Close

Pemprov Sumbar Beri Ruang Etnis Minoritas Gali Nilai Adat dan Budaya, Albert: Jawaban terhadap Pandangan Negatif Intoleran 

PELATIHAN— Anggota DPRD Sumbar, Albert Indra Lukman disaksikan Kabid Sejarah Nilai Tradisi dan Adat Dinas Kebudayaan Sumbar Fadli Junaidi dan Ketua PERBAS, Wismar Panjaitan, memberikan sambutan saat Pelatihan Penguatan Kapasitas Pemangku Adat Batak di Padang, Kamis (24/11).

PADANG, METRO–Provinsi  Sumbar selain terdiri dari etnis Minang­kabau, juga ada beberapa etnis lainnya yang mendiami daerah ini. Untuk penguatan pemahaman adat bagi etnis minoritas yang telah tumbuh, berkembang dan membaur dengan masyarakat, Pemprov Sumbar memberikan ruang yang luas untuk menggali nilai-nilai adat dan budaya.

“Selain etnis Minangkabau, di Sumbar juga banyak etnis lain yang tumbuh dan berkembang. Kita apre­­siasi Pemprov yang memberikan ruang sehingga etnis minoritas ini men­dapat kesempatan menggali nilai-nilai adat dan budaya sendiri,” kata Anggota DPRD Sumbar, Albert Indra Lukman saat Pelatihan Penguatan Kapasitas Pemangku Adat Batak di Padang, Kamis (24/11).

Albert mengatakan, adat dan budaya sesuatu yang diyakini dari dulunya dulunya oleh suatu komunitas dan masyarakat dan menjadi tuntunan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Namun, anggota DPRD dari Partai PDI Perjuangan itu menegaskan  adat dan budaya tersebut juga akan mengalami pergeseran. Kondisi ini terjadi karena adanya budaya luar yang merasuki dan diminati generasi muda. Selain itu juga ada budaya adat warga dan saudara di lingkungan tempat tinggal.

Albert juga mengingatkan meski budaya Batak bukan dari Sumbar, tapi yang perlu diingat, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,­ masyarakat Indonesia terdiri dari beberapa etnis dan kebudayaan. Ten­tu di mana pun berada ha­rus menerima perbeda­an.

Melalui pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari ini, Albert menilai Pemprov Sumbar memberikan ruang  kebuda­yaan yang ada di Sumbar untuk tampil dan menjadi kekayaan dan kearifan lokal.

Ruang yang diberikan oleh Pemprov Sumbar hing­ga etnis minoritas bisa tum­buh dan berkembang, menjadi jawaban bahwa pandangan negatif selama ini tentang Sumbar yang intoleran itu tidak benar. “Sumbar tetap dalam ke­rang­ka NKRI yang menjaga kemajemukan dan nilai-nilai pluralisme,” ujarnya.

Albert menilai jika dikelola dengan baik, kolaborasi antara semua etnis yang tumbuh dan berkembang di Sumbar akan memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah.

Ia mengatakan nilai-nilai plurarisme itu juga harus disampaikan dan dite­rapkan di tingkat ma­sya­­rakat bawah karena tidak bisa dipungkiri ku­rang­nya pemahaman mem­buat ada potensi ge­sekan di tingkat bawah.

Menurutnya, saat ini pembauran di Sumbar sa­ngat luar biasa. Buktinya, dirinya sebagai etnis Tionghoa tidak lagi memahami bahasa ibunya, malah sangat fasih berbahasa Minang.

“Saya lahir, tumbuh berkembang dan nantinya meninggal dan dikuburkan di Sumbar. Banyak etnis lain juga seperti itu. Kami sudah menganggap Sumbar sebagai kampung halaman,” ujarnya.

Sementara itu Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, melalui Kepala Bidang Sejarah Nilai Tradisi dan Adat Dinas Kebuda­yaan Sumbar Fadli Junaidi mengatakan kolaborasi antara banyak etnis yang ada di Sumbar sebuah keharusan untuk bisa mensukseskan pembangunan daerah.

Ia mengatakan Etnis Batak merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di Indonesia. Khusus untuk Sumbar, jumlahnya berdasarkan sensus penduduk 2010 mencapai 222.549­ orang atau sekitar 4 persen dari populasi ma­sya­rakat Sumbar.

“Kita mendorong etnis Batak dan etnis lain di Sumbar untuk lebih mengenal nilai-nilai luhur dari budayanya dalam kerangka upaya pembangunan Sumbar ke depan,” katanya.

Sub Koordinator Adat Dinas Kebudayaan Sumbar, Ridho Arifandi menyebut kegiatan itu diikuti oleh 100 orang peserta yang merupakan organisasi Per­satuan Batak Sumbar (PERBAS) yang diketuai Wismar Panjaitan. Kegiatan itu digelar selama dua hari, 24-25 November 2022. (fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top