Close

Perjuangan Anak Tukang Sate dari Kuranji, Amrizal Rengganis Meniti Karir dari Jurnalis ke Birokrasi

Bersama staf proteksi kebakaran dinas Pemadam Kebakaran Padang

Amrizal Rengganis putra Kuranji Kelahiran 1973 ini adalah sosok pria pekerja keras dan ulet. Berangkat dari karir jurnalisnya dia pun bangkit memberi warna di Birokrasi pemerintahan Kota Padang. Saat ini menjabat sebagai Kabid Pengawasan di Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang. Air mata dan dan darah dalam meniti karir adalah hal yang biasa baginya. Sebab prinsip kuat dalam diri dan doa orang tua adalah hal utama baginya.

Amrizal Rengganis yang akrab disapa Bang Rengga ini bukanlah terlahir dari keluarga yang kaya. Tapi dia terlahir dari rahim seorang ibu yang berprofesi menjual sate di Kuranji dengan pendapatan yang seadanya. Sementara ayahnya adalah seorang pegawai tata usaha dengan golangan 1di SMA 5 Padang. Itu pun masuk sebagai pegawai tata usaha saat usianya sudah 45 tahun.

Sejak mulai sekolah, (SD Kuranji, SMP 10 Padang, SMA 5 Padang), Rengga sudah diajarkan bagaimana kerasnya hidup. Dia tak pernah malu meski harus berkeliling kampung menjual gorengan bila waktu libur sekolah. Tak jarang kawan seusianya membuli. Namun dia tetap teguh pada pendirian. Baginya, itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilalui. Kegiatan menjual gorengan itu dia lakoni hingga duduk bangku SMA.

Sejak SMA, potensi rengga sebagai penulis sudah mulai terlihat . Dia pun aktif sebagai penulis di Koran masuk Sekolah (KMS) Singgalang hingga tamat. Sehingga, saat itu rengga cukup dikenal dikalangan siswa maupun guru,karena rengga juga menerbitkan majalah Dinding di sekolahnya.

Mengerti dengan perasaian hidup. Rengga yakin, pendidikan adalah jalan utama menuju ke suksesan. Seberapa pun pedihnya kesedihan yang dirasakannya, Rengga tetap ingin melanjutkan sekolahnya. Selesai dari SMA 5 Padang, Rengga melanjutkan pendidikannya Sekolah Tinggi Sosial Politik (STI Sopol) Imam Bonjol Padang.

Pada saat menjadi mahasiswa, Rengga mulai melebarkan sayapnya dengan menjadi aktivis kampus. Dia pun mulai aktif di berbagai organisasi kampus. Pernah menjadi Ketua Senat mahasiswa. Aktif di KNPI Padang. Bahkan dia juga ikut dalam perjuangan mahasiswa tahun 1998. Selain itu, pada saat mahasiswa juga pernah mencalonkan diri maju sebagai calon legislatif dari Partai Golkar DPRD Padang.

Dengan keterbatasan ekonomi orang tua, selama kuliah Rengga harus mencari uang sendiri untuk kebutuhan biaya kuliah. Dia pun mulai aktif menulis di berbagai media. Honor dari tulisannya untuk kebutuhan hidup dan uang kuliah. Saat itu, Rengga pun mulai merasakan nikmatnya menjadi seorang jurnalis.

Untuk lebih mengasah ketajaman penanya, Rengga pun melamar menjadi wartawan Media Canang (1993). Berposko di Polresta Padang dan Polda Sumbar, setiap hari Rengga harus mengawal dan memberitakan setiap peristiwa yang ada disebelas Kecamatan di Kota Padang. Mengumpulkan dan mengolah data yang kuat menjadi kepuasan bagi Rengga saat beritanya diperbincangkan banyak orang.

Dengan tulisan-tulisannya yang tajam, Rengga pun mulai dikenal banyak orang. Baik di jajaran kepolisian maupun di pemerintahan. Sekitar lima tahun berposko di Kepolisian, rengga pun di geser menjadi wartawan politik dengan berposko di DPRD Padang, DPRD Sumbar,Balaikota Padang dan kantor gubernur.

Rengga yang dikenal sangat respon dengan rekan-rekan seprofesinya mulai mendapat perhatian di kalangan wartawan. Dia pun dipercaya sebagai ketua Forum wartawan DPRD Kota Padang. Itulah awal cikal bakal pembentukan organisasi wartawan di DPRD Padang. Selain itu, Rengga juga aktif diberbagai organisasi wartawan lainnya, Seperti di PWI Sumatera Barat (1996 sampai sekarang).

Bagi Rengga menjadi seorang Jurnalis itu selain tugas yang mulia, juga ibarat sebuah titian. Dengan karir Jurnalis rengga pun mulai melebarkan sayapnya ke karir birokrasi. Dengan tulisan-tulisannya yang dinilai positif oleh pemerintahan saat itu, Wali Kota Padang Zuien Rais yang juga mantan ketua PWI Sumbar meminta Rengga untuk membantunya. Dia pun tempatkan di Humas Dinas Perhubungan Kota Padang (2003) sebagai pegawai honorer.

Meski bekerja di Pemerintahan, namun jiwa idealis dan kritis seorang jurnalis tak hilang dalam diri Rengga. Bahkan dia juga sempat menjadi buah bibir di kalangan wartawan saat menentang kebijakan dari PWI Pusat saat Konfercab PWI sumbar ketika Basril Basar (BB) terpilih sebagai ketua PWI Sumbar, karena waktu itu Renggal menilai ketua PWI Pusat terlalu berpihak kepada salah satu calon ketua. Bahkan sempat viral di berbagai media, baik local maupun nasional.

Pada tahun 2005 Rengga pun dipindah tugaskan ke Sat Pol PP Padang, menjabat sebagai Humas Sat Pol PP Padang. Dengan posisi sebagai humas, membuat rengga semakin paham dengan tugas dan fungsi sebuah di instansi tempat dia bekerja. Di Sat Pol PP merupakan tempat tugas Rengga yang terlama. Ada sekitar 12 tahun. Bahkan, di situ jugalah dia diangkat dari honrer menjadi Pegawai Negeri Spil (PNS).

Sejak jadi PNS, Karir rengga mulai beranjak naik. Tahun 2013 dia pun diberikan kepercayaan oleh pimpinan sebagai Kasi Trantib Sat Pol PP Padang,. Ditahun yang sama, Rengga pun disekolahkan sebagai penyidik PPNS di Pusdik Bareskrim , Mega Mendung, Bogor. Usai pendidikan, Rengga pun dipercayakan sebagai Kasi Penyidik tahun 2014- 2016.

Salama 12 tahun mengabdi di Sat Pol PP, Rengga sempat nonjob selama lima bulan dan dipindahkan ke Dinas Pemadam Kebakaran dan diberikan posisi sebagai Humas. Namun, bagi rengga itu adalah yang biasa untuk mengevaluasi diri. Sebab jabatan menurtnya adalah amanah dari pimpinan.

Nonjobnya rengga ternyata tidak lama. Dengan loyalitas kepada pimpinan dan kinerja yang baik yang dilakukannya selama nonjob, rengga pun dipercayakan kembali menjabat sebagai Kasi Pencegahan di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang. Selain itu juga sebagai Plt Kabid Proteksi Dinas Pemadam Kebakaran.

Selama menjadi Plt kabid proteksi, Rengga pun mulai membenahi dan membuat terobosan terobosan baru untuk meningkatkan PAD Kota Padang dari Dinas Pemadam Kebakaran. Salah satunya menjalin Kerjasama dengan Polda Sumbar, Kejaksaan Tinggi sumbar dan BPK. Terobosan dan kerjasama ini adalah hal yang baru dan berhasil mendongkrak PAD.

Kerjasa sama keras bersama timnya, Rengga pun berhasil mencapai target PAD , bahkan melebihi dari target yang detatapkan. Dari target Rp 800 juta pada tahun 2017, Rengga dengan tim berhasil mendongkrak PAD hingga Rp 815 juta. Dengan Keberhasilan yang dicapainya, Walikota pun mengganjar dengan bonus satu unit mobil APV. Untuk Kenderaan operasional bidang Proteksi.

Dengan kerja keras dari Rengga, baru-baru ini ,pimpinan pun mempromosikannya ke Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang, diamanahkan sebagai Kabid pengawasan. Ke depan Rengga menargetkan pengawasan terhadap KJKS dan koperasi yang bermasalah dan mengawal dana bergulir dari pemerintah Kota Padang. (tin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top