Menu

Pertumbuhan Pelaku UMKM di Dharmasraya Meningkat Pesat

  Dibaca : 170 kali
Pertumbuhan Pelaku UMKM di Dharmasraya Meningkat Pesat
PROMOSI— CEO Keripik Tempe Tepung Sagu(TTS) Satria saat mempromosikan produknya kepada Sutan Riska Tuanku Kerajaan, beberapa waktu yang lalu.

DHARMASRAYA, METRO
Pertumbuhan terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Dharmasraya mengalami peningkatan cukup pesat sejak empat tahun terakhir. Berdasarkan data pertumbuhan pelaku UMKM oleh dinas terkait, hingga pertengahan 2020 populasinya sudah mencapai 10.017 pelaku usaha.

“Angka ini naik hampir dua kali lipat dari 2016 dengan populasi sebanyak 5.188 orang,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat, Andi Sumanto, Minggu (11/10).

Menurutnya, dari data tersebut lompatan pertumbuhan terbesar terjadi pada kurun 2017 hingga 2019. Yaitu, dengan kenaikan rata-rata mencapai 1.500 orang pelaku usaha. Kondisi tersebut, terlihat berbanding lurus dengan penurunan persentase jumlah penduduk miskin dengan acuan persentase terbaru sudah berada pada posisi 6,29 dari total jumlah penduduk atau lebih rendah dari persentase jumlah penduduk miskin secara nasional, yakni 9,22 persen.

Ia menambahkan, terkait peningkatan daya saing dunia usaha dan kelembagaan ekonomi masyarakat di daerah itu, hingga 2019 pelaku usaha mikro yang tercatat sudah naik kelas menjadi pelaku usaha kecil mencapai 34 persen. Atau naik sekitar 10 persen dari 2017.

Sementara itu terang Andi, persentase pelaku usaha Industri Kecil Menengah (IKM) dengan peningkatan omzet sudah berada pada posisi 6,62 persen atau naik sekitar 4 persen dari 2017 sebesar 2 persen.

“Seluruh kenaikan angka persentase tersebut tidak terlepas dari adanya stimulan dari unsur pemerintahan secara berjenjang melalui kucuran program baik yang didanai oleh APBD murni Dharmasraya hingga bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) pihak Kementerian terkait. Seperti peningkatan persentase pasar dalam kondisi baik yang saat ini sudah berada pada posisi 27,01 persen pada 2019,” pungkasnya.

Sementara itu, pemilik usaha Keripik Tempe Tepung Sagu (Keripik TTS), Satria (29) warga asal Jorong Koto, Kenagarian Koto Baru, Kecamatan Koto Baru mengakui mendapatkan kemudahan dalam mengurus peizinan dan pendampingan dalam mengurus usahanya ini.

“Sejak didirikan pada 2017 lalu, usaha ini menjadi pemasukan utama saya. Bahkan perhatian dinas terkait dan Bupati Sutan Riska menjadi motivasi bagi saya untuk mengembangkan usaha ini,” ujar Satria yang juga lulusan Sarjana Informatika UPI YPTK Padang itu.

Usaha ini sambungnya, ia mulai pada Desember 2017, sepulang dari mengajar di pondok pesantren. Ia mulai belajar cara membuat keripik ini melalui browsing internet dan awal-awalnya semuanya serba beli dulu, karena belum bisa buat tempenya.

Namun, lanjutnya, seiring berjalannya waktu, setelah berkoordinasi dan mendapatkan masukan dari Dinas Kumperindag Dharmasraya, banyak ilmu yang didapatkan.

“Saya beberapa kali mengikuti pelatihan yang dilaksanakan Dinas Kumperdag, bahkan keripik TTS telah ikut di pameran bazar yang digelar pemda, baik tingkat daerah maupun provinsi,” ungkapnya.

Saat ini terangnya, penjualan Keripik TTS Satria semakin berkembang. Dahulu, Satria harus menjual produknya dari satu toko ke toko lain. Sementara saat ini, ia tak perlu repot-repot mendatangi pembeli. Justru, pembeli yang mendatangi dapur produksinya.

Cara ini dianggap Satria lebih efisien karena dia bisa fokus memikirkan produksi. Satria membandrol Keripik TTS seharga Rp10 ribu per bungkus dan sekarang omzet penjualan saat ini lebih kurang Rp10 juta perbulan.

Satria menghimbau dan mengajak agar kaum milenial tidak takut untuk memulai usaha. “Selama masih ada kemauan dan semangat belajar yang tinggi, insha Allah usaha yang dibangun akan tercapai,” ujarnya. Saat ini, Satria juga mengembangkan usaha baru dengan nama Pisang Kipas Maican yang juga telah beredar di pasaran. (g)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional