Menu

Pemko dan Balai Bahasa Gelar Pelatihan Bahasa Media, Penggunaan Bahasa Asing Lemahkan Bahasa Indonesia

  Dibaca : 171 kali
Pemko dan Balai Bahasa Gelar Pelatihan Bahasa Media, Penggunaan Bahasa Asing Lemahkan Bahasa Indonesia
PENGAWASAN— Pemko Bukittinggi dan Balai Bahasa Sumbar gelar pelatihan pengawasan dan pengendalian pengunaan bahasa Indonesia bersama media massa.

BUKITTINGGI, METRO
Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi melalui Dinas Komunkasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bukittinggi bersama Balai Bahasa Provinsi Sumbar, Selasa (21/10) menggelar kegiatan Pengawasan dan pengendalian pengunaan bahasa pada media massa di Kota Bukittinggi.

Pengawasan tersebut di hadiri secara langsung Kepala Dinas Kominfo Bukittinggi Drs. Novri, M.Pd serta Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat Aminulatif SE MPd.dan di ikuti perwakilan Media Massa di Kota Bukittinggi dan perwakilan SKPD di lingkungan Pemko Bukittinggi.

Dalam sambutanya Kepala Dinas Kominfo Bukittinggi Drs Novri MPd menjelaskan, kegiatan itu merupakan kegiatan untuk edukasi dalam sajian tata bahasa dalam setiap penyampaian informasi,baik itu untuk media massa maupun untuk penyelenggaraan alat kelengkapan bagi Dinas dilingkungan Pemko Bukittinggi untuk surat menyurat serta himbaun bagi masyarakat katanya.

“Kemudian mengingat gaya bahasa pada zaman sekarang ini tentu kita harus luruskan bahwa gaya bahasa yang benar harus di utamakan, sebab salah bahasa salah arti.Hancurnya sebuah bangsa salah satunya dari tatanan bahasa,” jelas Novri.

Dikatakan Novri, makanya gaya bahasa itu harus disempurnakan, sehingga apa dari tujuan bahasa tersebut sampai tujuan yang dimaksud. Salah satu upaya dari para tokoh nasional dulu untuk mempersatukan dari Sabang sampai Merauke yakni bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, jadi dengan beragamnya suku dan etnis yang ada di Indonesia bisa berkomunikasi walaupun masing-masing memiliki bahasa daerah, ketika menggunakan bahasa Indonesia, tentu bisa langsung berkomunikasi.

Bahasa secara ilmu 600 sampai 700 bahasa dan di Indonesia dari hasil verifikasi 318 bahasa,nah. Hal inilah yang digagas para penjuang proklamasi,bagaimana isi proklamasi tersebut bisa mempersatukan negeri ini senasib dan sepenanggungan.

Dasar pemakaian Bahasa Indonesia itu sudah diatur dalam  UU 24 2009.di mana ada 4 Pilar untuk pemersatu negari ini, yakni Bendera Sang Merah Putih, Bahasa Indonesia, Garuda Pancasila dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya merupakan jati diri bangsa dan identitas NKRI. Keempat simbol tersebut menjadi cerminan kedaulatan negara di dalam tata pergaulan dengan negara-negara lain.

Novri menjelaskan, Undang-Undang 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan merupakan jaminan kepastian hukum, keselarasan, keserasian, standardisasi, dan ketertiban di dalam penggunaan bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan.

“UU 24 Tahun 2009 berisi ketentuan tentang berbagai hal yang terkait dengan penetapan dan tata cara penggunaan bendera, bahasa dan lambang negara, serta lagu kebangsaan, termasuk di dalamnya diatur tentang ketentuan pidana bagi siapa saja yang secara sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang terdapat di dalam UU 24/2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan,” kata Novri.

Novri berharap, dengan adanya kegiatan ini bisa memberikan edukasi atau wawasan bagi semua dalam penyajian bahasa di tengah-tengah masyarakat, terutama bagi perusahan media masa. Peran ini sangat peting untuk memberikan contoh gaya bahasa yang benar agar tatanan bahasa menjadi lebih baik ke depan. “Kemudian kita berterima kasih kepada Balai Bahasa Sumatera Barat karena telah mempercaya Bukittinggi dalam acara ini, mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, maksud dan tujuan kita bersama tercapai dengan maksimal,” jelas Novri.

Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat Aminulatif menjelaskan, Penggunaan Bahasa Indonesia merupakan cerminan sikap atas  kompetensi badan publik terhadap bahasa. Oleh karena itu, diperlukan sikap positif, yaitu sikap tertib berbahasa, agar penggunaan bahasa sesuai dengan ketentuan hukum dan kaidah kebahasaan. “Untuk itu, pemerintah dan pemerintah daerah perlu menciptakan ketertiban berbahasa dengan mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia untuk memperkuat kedudukannya sebagai bahasa Negara,” ujar Aminulatif.

Pelemahan bahasa cenderung terjadi seiring dengan penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, di tempat-tempat umum. Penguatan bahasa asing itu terjadi akibat kenyataan arus informasi dan komunikasi global yang semakin kuat. Di sisi lain, penguatan itu membuat sikap pengguna bahasa Indonesia cenderung bergeser ke arah lebih bangga terhadap penggunaan bahasa asing.

“Penggunaan bahasa asing dianggap lebih baik dibandingkan bahasa negara. Hal itu mengancam keberlangsungan penggunaan bahasa negara di ruang publik. Oleh karena itu, perlu pengawasan dan pengendalian penggunaan bahasa dimulai dari penggunaan bahasa akhirinya. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional