Close

Pengelolaan Logistik Obat untuk Masyarakat di Pedesaan saat Pandemi

Oleh: Agnes Rosalina Sinurat, Annisa Yolanda, Atri Karmelia, dan Ifmaily
(Prodi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas Perintis Indonesia Padang)

BANYAKNYA masya­rakat yang belum mendapatkan pengobatan yang essesial dikarenakan harga yang tidak terjangkau, kurangnya akses terhadap obat-obatan akibatnya ku­rangnya pasokan obat-obatan. Masalah keku­ra­ng­an pasokan obat juga dapat disebabkan oleh peristiwa geopolitik yang luar biasa seperti Covid 19. Pandemi Covid 19 belum menghambat produksi dan pengiriman obat-obatan pada kuadral pertama ta­hun 2020, meskipun pada bulan-bulan selanjutnya pengiriman bahan kimia mulai melambat dan cada­ngan persediaan mulai berkurang.

Manajemen farmasi memiliki keterkaitan dengan prinsip pengelolaan logistik obat. Logistik obat harus dijaga sehingga semua aspek dalam penge­lolaan obat selaras, serasi dan seimbang. Ketersediaan obat pada saat masa pandemi menjadi tuntutan pelayanan kesehatan terutama untuk wilayah pe­desaan yang sulit untuk dijangkau.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pengelolaan obat yaitu kebutuhan masyarakat setempat de­ng­an jumlah stok obat yang ada. Apabila tenaga kesehatan tidak mampu untuk merencanakan dan melaksanakan manajemen pe­nge­lolaan obat yang baik maka tidak terjadinya keberhasilan dalam meme­nuhi kebutuhan masya­rakat.

Tujuan penulisan artikel ini yaitu memberikan gambaran kepada tenaga kesehatan ataupun masyarakat bagaimana pengelolaan logistik obat pada masya­rakat pedesaan pada masa pandemi saat ini.

Manfaat penelitian, me­ngetahui gambaran pe­ngelolaan logistik obat dan faktor yang memepenga­ruhi terhambatnya persediaan obat di pedesaan selama masa pandemi.

Sasaran penulisan artikel ini bagi tenaga kesehatan di pedesaan maupun daerah lain bagaimana gambaran pengelolaan obat yang terjadi di pede­saan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang terinfeksi Corona Virus 2019 (Covid 19). Penyakit Covid 19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut corona virus 2 (SARS-Co­V-2). Hingga saat ini Indonesia mengalami peningkatan dengan jumlah pasien penderita Covid 19 yang terus meningkat. Covid 19 memberikan dampak yang buruk baik dari perekonomian, sosial terutama pada dampak kesehatan.

Sehingga pelaksanaan dalam penanggulangan bidang kesehatan harus lebih fokus untuk penanganan Covid 19.

Penanggulangan bi­dang kesehataan erat hu­bungannya dalam upaya penyembuhan dan penge­lolaan ketersediaan obat. Permasalahan yang ba­nyak terjadi di Indonesia yaitu bagi masyarakat pe­desaaan dengan kondisi yang buruk seperti akses transportasi dan akses komunikasi yang terbatas mengakibatkan terganggunya pengiriman obat yang mengakibatkan tidak efektifnya ketersediaan obat bagi mereka.

Keterbatasan obat akibat banyaknya permintaan juga mengakibatkan pe­nge­lolaan harus lebih di perhatikan di masa pandemi saat ini. Salah satu contoh ialah banyaknya permintaan obat dan vitamin dengan lonjakan yang signifikan karena obat-obatan dan vitamin menjadi andalan masyarakat untuk menjaga kesehatan di teng­ah masa pandemi. Keterbatasan impor yang dialami akibat adanya program pemerintah seperti lockdown dan PPKM pada saat ini mengakibatkan keterbatasan impor bahan baku dasar pembuatan obat.

Keterbatasan pengetahuan dan budaya yang terjadi pada masyarakat pedesaan juga menjadi faktor utama dalam penge­lolaan logistik obat. Beberapa pedesaan di Indonesia pada saat pandemi lebih memilih untuk menggu­nakan obat tradisional sebagai alternatif dikarenakan sumber informasi me­nge­nai obat yang kurang dan keterbatasan persediaan obat.

Metode pengumpulan data dengan metode dekriptif yaitu penggambaran bagaimana pengelolaan logistik obat. Data sekun­der diperoleh dengan melihat dokumen yang berkaitan dengan penelitian pada logistik instalasi farmasi rumah sakit studi dan beserta dokumen lain.

Solusi yang dapat dilakukan untuk pengelolaan logistik obat dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini.

Pertama, perencanaan merupakan kegiatan da­lam menentukkan jumlah dan periode dalam penga­daan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai sesuai de­ng­an hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu, dan efisien. Dengan adanya perencanaan sediaan obat di pedesaan diharapkan mampu menga­tasi kebutuhan masya­rakat sekitarnya.

Kedua, pengadaan o­bat. Pengadaan adalah suatu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan obat sesuai dengan kebutuhan operasional yang telah ditetapkan di dalam pro­ses perencanaan. Pengadaan obat juga harus memperhatikan tiga hal utama yai­tu sesuai perencanaan yang ditetapkan sebelumnya, sesuai dengan kemampuan dan sesuai de­ng­an sistema yang mendu­kung pada daerah pe­desaan.

Ketiga, penerimaan dan penyimpanan obat.

Penerimaan adalah ke­giatan untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tercantum dalam kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Penyimpanan obat yaitu kegiatan sete­lah barang diterima oleh peyedia layanan kefarmasian sebelum dilakukan pendistribusian obat.

Keempat pendistribusian obat. Pendistribusian merupakan suatu rangkaian dalam rangka meny­a­lurkan sediaan farmasi, alat kesehatan, dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan atau pasien dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, ketepatan waktu.

Kelima pemusnahan obat. Pemusnahan dilakukan untuk sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai bila produk tidak memenuhi persyaratan mutu, produk telah kadaluwarsa, produk tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan, produk tersebut dicabut izin edarnya.

Keenam encatatan dan pelaporan. Adminisitrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan guna memudahkan pene­lu­suran kegiatan yang su­dah berlalu. Salah satu kegiatan administrasi yakni pencatatan dan pelaporan. Manajemen obat me­rupakan kemampuan dari rumah sakit untuk mengoptimalkan dalam penggu­naan obat. Manajemen obat dengan syarat lima ketepatan yakni tepat pro­duk, tepat pasien, tepat waktu, tepat penggunaan dan tepat jumlah dapat menjamin keselamatan pasien. Ketepatan tersebut juga didampingi dengan tepat komunikasi, tepat alasan dan tepat pendokumentasian.

Kesimpulan dalam artikel ini yaitu dengan kea­daan pedesaan yang memiliki keterbatasan baik transportasi dan komunikasi diperlukan strategi dalam pengelolaan logistik obat diantaranya perencanaan, penyimpanan dan pencatatan serta pelaporan terhadap pengelolaan persediaan obat.

Saran yang diberikan penulis yaitu diharapkan penyedia layanan kesehatan di pedesaan lebih di­perhatikan untuk peningkatan kualitas hidup ma­sya­rakat pada masa pandemi yang dialami saat ini. (*)

Referensi:

  •  De Weerdt E, Simoens S, Hombroeckx L, Casteels M, Huys I. 2015. Causes of Drug Shortages in the Legal Pharmaceutical Fra­mewrk. Regulatory Toxicology and Pharmacology 71, 215-8.
  1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan.
  2. Shah A, Kashyap R, Tosh P, Sampathkumar P, O’­Horo JC. 2020. Guide to Understanding the 2019 Novel Coronavirus. Mayo Clin Proc. 95(4)646-652.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top