Menu

Pendidikan Surau-Lapau, Bisa Terintegrasi dengan Pendidikan Formal

  Dibaca : 48 kali
Pendidikan Surau-Lapau, Bisa Terintegrasi dengan Pendidikan Formal
RESMIKAN—Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah meresmikan Lokasi Yayasan Al-Madani dan Gedung MTsS Gumarang, di Jorong Gumarang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Jumat (9/7).

PADANG, METRO–Pendidikan di surau (masjid) dan lapau (kedai) merupakan salah satu ke­arifan lokal di nagari (desa) di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Kearifan lokal ini harus tetap dipertahankan dan disandingkan dengan pendidikan formal di se­kolah negeri maupun s­wasta.

“Setelah pendidikan awal di keluarga, generasi muda belajar di surau dan di lapau. Di sinilah proses pembelajaran cara ber­komunikasi, bernegoisasi dan menghormati itu mun­cul. Itulah yang sekarang disebut soft skill. Kete­rampilan yang sama pen­tingnya dengan kemam­puan akademik untuk ma­suk dunia kerja era industri 4.0,” kata Gubernur Sum­bar, Mahyeldi Ansharullah saat meresmikan Lokasi Yayasan Al-Madani dan Gedung MTsS Gumarang, di Jorong Gumarang, Na­gari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Jumat (9/7).

Mahyeldi yakin, jika dua model pendidikan itu, pen­didikan surau-lapau dan pendidikan formal diinte­grasikan dengan baik maka tokoh-tokoh muda dari Sum­bar akan kembali diperhi­tungkan di pentas nasional bahkan internasional.

Jika merujuk kepada sejarah, banyak tokoh-tokoh nasional asal Sum­bar dalam masa perjua­ngan kemerdekaan yang dimulai pendidikannya di surau dan lapau di nagari. Sehingga ketika dalam per­gau­lannya di lingkungan yang lebih besar mereka bisa menyesuaikan diri. Karena telah terbiasa un­tuk menghormati yang tua, menghargai yang sama besar dan menyayangi yang lebih kecil.

“Ini adalah hal nilai-nilai yang universal sehingga bisa diterima di mana saja di muka bumi. Sehingga tokoh-tokoh Minang benar-benar bisa jadi tokoh-tokoh yang diperhitungkan dan disegani di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.

Ia menilai semua pihak di nagari harus bisa mem­bangkit dan memak­sima­l­kan kembali kearifan lokal tersebut. Sehingga gene­rasi muda Sumbar tidak hanya mampu secara aka­demik, tetapi juga memiliki soft skill.

Terkait sekolah swasta, Mahyeldi mengatakan ha­rus memiliki keunggulan yang lebih dari sekolah lain. Sehingga masyarakat ter­tarik untuk mendidik anak­nya di sekolah tersebut.

Sekolah yang didirikan oleh Yayasan Al-Madani-pun harus bisa mem­be­rikan keunggulan kualitas yang baik misalnya dari sisi keagamaan atau pe­nguasaan bahasa asing.  Pemprov Sumbar, katanya, akan mendukung program-program yang bertujuan untuk meningkatkan kua­litas pendidikan. Karena itu merupakan salah satu visi dan misi kepala daerah.

Sementara itu, Bupati Agam Andri Warman me­nga­takan salah satu ke­unggulan daerah itu adalah dari sisi pendidikan. Ke depan salah satu fokusnya di bidang pendidikan ada­lah  memperbanyak Ru­mah Tahfidz. Program itu beririsan dengan sekolah berbasis agama di Agam.

Wali Nagari Tigo Koto Silungkang, Doni Cendra mengapresiasi keda­ta­ng­an Gubernur Sumbar dan Bupati Agam ke daerah mereka. Doni berharap dukungan penuh terhadap peningkatan kualitas pen­didikan di daerah tersebut.

Anggota DPRD Sumbar Dapil Agam, Rinaldi me­ngatakan sekolah berbasis agama merupakan aset da­erah dalam segi pen­didikan mental dan spiritual. Karena itu patut untuk didukung secara bersama-sama.

Ikut hadir dalam acara itu Kepala Biro Adpim Set­da Sumbar, Hefdi, Camat Palembayan, Forkopimca, Ketua Yayasan Al Madani Andrioni Satria dan para tokoh masyarakat Guma­rang.(fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional