet 17 dari 35  suara sah atau hanya sekitar kurang dari se­paroh (48.57%)

Suara Rustian meng­geser tipis STH (Surya Tri Harto) yang sangat popular di kalangan IKA Alumni dengan kelamaan beliau mengabdi sebagai ketua harian.

Asumsi-asumsi analisis lebih dalam, disinyalir Rus­tian sudah membangun lobi dalam tema kolaborasi cukup lama, serta men­dapat tempat di hati para DPD/DPC yang sebagian berlatarbelakang dokter.

“Komunikasi ‘sinergi ke­profesian’ ternyata bisa mun­cul dalam hiruk-pikuk kong­res sebagai ikatan e­mo­sional yang logis, yang itu sesuatu yang normal, lum­rah terjadi,” ujar Noer­man.

Jadi, pada awalnya, pemilik suara memberi kesempatan kepada enam kandidat untuk musya­warah mufakat guna me­mutuskan  ketum empat tahun ke depan. Namun mereka tidak berhasil mem­buahkan hasil salah seorang ketum di antara mereka.

Hal ini, kata Noerman, memberi kesan para cake­tum gagal mengambil nilai inti musyawarah mufakat yang diberikan peserta kongres. Mayoritas cake­tum menganggap partisi­pasi dan kesukacitaan pe­serta kongres akan ada manakala mereka dapat memilih langsung (vote) pemimpin mereka.

Noerman menilai, pe­r­be­daan tiga suara Rustian dengan STH (17 vs 14 ) pada keterpilihan 48.57% meru­pakan titik kritis kepe­mim­pinan Rustian ke depan, jika ia gagal merangkul lima caketum lain khu­susnya  STH.

“Sebaliknya, Jo Rustian akan sukses sebagai na­kho­da baru jika potensi lima caketum dihimpun dalam konsep kerja guyub berbasis kompetensi keah­l­ian rivalnya tersebut. Ar­tinya, rivalitas sudah se­lesai dan kita hanya satu Unand,” ujarnya.

Kristalisasinya tentu dapat berbentuk mulai ber­diskusi tentang konsep ker­ja dan orientasi IKA Unand ke depan dalam spirit ’Inclusive, Transformative dan Innovative’.

Membangun dan me­nyem­purnakan visi misi pengurus baru nanti de­ngan mengawinkan bebe­rapa visi misi dari rivalnya, menjadi sebuah visi-misi ‘revisi’ ala Jo Rustian, mo­del struktur organisasi yang aplikatif, kabinet kerja ika Unand ala ‘Jo Rustian’.

‘’Kongres menyisakan sederatan agenda tunda penting (important pending matters) seperti AD/ART, GBHO dan Program Kerja yang masih harus disem­purnakan pada Kongres Luar biasa yang akan dila­kukan pengurus baru DPP IKA Unand dalam enam bulan ke depan. Jo Rustian tentu akan lebih arif dan bijaksana di sini. Semoga,’’ tutup Suharman Noerman. (fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional