Close

Pemko Bukittinggi dan DPRD Bahas Ranperda Cagar Budaya

Pemko Bukittinggi ajukan Ranperda tentang cagar budaya. Ranperda itu dihantarkan dalam rapat paripurna di Gedung DPRD Bukittinggi, Senin (06/12).

BUKITTINGGI, METRO–Pemko Bukittinggi ajukan Ranperda tentang cagar budaya. Ranperda itu dihantarkan dalam rapat paripurna di Gedung DPRD Bukittinggi, Senin (06/12). Ketua DPRD Bukittinggi Beny Yusrial menjelaskan, berdasarkan Pasal 32 ayat (1) UUD RI 1945 menyatakan “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”.

Hal ini menjadi salah satu landasan, Pemko Bukittinggi mengajukan Ranperda terkait cagar budaya ini. “Pemko Bukittinggi telah menginisiasi perancangan dan penyusunan Raperda tentang Cagar Budaya. Ini dilakukan sebagai upaya memberikan perlindungan, pengemba­ngan dan pemanfaatan Cagar Budaya yang ada di Kota Bukittinggi,” jelas Benny.

Wakil Wali Kota, Marfendi menjelaskan, Ranperda cagar budaya ini, secara umum berisikan tugas Pemda  dalam memberikan perlindu­ngan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya. Tugas yang dimaksud, terkait mewujudkan, me­numbuhkan, mengembangkan serta meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab akan hak dan kewajiban masyarakat dalam Pengelolaan Cagar Budaya.

“Kemudian bagaimana me­ngem­bang­kan dan menerapkan kebijakan yang dapat menjamin terlindungi­nya dan termanfaatkannya Cagar Budaya. Menyelenggarakan Penelitian dan Pengembangan Cagar Budaya. Menyediakan informasi Cagar Budaya untuk masyarakat dan menyelenggarakan promosi Cagar Budaya,” jelas Marfendi.

Pemko Bukittinggi telah melakukan berbagai upaya dalam pelesta­rian cagar budaya yang ada. Upaya yang dilakukan sejalan dengan visi misi Kota Bukittinggi, mewujudkan masyarakat yang terdidik, berbudaya dan beradat berdasarkan iman dan taqwa. Dimana, pembangunan dari Kota Bukittinggi berlandaskan nilai nilai yang terkandung dalam agama Islam dan budaya.

“Dengan kata lain, pembangunan di Bukittinggi didasarkan pada falsafah hidup Minangkabau, Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kita­bullah (ABS-SBK),” ujar Marfendi.

Kata wawako, cagar budaya merupakan warisan budaya yang bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan melalui proses penetapan. (pry)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top