Close

Penuntutan Pidana Dihentikan Melalui Justice Restoratif

SERAHKAN— Kacapjari usai menyerahkan SKPP kepada Pelaku dan memberikan BB kepada korban.

payakumbuah,metro–Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, menyerahkan Surat Keterangan Penghentian Penuntutan (SKPP) terhadap pelaku tindak pidana pencurian Handphone, Jumat (14/1) pagi.  Pertama kali terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota, perkara pidana (Pen­curian.red) di wilayah kerja Kejaksaan Negeri Payakumbuh Cabang Suliki berakhir dengan penyelesaian di luar pengadilan berdasarkan prinsip Justice Restoratif atau Keadilan Restorasi, Dimana tujuannya bukan untuk pembalasan atau pemberian derita kepada si pelaku.

Pelaku, MY (17) warga Kecamatan Guguak Kabupaten Limapuluh Kota, ia sebelumnya ditangkap apa­­rat Kepolisian dari Pol­sek Guguak karena diduga me­la­kukan pencurian Hand­pho­ne milik korban M pada De­sember tahun 2021 di sebuah rumah di Jorong Tiakar Nagari Guguak VIII Koto.

Setelah melalui serangkaian proses, MY yang tak lagi memiliki ibu dan hanya tinggal bersama kakeknya itu, kini bisa kembali berkumpul bersama kakek tercinta, ia tidak lagi akan di bui karena perbuatan me­la­kukan pencurian itu. Proses pulang kerumah itu, di­tandai dengan penyerahan Surat Keterangan Peng­hen­­tian Penuntutan (SKPP) oleh Kacapjari Suliki kepada pelaku dan Barang Bukti kepada korban pencurian.

“Iya, setelah melalui serangkaian proses, hingga disetujui oleh Kajari Sumbar dan Jaksa Agung Tindak Pidana Umum, pe­nun­tutan terhadap pelaku MR resmi dihentikan, hal ini ditandai dengan penyerahan SKKP dan Barang Bukti kepada korban,” sebut Kacapjari Suliki, Ridwan didampingi Kasubsi PIDUM dan PIDSUS, Halan.

Ridwan juga menambahkan, Justice Restoratif atau Keadilan Restorasi ini, merupakan yang pertama kali untuk Kabupaten Lima­puluh Kota, terutama dilingkungan Cabjari Suliki. Sejumlah persyaratan ha­rus dipenuhi agar pelaku bisa mendapatkan Justice Restoratif ini.

“ Yang persyaratan pertama yang harus penuhi agar bisa Justice Res­toratif atau Keadilan Restorasi adalah korban mau berdamai, pelaku baru per­tama melakukan tindak pi­dana, nilai kerugian diba­wah 2,5 juta serta men­da­pat­kan respon positif dari masyarakat,” tambahnya.

Untuk perkara yang dialami MY, menurut Kacapjari mendapatkan respon baik dari korban dan ma­sya­rakat, apalagi kondisi sosial dan psikologis pelaku yang telah ditinggal ibu. “Masyarakat sangat respon terhadap kondisi MR, sehingga perwakilan ma­syarakat/jorong dari Nagari Pelaku maupun korban juga ikut saat kegiatan ini. Kita juga berterima kasih atas bimbingan Kajari, Kajati, serta Jaksa Agung Tindak Pidana Umum sehingga proses ini berjalan dengan baik,” tutupnya.

Sementara Wali Jorong Balai Mansiro, Buyuang Aya atas nama pihak keluarga dan masyarakat mengucapkan terima kasih de­ngan penghentian penuntutan melalui Justice Res­to­ratif atau Keadilan Restorasi, sehingga anak kemenakan mereka bisa kem­­­bali berkumpul ditengah keluarga dan masya­ra­­kat, ia menyebutkan akan kembali melakukan pembinaan secara maksimal, sehingga MR tidak mengulang perbuatannya lagi dan bisa diterima oleh masyarakat.

“ Terima kasih pak Kacapjari dan semua unsur yang telah membantu sehingga anak kemenakan kami bisa kembali berkumpul dengan pihak keluarga, semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua, kami akan melakukan pembinaan kepada MY agar ia bisa diterima dengan baik oleh masyarakat,” ucapnya. (uus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top