Menu

Pengasuh Pesantren DPO, Terkait Kasus Sodomi 3 Santri, Pelaku Diduga Kabur ke Luar Sumbar

  Dibaca : 575 kali
Pengasuh Pesantren DPO, Terkait Kasus Sodomi 3 Santri, Pelaku Diduga Kabur ke Luar Sumbar
PASANG GARIS POLISI— Penyidik Polres Solok Arosuka memasang garis polisi di salah satu kamar di Pondok Pesantren M Natsir, Alahan Panjang, yang menjadi TKP sodomi.

SOLOK, METRO–Salah seorang oknum pengasuh Pondok Pesantren M Natsir, Alahan Panjang, Kabupaten Solok yang tega melakukan sodomi terhadap santrinya dengan modus meminjamkan gadget untuk bermain game online, diduga sudah melarikan diri ke luar Provinsi Sumatra Barat (Sumbar).

Kini, Polsres Solok Arosuka yang menangani kasus itu sudah menetapkan oknum pengasuh berinisial MS (29) itu dalam daftar pencarian orang (DPO) alias jadi buronan. Polisi pun masih terus melacak keberadaan pelaku MS yang sudah menyodomi tiga anak tersebut.

“Pelaku MS diduga melarikan diri ke luar Sumbar usai melakukan aksi bejatnya kepada santrinya sendiri. Masih kita selidiki keberadaan yang bersangkutan,” kata Kasat Reskrim Polres Asrosuka, Kabupaten Solok, Iptu Rifki Yudha Ersanda, Rabu (16/6).

Dijelaskan Iptu Rifki, pelaku MS diduga kabur sebelum pihak keluarga korban melapor ke Polres, sehingga pelaku langsung kabur karena takut akan ditangkap dan tidak ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kasusnya ini dilaporkan pada Kamis (27/5). Sedangkan MS dikabarkan sudah pergi sejak Senin (24/5).

“Perbuatan sodomi itu dilakukan pelaku dalam sebuah kamar di area pesantren. Korban perbuatan MS tidak hanya satu orang. Sementara dari hasil penyelidikan, korban yang pasti ada tiga orang,” ungkap Iptu Rifki yang sempat menyebut jumlah korban kemungkinan saja bisa bertambah.

Menurut informasi, tersangka MS baru saja membeli sebuah gadget jenis tablet. Dia kemudian merayu para korban dengan membiarkan mereka bermain menggunakan tablet tersebut, dengan syarat bersedia menjadi pelampiasan nafsu bejat tersangka.

“Dalam menjalankan aksinya, MS membujuk para korban bermain game online di gawainya. Dibujuk dengan main game online. Anak-anak ini dibawa ke kamarnya lalu pelaku mencabuli tiga korbannya tersebut. Tiga korban merupakan anak dari warga yang tinggal di sekitar lingkungan asrama pondok pesantren. Ketiganya pun sudah melakukan tes visum et repertum,” ujar Iptu Rifki.

Sebelumnya, salah seorang oknum pengasuh pondok pesantren M Natsir, Alahan Panjang, Kabupaten Solok dilaporkan ke Mapolres Solok Arosuka oleh keluarga santri atas kasus pencabulan. Mirisnya, korban dari perbuatan bejat oknum pengasuh pesantren itu berjumlah tiga orang yang merupakan santri laki-laki yang disodomi terduga pelaku.

Kapolres Solok Arosuka, AKBP Azhar Nugroho melalui Kasat Reskrim Iptu Rifky Yudha Ersanda mengungkapkan sejauh ini petugas telah memeriksa tiga orang santri laki laki yang diduga menjadi korban tindak pencabulan berupa sodomi oleh salah seorang oknum pengasuh pondok pesantren. Dan tidak tertutup kemungkinan jumlah korban bertambah.

“Benar ada laporan dari pihak keluarga korban. Dari laporan sementara baru tiga orang korban yang telah dimintai keterangan dan kita masih mendalami kasus dugaan pencabulan berupa tindakan sodomi terhadap para santri pondok pesantren M Natsir Alahan Panjang,” kata Rifky.

Dijelaskan Rifky, terungkapnya kasus ini terungkap berawal dari salah seorang korban yang merasa sakit ketika buang air besar. Kemudian, pihak keluarga curiga dengan kondisi korban. Meski awalnya korban menolak bercerita, setelah didesak, korban pun akhirnya mau menceritakan apa yang telah dialaminya di pesantresn tersebut.

“Informasi korban awalnya merasa sakit saat BAB, ditanya pihak keluarga ternyata ada tindakan pelecahan seksual. Dengan dasar itu, keluarga korban membuat laporan. Hasil pemeriksaan sementara tindakan pelecehan seksual dilakukan terduga pelaku di lingkungan pondok pesantren,” ungkap Rifky.

Rifky menuturkan, awalnya, korban yang memang sudah mengenal dekat pelaku, diajak oleh pelaku masuk ke dalam salah satu ruangan. Karena yang mengajak merupakan pengasuhnya, korban manut dan tidak menaruh curiga.

Didalam ruangan itu, pelaku berusaha merayu korban dengan mengiming iming akan dipinjamkan smartphone untuk bermain game. Korban yang tidak sadar akan menjadi pelampiasan nafsu bejat pelaku kembali hanya menurut saja. Merasa mendapat kesempatan, pelaku terus mendekati korban hingga terjadi tindakan sodomi.

“Setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku meminta korban untuk tidak bercerita kepada siapapun. Karena takut, korban memang tidak menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya kepada siapapun. Situasi itu justru membuat pelaku merasa aman dan terus mengincar santri lain untuk dijadikan korban pelampiasan nafsu bejatnya,” ujar Rifky.

Ditabahkan Rifky, orang tua korban curiga awalnya ketika salah seorang korban tengah bermain dengan teman sebayanya. Ketika bermain itu, teman korban mengatakan akan membuka rahasia korban kalau korban tidak mau ikut bermain dengannya. Namun, ucapan teman korban itu didengar oleh orang tua korban sehingga orang tua korban menaruh curiga.

“Apalagi korban memang sering mengeluh sakit di bagian duburnya saat buang air besar. Rasa curiga itu membuat orang tua korban terus mencari tahu apa yang telah terjadi terhadap anaknya. Mendengar pengakuan anaknya, orang tua korban kaget dan langsung melaporkan kejadian itu kepada petugas di Mapolres Solok Arosuka pada tanggal 27 Mai lalu,” kata Rifky.

Namun sayang, pelaku yang merupakan oknum pengasuh dipondok pesantren dimana korban seharusnya belajar agama, keburu kabur dan menghilang sebelum petugas datang. Hingga saat ini selain mendalami kasus tindak asusila dengan mengumpulkan keterangan korban dan sejumlah saksi, petugas juga memburu keberadaan pelaku. (vko)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional