Menu

Perkuat ABS-SBK, Selamatkan Generasi Muda, Bangkitkan Nilai-nilai Pendidikan Surau di Kabupaten Agam

  Dibaca : 55 kali
Perkuat ABS-SBK, Selamatkan Generasi Muda, Bangkitkan Nilai-nilai Pendidikan Surau di Kabupaten Agam
Generasi muda di Minangkabau, termasuk di Kabupaten Agam akan terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman. Konsekuensinya, pemahaman akan nilai-nilai dan falsafah Minangkabau kian melemah.

AGAM, METRO–Generasi muda di Minangkabau, termasuk di Kabupaten Agam akan terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman. Kon­sekuensinya, pemahaman akan nilai-nilai dan falsafah Minangkabau kian melemah. Jika pewarisan adat terputus, bukan tidak mungkin pula, generasi muda bakal kehilangan jati diri sebagai bagian dari entitas adat Minangkabau.

Khawatir akan hal ter­sebut, Bupati Agam Andri Warman  merasa perlu memintas sebelum ha­nyut, mencari sebelum hilang. Setidaknya terdapat tiga jurus jitu dalam membentuk generasi muda Agam yang berkarakter. Salah satunya program di bidang adat istiadat.

Itulah benang merah dari perbincangan Bupati Andri Warman  bersama Maestro Adat Minangkabau, Yus Dt. Parpatiah (kini bergelar Bandaro Bodi) di Jorong Nagari, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Jumat (11/9). Kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Agam ke kediaman tokoh adat Minangkabau itu guna mendiskusikan kekinian generasi muda. Pada kesempatan itu pula, bupati meminta sumbang saran seputar adat istiadat. “Hari ini kita berada di rumah buya Yus Dt. Parpatiah, kita minta pendapat dari beliau tentang bagaimana cara meningkatkan adat tradisi minang, khususnya di bidang adat istiadat di Kabupaten Agam,” ujar bupati.

Dijelaskan, sebagai kepala daerah untuk beberapa tahun ke depan, pihaknya telah merancang program-program ekstra ku­rikuler bagi pelajar yang notabene generasi muda. “Ada tiga program, pertama di bidang agama, kedua bidang adat istiadat, dan ketiga bidang bahasa Inggris,” ujar Andri.

Khusus bidang budaya, Pemkab Agam bakal menggandeng Yus Dt. Parpatiah sebagai tim ahli. Melalui pengalaman sang maestro, bupati berharap terjadi transfer pengetahuan adat istiadat kepada generasi penerus. “Pemkab Agam tengah menyusun tim sesuai keahlian, saya berharap supaya saya bisa masuk tim budayawan dan sekaligus menjadi mentor yang fokus mengenai tradisi dan adat istiadat,” pinta bupati.

Bak gayung bersambut, praktisi adat dan budaya dengan karya Pitaruah Ayah itu mengaku antusias dan bersedia mendukung program ekstrakurikuler Pemkab Agam, khususnya seputar kebudayaan. “Men­dengar garis besar gagasan beliau, sebagai orang nomor satu, saya pribadi sangat menyokong dan antusias sekali. Tentang kedepannya, saya sangat tertarik dengan pengalaman bapak bupati kembali ke kampung halaman dan tergugah hatinya untuk membangun kampung halaman,” ucapnya.

Menurutnya, pengalaman bupati di perantauan menjadi bekal tersendiri untuk melakukan pengabdian. Dirinya meyakini, motivasi bupati tiada lain selain membangun Kabupaten Agam menjadi lebih maju.

Dirinya menilai, ga­ga­san Bupati Agam sangat sejalan dengan apa yang telah ia lakukan. Dikatakan, ide membangun kampung halaman yang diusung bupati sesuai dengan niat yang ada di hatinya sejak beberapa kurun terakhir. “Apa yang menjadi ide beliau, juga sama dengan niat saya, saya pulang kampung dua tahun yang lalu, dengan tujuan yang sama, bahwa di sisa usia hendak­nya kita bisa mengabdi untuk kampung halaman. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” tuturnya.

Dalam hematnya, saat ini banyak perantau yang meninggalkan kampung. Namun, hanya sedikit yang kembali ke kampung. Ia menyebut demikianlah kon­disi real sekarang ini. “Untuk itu, kalau dipikir kembali, banyak bangkalai alun sudah, karangko alun tajadikan, ini adalah bang­kalai kito basamo-samo bukan hanyo pemerintah. kita harus serentak, seayun, selangkah memikirkan kampung,” jelasnya lagi.

Tentang adat istiadat, Yus Dt Parpatiah juga me­yakini terjadi persoalan yang sama hampir di seluruh Minangkabau. Saat ini, banyak generasi muda yang beradat dan berlimbaga namun tidak paham makna dan hakikat Minang itu sendiri. “Bangkalai (pekerjaan) kita sekarang adalah meminangkan orang minang. Jadi orang minang sudah, dimana punya suku, punya pusako tinggi, punya rumah gadang, punya penghulu, tapi bagaimana kriteria minang dan hakikatnya masih menjadi persoalan,” terangnya.

Dalam hematnya, tantangan kedepan sangat berat, terutama tentang fungsi ninik mamak dan lembaga adat. Dikatakan lembaga adat harus menjadi lembaga pembinaan tugas kerja ninik mamak dan perangkat adat. “Sebagaimana gagasan bapak bupati tentang membina generasi muda, juga harus dipersiapkan, sebab jika tidak ada yang memberi dan yang menerima, arti­nya pesan-pesan dan pe­warisan adat akan lenyap,” ulasnya.

Angku Yus Dt. Parpatiah juga menilai, generasi muda saat ini tidak bisa lagi beradat secara dogmatis. Ia melihat saat ini banyak yang cuma melaksanakan adat, namun hakikatnya tidak tahu. Untuk itu diperlukan semacam pengetahuan tentang hal tersebut. “Saya sangat prihatin dan khawatir, bagaimana generasi kedepan, kalau kita tidak memulai seka­rang mungkin minang tinggal nama saja. Akan terancam, kalau hanyuik nyo indak kito pinteh, hilangnyo indak kito cari. Kok talamunnyo kito kakeh, kok talipeknyo kito kambang, jadi kita harus bersama-sama, satukan pendapat, pola pikir dan bergerak,” ajaknya. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional