Menu

Peresmian Pasa Ateh, “Saba Dalam Panantian”

  Dibaca : 1293 kali
Peresmian Pasa Ateh, “Saba Dalam Panantian”
SABA DALAM PANANTIAN— Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias berdialog dengan M Idris yang menganalogikan peresmian Pasa Ateh ibarat sebuah ”Saba Dalam Panantian”.

Oleh: Muhammad Nur Idris Sati Bagindo (Pemerhati Bukittinggi)
Kamis (18/6) sekitar pukul 14.30 WIB, Pasa Ateh yang terbakar pada 30 Oktober 2017, diresmikan secara virtual oleh Presiden RI melalui Menteri PUPR yang diwakili Wakil Menteri PUPR, Jhon Wempi Wetipo, secara daring.

Peresmian Pasa Ateh secara daring disaksikan Komisi V DPR-RI, Gubernur Sumbar, Walikota, Wakil Walikota, Ketua DPRD Bukittinggi, Unsur Forkompinda, Ninik Mamak dan masyarakat Bukittinggi. Dalam catatan sejarah, Pasa Ateh sudah empat kali mengalami kebakaran yakni; tahun 1972, 1995, 1997 dan terakhir tahun 2017.

Pasa Ateh mengaliri sejarah Bukittinggi, melintasi di tiga zaman berbeda; era kolonial Belanda, masa Jepang, dan masa kemerdekaan. Lebih dari sekadar menjadi lini ekonomi Bukittinggi, Pasa Ateh adalah harga diri orang Agam Tuo. Bukan sekedar orang Kurai saja. Pasa Ateh adalah hegemoni ekonomi masyarakat.

Pasa Ateh pertama kali terbakar pada tahun 1972. Presiden Soeharto langsung membangun ulang Pasa Ateh dan selesai dibangun pada tahun 1974. Dana yang digunakan untuk pembangunan kembali Pasa Ateh tersebut berasal dari pemerintah pusat. Dengan demikian sejak masa kemerdekaan Pasa Ateh tercatat sudah dua kali dibangun oleh pemerintah pusat, masa Presiden RI Ke-1 Soeharto dan Presiden Ke-7 Jokowi.

Pada kebakaran ketiga 1997, penulis ikut serta bersama pedagang Pusat Pertokoan Pedagang Pasa Ateh Bukittinggi (P4B), kala itu diketuai Yulius Rustam dan Young Happy bersama pedagang lain memperjuangkan aspirasi pedagang untuk merehab Pasa Ateh yang terbakar. Setelah melalui perjuangan panjang tanpa lelah disertai demo yang dilakukan puluhan kali, akhirnya Pemprov Sumbar menyetujui permohonan pedagang untuk merehab Pasa Ateh dengan biaya sepenuhnya dari APBD Sumbar, yang selesai dibangun tahun 1999.

Pada kebakaran keempat 2017, yang menghanguskan sekitar 790 petak toko yang dikenal dengan petak toko blok A, B, C, D dan petak tambahan Blok E dan Blok F serta ribuaan pedagang kaki lima yang berada di sekitar Pasa Ateh. Walau yang terbakar petak toko yang berada di lantai 2 dan lantai 3, namun pedagang mengalami kerugian ditaksir sekitar Rp1,5 triliun. Kasihan sekali pedagang saat itu.

Kebakaran tahun 2017, tidak hanya membuat panik masyarakat pedagang tapi juga membuat panik pemerintah daerah kepemimpinan Walikota Ramlan Nurmatias dan Irwandi yang baru berumur 2 tahun. Dana APBD kala itu, dipastikan tidak akan mampu untuk membangun Pasa Ateh yang terbakar, sementara pedagang butuh tempat berjualan.

Tidak larut dengan kepanikan dan kesedihan yang mendalam, Pemko Bukittinggi bergerak cepat memutuskan bangunan Pasa Ateh segera dibongkar dan dibangun baru. Dengan berbagai polemik dan konflik diambil langkah membuat penampungan pedagang, dengan meminta bantuan pemerintah Provinsi Sumbar dan berbagai BUMN. Pemko Bukittinggi segera menyampaikan persoalan tersebut ke pemerintahan pusat.

Pemerintah pusat memberikan perhatian khusus, melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden ke-12 beberapa hari setelah kejadian langsung turun meninjau Pasa Ateh. Dan segera berkoordinasi dengan menteri terkait untuk percepatan penanganan. Kerja keras Pemko Bukittinggi dengan bantuan tokoh-tokoh Minang di pusat, pemerintah pusat menyetujui pembangunan kembali Pasa Ateh dengan menggunakan dana APBN sebesar Rp 300 miliar.

Pada peresmian secara virtual itu pemerintah pusat melalui Direktur Bina Penataan Bangunan, Kementerian PUPR, Diana Kusumastuti menyebutkan, pembangunan bangunan Pasa Ateh menerapkan prinsip “Green Bulding” atau gedung hijau yang ramah lingkungan. Luas bangunan 39.720 M2 terdiri 4 lantai dan 1 basement dan 835 kios pedagang. Fasilitas tempat parker, toilet umum dan difabel, mushalla, ruangan ibu menyusui, area food court, area terbuka hijau, pakai lift dan escalator serta sarana proteksi kebakaran.

Penulis ikut hadir melihat peresmian secara virtual itu, walau tagak ditapi-tapi namun menyimak sambutan demi sambutan. Yang menarik, dalam pidato sambutan Walikota Ramlan tegas dan terang menyebutkan pembangunan ini dilakukan oleh pemerintah pusat dan biaya sepenuhnya dari pusat atas bantuan berbagai pihak.

Tak ada sepatah kata yang tegas menyatakan ini usaha dan kerja keras dirinya berdua dengan Irwandi sebagai Wako dan Wawako. Dirincinya nama-nama yang berjasa satu per satu untuk menyampaikan ucapan terima kasih. Cuma Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno menyampaikan pantun “Pisau belati ambil pengupas, asah dahulu agar tajam rata. Selamat menempati Pasar Atas, apresiasi tinggi buat bapak walikota”.

Setelah peresmian penulis mengingat-ingat proses peresmian dan kata sambutan pejabat satu persatu dalam peresmian Pasa Ateh itu. Ingat dengan lagu minang berjudul “Saba Dalam Penantian” yang dibawakan penyanyi Minang, Ovhi Firsty, saingan barek Ratu Sikumbang dan Rayola. Walaupun bait lagunya tak ada kaitan dengan Pasa Ateh, tapi judulnya Saba Dalam Panantian ini gambaran proses manunggu Pasa Ateh selesai.

Pembangunan Pasa Ateh yang megah ini jadi sejarah anak cucu nanti. Pasa Ateh memang dibangun dengan dana dan pemerintah pusat, tapi dikerjakan saat pemerintahan Nurmatis-Irwandi. Wajah keduanya kelihatan cerah dan lepas ketika keluar ruangan peresmian virtual. Inilah “Saba Dalam Penantian”. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional