Menu

Peranan Kepemimpinan Penghulu di Minangkabau dengan Kepemimpinan di Sekolah

  Dibaca : 275 kali
Peranan Kepemimpinan Penghulu di Minangkabau dengan Kepemimpinan di Sekolah
Dt. Putiah Nan Tuo Kepala SMPN 2 Bukittinggi

MASRINAL, S.Pd Dt. Putiah Nan Tuo Kepala SMPN 2 Bukittinggi

Semenjak manusia hidup berkelompok, mereka memer­lukan pengaturan kehidupan agar  tidak saling berebutan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Untuk itu salah seorang di antara anggota kelompok itu yang diperserahi dan bertindak sebagai pengatur atau yang menentukan tata cara hubungan antara manusia dalam kelompok tersebut , disinilah muncul yang dinamakan pemimpin.

Dalam masyarakat adat Mi­nang­kabau dikenal apa yang disebut dengan kaum (suku), dan setiap kaum itu dipimpin seorang penghulu (Datuk). Penghulu memimpin kaumnya dalam ni­lai-nilai dunia dan akhirat. Se­orang pemimpin menurut Adat Minangkabau, adalah seseorang yang didahulukan selangkah ditinggikan seranting.

Menjadi penghulu adalah orang yang mempunyai budi yang dalam bicaro yang halui, artinyo orang yang jadi penghulu itu mestinya dipilih oleh kaumnya laki-laki dan perempuan yang telah baligh berakal, adalah orang yang berbudi pekerti sopan santun, ramah tamah, rendah hati. Karena dia akan menjadi tauladan oleh anak-kemenakan yang dipimpinnya

Begitu juga pemimpin di se­kolah yang disebut degan kepala sekolah tentu juga tidak jauh berbeda dengan pemimpin pe­ngulu menurut adat minang­kabau yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah untuk menjalankan amanah yang dibe­rikan oleh pamarintah.

Kepala sekolah sebagai pe­mimpin lembaga pendidikan harus mampu melakukan mana­jemen kepemimpinannya de­ngan baik. Kesuksesan kepe­mimpinan kepala sekolah dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh factor-faktor yang dapat me­nunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apa­bila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipe­nga­ruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti mo­tivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manu­siawi.

Tugas kepemimpinan kepala sekolah tersebut akan berhasil dengan baik apabila seorang kepala sekolah memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepala sekolah akan tampak dalam proses di mana dia mampu mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain. Untuk keberhasilan dalam pencapaian tujuan sekolah diperlukan kepe­mimpinan kepala sekolah yang profesional, di mana ia mema­hami akan tugas dan kewaji­bannya sebagai seorang pe­mim­pin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin.

Dalam masyarakat adat mi­nang­kbau dikenal apa yang disebut dengan kaum (suku), dan setiap kaum itu dipimpin seorang penghulu (Datuk). Penghulu memimpin kaumnya dalam ni­lai-nilai dunia dan akhirat. Se­orang pemimpin menurut Adat Minangkabau, adalah seseorang yang didahulukan selangkah ditinggikan seranting, didahu­lukan selangkah jaraknya tung­kai-tungkai, salompek ambualah tibo, tingginyo jambo-jamboan sarangguik jamboalah sampai, artinya jarak antaro nan dipimpin dengan yang memimpin ha­nyolah selangkah atau seran­ting.

Tujuannya adalah agar an­tara yang dipimpin dengan yang memimpin terjalin hubungan baik secara lahir atau secara batin, sehingga apabila ada persoalan kok karuah kadi ja­niah­kan kok kusuik kadisa­lasai­kan dapat terlaksana dengan baik. Dan sebaliknya jika pe­mimpin tersebut tersesat atau salah dalam bertindak dapat pula diingatkan oleh anak kema­nakan, kok lupo-lupo maingekan takalok-kalok manjagokan. Dan pemimpin itu harus selalu ber­tindak adil. Meimbang samo barek, maukua samo panjang, kok mauji samo merah.

Diharapkan terjauh dari sifat-sifat, pangguntiang dalam li­patan, panuhuak kawan sairing, panahan jarek dimuko pintu, palakak kuciang di dapua, mako itulah yang dimaksud baju pang­hulu indak basaku kiri,kanan yaitu indak buliah KKN. Pemimpin itu harus babuek baik dan melarang babuek mungkar, kok bajalan, bajalanlah dinan luruih, kok kabakato bakatolah dinan bana, jikok tagak, tagaklah dinan data. Jikok bajalan indak lai luruih, bakato indal lai dinan bana, tagak indak lai dinan data, silah­kan angku bagajua suruik ba­nyak nan lain kagantinyo, bai­baratkan bunyi buah pantun

Patitiah pamenan andai

Gurindam pamenan kato

Jadi pemimpin kok indak pandai

Kampuang kusuik nagari kan bi

Penghulu sewaktu akan di­ang­kat atau akan dinobatkan jadi penghulu harus mengucapkan sumpah yang berbunyi, yaitu kateh indak ba pucuak kabawah indak ba urek dan ditangah-tangah digiriak kumbang. Ar­tinya menurut Adat basandi syarak, syarak basandi kita­bullah adalah jika seorang pe­mimpin atau penghulu yang diangkat tadi tidak dapat melak­sanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan apa yang semes­tinya, maka yang pertama putus hubungannya dengan Allah kare­na dia tidak memper­tang­gung­jawabkan kempemimpinnya, yang kedua putus hubungan dengan masyarakat yang dia pimpin karena dia tidak dapat memenuhi harapan dari pada masyarakatnya sendiri, yang ketiga dia tidak dihargai oleh pemimpin lainnya dan tidak dibawa duduak samo randah dan tagak samo tinggi disebab­kan dia tidak menjalankan tu­gasnya menurut mestinya.

Dalam pengertian adat mi­nang­kabau penghulu itu dibang­sokan kepada tiga macam yaitu:

  1. Dibangsokan kapado syara’

Para alim ulama yang me­mimpin umat untuk kepentingan hidup dunia dan di akhirat me­nurut syara’, ia juga disebut sebagai penghulu.  Menurt hadist Nabi Muhammad SAW berbunyi: Yang artinya “Orang-orang yang memimpin akan kaumnya untuk kepentingan di dunia dan akhirat, maka orang tersebut adalah penghulu.

  1. Dibangsokan kapado hindu sansekerta

Penghulu adalah semua pe­mimpin-pemimpin masyarakat dan negara, dari terendah sam­pai yang tertinggi, mereka dise­but sebagai penghulu. Kedu­dukan penghulu ditiap nagari tidak sama. Ada nagari yang penghulunya mempunyai kedu­dukan yang setingkat dan se­derjat, yang dalam pepatah adat disebutkan: Duduak samo ran­dah tagak samo tinggi. Sebalik­nya ada pula nagari yang kedu­dukan penghulunya bertingkat-tingkat, yang didalam pepatah adat disebut: Bajanjang naik batanggo turun.

  1. Dibangsokan kapado adat alam Minangkabau

Ialah urang nan dianjunag tinggi diamba gadang, nan tajadi dek kato mufakat, dalam ling­kungan cupak adat, nan sa­payung sapatagak. Dalam ling­kungan soko turun temurun, pusako jawek bajawek. Yang berkewajiban memimpin anak-kemenakan dan masyarakat, manuruik alua nan luruih, ma­nampuah jalan nan pasa, ma­maliaharo harto pusako. Kusuik nan kamanyalasaikan, kok ka­ruah nan kamanjaniahkan, taka­lok manjagokan, lupo maingek­kan, panjang nan kamangarek, singkek nan kamauleh, senteng nan kamambilai. Penghulu itu adalah orang yang diangkat oleh ahli waris dalam kaumnya untuk menjabat gelar penghulu (soko) kaum tersebut dengan kata mufakat. Dan orang yang telah terpilih untuk menjabat pangkat penghulu di Mingkabau dipanggil Datuk, setelah memenuhi per­syaratan menurut adat yang berlaku dalam daerah setempat, dan seluruh anggota kaum (ahli waris) serta orang lain mema­tuhi segala perintah, dan me­ninggalkan segala larangan yang telah dilarang oleh seorang penghulu.

Kayu gadang di tangah pa­dang

Tampek balinduang kapa­nehan

Tampek bataduah kahujanan

Urek tampek baselo

Batangnyo tampek basanda

Pai tampek batanyo

Pulang tampek babarito

Biang nan akan mana­buak­kan

Gantian nan akan mamu­tuihkan

Tampek mangadu sasak jo sampik.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemimpin pada hakikatnya ada­lah seorang yang mempunyai kemampuan untuk meme­pe­ngaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan meng­gunakan kekuasaan. Da­lam ke­giatannya bahwa pemim­pin me­miliki kekuasaan untuk me­ngerahkan dan mempe­nga­ru­hi bawahannya sehubungan de­ngan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah sangatlah berpengaruh terha­dap peningkatan kemajuan­seko­lah di segalabidang. Dalam hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dan warga­­seko­lahdapat di simpulkan sebagai berikut:

  1. Kompetensi ke­palase­kolah merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang ke­palasekolahdalam melak­sa­na­kan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan.
  2. Kompetensi kepala­se­ko­lah terdiri dari kompe­ten­simanejerial, kopetensi social, kopetensisupervii, kope­tensi­keperbadian, kopete­n­sipro­pi­sional.
  3. Sejalan dengan tan­ta­ngan kehidupan global, peran dan tanggung jawab kepala­sekolah pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehing­ga menuntut kepalasekolah untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan pe­nye­suaian penguasaan kompe­tensinya.
  4. Kepala sekolah memi­liki peranan yang strategis dalam rangka meningkatkan kom­pe­tensi guru, baik sebagai educator (pendidik), manajer, administrator, supervisor, leader (pe­mimpin), pencipta iklim kerja maupun sebagai wirausahawan.
  5. Seberapa jauh kepala sekolah dapat mengoptimalkan segenap peran yang diem­ban­nya, secara langsung maupun tidak langsung dapat mem­berikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, dan pada gilirannya dapat mem­bawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Dalam masyarakat adat Mi­nangkabau dikenal apa yang disebut dengan kaum (suku), dan setiap kaum itu dipimpin seorang penghulu (Datuk). Penghulu memimpin kaumnya dalam ni­lai-nilai dunia dan akhirat. Se­orang pemimpin menurut Adat Minangkabau, adalah seseorang yang didahulukan selangkah ditinggikan seranting.artinynya seorang pengulu itu boleh dika­takan tidak terlalu jarak dengan kaumnya dalam urusan apa saja yang terjadi terhadap anak kemenakan maka dikatakan sebagai mamak atau pengulu anak dipangku kamanakan dibi­bing kok siang dijaliak jaliakan kok malam di danga dangakan urang kampuang di pate­ngang­kan.(**)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional