Menu

Pemko belum Sepenuhnya Pakai Konsep Wisata Hospitality

  Dibaca : 69 kali
Pemko belum Sepenuhnya Pakai Konsep Wisata Hospitality
Drs.H.Apris MM

KHATIB, METRO – Anggota Komisi V DPRD Sumbar, Drs H Apris menilai, salah satu kelemahan Pemerintah Kota Padang dalam pembangunan di sektor pariwisata adalah belum sepenuhnya menerapkan konsep hospitality atau kesadaran sikap kesediaan melayani dengan sepenuh hati terhadap wisatawan.

Menurutnya, Kota Padang merupakan salah satu Kota wisata yang tak kalah indahnya jika dibandingkan kota-kota lain. Padang punya alam yang indah untuk dinikmati para pencinta objek wisata, baik lokal maupun mancanegara.

Meski demikian, lanjutnya, dalam hal pelayanan wisatawan Kota Padang masih kalah jika dibandingkan dengan beberapa kota wisata lainnya. Seperti Yogyakarta, Bali dan Bandung yang telah menerapkan konsep hospitality dalam membangun sektor pariwisatanya.

“Menjadi kota wisata itu, tidak bisa hanya mengandalkan keunikan dan keindahan alam atau keanekaragaman kekayaan alam saja. Akan tetapi, untuk menjadi kota wisata itu, harus menerapkan konsep kesadaran sikap kesediaan untuk melayani dengan sepenuh hati,” tegas Apris.

Untuk menerapkan konsep ini, lanjutnya, tidak bisa hanya pada pemerintah saja, akan tetapi mesti melibatkan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di sekitar objek wisata tersebut. Mereka yang tinggal di sekitar objek wisata harus bisa membangun dan menunjukkan sikap keramah tamahan, sikap kesopanan, sikap keakraban dan rasa saling menghormati kepada setiap wisatawan.

“Di Bali, Bandung dan Jogja itu masyarakatnya selalu mengutamakan kenyamanan bagi wisatawan yang datang, sehingga mereka betah dan ingin berlama-lama tinggal atau ingin datang kembali lagi,” jelas Apris.

Karena itu, Pemko Padang harus menjadikan hospitality sebagai nafas bagi seluruh masyarakat untuk membangun perekonomian dari sektor pariwisata. Jika hal ini dilakukan, maka masa depan pariwisata Kota padang akan lebih menjanjikan lagi.

Apri menjelaskan, hospitality itu memiliki arti keramah tamahan, kesopanan, keakraban, rasa saling menghormati. Jika dikaitkan dengan dalam industri pariwisata, sikap kesediaan untuk melayani dengan sepenuh hati diibaratkan jiwa atau semangat dari pariwisata.

“Tanpa adanya hospitality dalam pariwisata, maka seluruh produk yang ditawarkan dalam pariwisata itu sendiri seperti benda mati yang tidak memiliki nilai untuk dijual,” jelasnya.

Memberikan dukungan dalam pembangunan objek wisata di Sumatera Barat, Komisi V DPRD Sumbar sebagai mitra dari Dinas Pariwisata selalu menyuarakan bahwa pariwisata merupakan urat nadi pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang sangat berpotensi .

Dalam bentuk dukungan pribadi sebagai anggota dewan, sejak 2015, Apris telah menganggarkan dalam pokirnya untuk program bimbingan teknis sadar wisata. Pada 2017, ia menganggarkan pelatihan untuk 2.000 orang di Kota Padang. Tahun 2018 dianggarkan pelatihan untuk 300 orang, kemudian untuk 2019 ini, sebanyak 580 orang.

“Saat ini sudah ada sekitar 1.000 orang warga Kota Padang yang dilatih atau diberikan bimbingan teknis sadar wisata,” ungkap Apris.

Output dari kegiatan itu, lanjutnya, maka terbentuklah kelompok-kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang tersebar di seluruh kelurahan di 11 kecamatan di Kota Padang. Disisi lain, Apris juga melakukan pengembangan Kampung Tematik. Sebuah kawasan perkampungan berupaya RW, mewadahi beberapa RT di dalamnya, yang sulap menjadi perkampungan yang indah, nyaman dan menarik.

Dalam membangun pengembangan kampung tematik ini melibatkan pemerintah dalam mengatur tata ruang yan menarik. Membangun jalan yang bagus dan drainase yang bersih dan sehat. Pagar –pagar rumah warga harus dibuat indah dan berwarna. Kemudian teras-teras rumah dijadikan tempat berjualan.

“Tahun ini, kampung tematik baru kita buat di kawasan Purus, Kecamatan Padang Barat dengan anggaran sekitar Rp500 juta. Warga setempat diberikan pelatihan membuat beberapa souvenir yang menarik, sehingga akan menjadi daya tarik bagi orang untuk datang ke perkampungan tersebut,” kata Apris.

Diharapkan, kampung tematik yang ada di kawasan Purus bisa menjadi pilot projek sehingga menjadi contoh bagi daerah daerah lainnya. (hsb)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional