Close

Pengurus Masjid Diminta Terapkan Prokes Ketat, Khutbah Shalat Idul Adha Maksimal 15 Menit di Kota Padang

Hendri Septa

AGUS SALIM, METRO–Wali Kota Padang Hendri Septa meminta semua khatib yang akan memberikan kut­bah pada saat shalat Idul Adha agar memberikan kut­bah singkat maksimal 15 me­nit. Hal ini dimaksudkan agar jamaah bisa segera bubar dan pulang ke rumah masing-masing lebih cepat.

“Kita minta semua khatib shalat Idul Adha nanti agar memberikan kutbah maksimal 15 menit. Ini agar prosesi shalat Ied lebih cepat sele­sai, dan menghindari keru­munan lebih lama,” kata Wali Kota Padang Hendri Septa, Jumat (16/7).

Ia menyebutkan,  ideal­nya penerapan Pem­ber­lakuan Pembatasan Kegia­tan Masyarakat (PPKM) darurat. tidak dibolehkan melaksanakan kegiatan ibadah beramai-ramai di tempat ibadah. Namun Pemko Padang pasang ba­dan kini membolehkan pe­laksanaan shalat Idul Adha, dengan syarat harus dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Dari deretan daerah yang lagi menerapkan PPKM Darurat, cuma Kota Padang yang mem­boleh­kan. Sebenarnya tidak dibo­lehkan. Tapi berdasarkan kebijakan kita bersama MUI dan tim terpadu, kita mengizinkannya. Tapi ma­syarakat kita wanti-wanti agar mematuhi protokol kesehatan,” tandasnya.

Menurutnya, masya­rakat hanya boleh mela­kukan shalat Idul Adha di masjid sekitar rumah ma­sing-masing. Shalat tidak boleh jauh-jauh, karena berbahaya. Di samping itu, pengurus masjid juga di­minta agar menertibkan ja­maah agar pakai masker, me­ngatur jarak  saat di mas­jid serta mencuci tangan.

Tak hanya itu, pada saat penyembelihan he­wan kur­ban, masyarakat diha­rap­kan tidak melihat pros­esi­nya. Panitia me­lakukan pe­nyembelihan dan ke­mudian mengan­tarkan langsung dagingnya pada warga yang mene­rimanya.

“Masyarakat tak boleh melihat prosesinya. Tung­gu saja daging kurbannya di rumah. Panitia tolonga antar­kan,” tandas Hendri Septa.

Untuk diketahui Ke­men­­terian Agama menegaskan bahwa shalat Idul Adha yang jatuh pada 20 Juli 2021 dilarang digelar di daerah dengan status Pem­ber­lakuan Pembatasan Kegia­tan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Ker­u­kunan Umat Bera­gama, Ishfah Abidal Aziz me­ngatakan hal itu telah diatur dalam Surat Edaran (SE) Menteri Agama No­mor 17 Tahun 2021 tentang Peniadaan Sementara Pe­ri­badatan di Tempat Iba­dah, Malam Takbiran, Salat Idul Adha, dan Petunjuk Teknis Pelak­sanaan Qur­ban 1442 H di Wilayah PPKM Darurat.

Dalam SE itu dise­but­kan, shalat Idul Adha yang dilaksanakan di masjid, mushala ataupun di lapa­ngan atau di tempat-tem­pat ibadah Islam untuk daerah yang masuk pada PPKM Darurat maka di­tiadakan penyelengga­ra­an­nya atau daerah-daerah yang masuk zona merah atau oranye.

Sementara untuk dae­rah zona hijau dan kuning masih bisa menggelar sha­lat Idul Adha dengan ke­tentuan maksimal 50 per­sen jamaah yang da­tang dengan protokol kese­hatan ketat. “Itu pun harus me­menuhi ketentuan-ke­ten­tuan dan aturan-atu­ran bagaimana protokol kese­hatan itu dapat dilak­sa­nakan secara ketat dan disiplin, itu yang pokok terkait dengan pelaksa­naan shalat Idul Adha,” jelasnya.

Kemudian, terkait pe­nyembelihan hewan kur­ban, menurut Ishfah tidak boleh dilakukan setelah shalat Idul Adha, melain­kan harus digelar sehari setelahnya, untuk mengu­rangi potensi kerumunan.

Penyelenggaraan atau penyembelihan kurban itu dimulai pada sehari se­telahnya yaitu tanggal 11 zulhijah 12 zulhijah dan 13 zulhijah.

Pemotongan hewan kur­ban juga harus diupayakan dilakukan di rumah potong hewan, agar tidak terjadi kerumunan di masjid.

Pembagian daging kur­ban pun tidak boleh dila­kukan dengan sistem ku­pon, melainkan dibagi satu per satu ke rumah warga, warga diharapkan me­nung­gu saja di rumah tak perlu berkerumun me­nung­gu daging kurban. (tin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top