Menu

Pemkab Komit Turunkan Stunting dengan Terintegrasi

  Dibaca : 91 kali
Pemkab Komit Turunkan Stunting dengan Terintegrasi
BAHAS STUNTING— Bupati Gusmal memberikan arahan dalam rembuk sebagai upaya penurunan kasus stunting di Kabupaten Solok.

SOLOK, METRO
Pemkab Solok tegaskan melanjutkan komitmen dan menyepakati rencana kegiatan intervensi penurunan stunting terintegrasi serta membangun komitmen publik dalam kegiatan penurunan stunting. Sebelumnya, 18 November lalu, dalam masa pandemi, telah dilakukan rapat pendampingan pelaksanaan Aksi 5-7 Konvergensi stunting oleh beberapa SKPD terkait. Acara tersebut juga mendatangkan narasumber dari Tim Penampingan Konvergensi Stunting Bangda Kemendagri Regional I.

Bupati Solok Gusmal mengatakan aksi 5-7 tersebut yakni, aksi 5 memastikan tersedianya dan berfungsinya kader yang membantu pemerintah nagari dalam pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi di tingkat desa. Aksi 6, meningkatkan sistem pengelolaan data stunting dan cakupan intervensi di tingkat kabupaten. Aksi 7, melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan publikasi angka stunting kabupaten.

“Aksi 1-4 sudah kita laksanakan awal 2020 lalu, dan menurut tim Penampingan Konvergensi Stunting Bangda Kemendagri Regional I, aksi kita di Kabupaten Solok dinilai cukup baik,” kata Gusmal.

Untuk diketahui, data balita stunting di kabupaten Solok berdasarkan hasil PSG (Penilaian Status Gizi) tahun 2019 menjadi sekitar 30,5 persen, atau sekitar 1.638 Balita dari 5.376 Balita di Kabupaten Solok, atau masih diatas target WHO sebesar 20 persen.

Pemerintah Kabupaten Solok melakukan upaya penanganan yang serius dengan garda terdepan ada di Puskesmas, bahkan seluruh instansi harus saling bahu-membahu dalam menangani masalah stunting ini. Tahun 2019, ada 10 nagari yang menjadi wilayah sasaran (penanganan) stunting Kabupaten Solok.

Diantaranya, Nagari Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih, Aiadingin Kecamatan Lembah Gumanti, Batubajanjang, Kotolaweh, Kotogadang Koto Anau di Kecamatan Lembang Jaya, lalu Nagari Taruang-Taruang Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, kemudian Tanjung Bingkung Kecamatan Kubung, serta Sariakalahan Tigo Kecamatan Hiliran Gumanti.

Menurutnya, di 10 nagari lokus stunting tersebut, ada Tiga faktor yang sangat berpengaruh, yakni kurang tersedianya sumber air bersih, sanitasi yang tidak sehat, serta pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak sehat. Ketiga faktor tersebut, kerap diabaikan masyarakat.

Gusmal menyebut instansi terkait harus bergerak cepat menanganj stunting di Kabupaten Solok, sebab jika dibiarkan terbengkalai akibat pandemi, maka otomatis angka stunting dikhawatirkan mengalami peningkatan. “Kita tidak bisa lama-lama terlena oleh pandemi ini, meskipun kita serius dalam memutus rantai Covid-19 ini, penanganan stunting juga tidak boleh kita kesampingkan, makanya kita akan kembali dengan komitmen itu,” ujar Gusmal.

Pada tahun 2019 lalu, Kabupaten Solok ditetapkan sebagai lokus stunting Sumatera Barat, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2019, Kabupaten Solok berada pada urutan ke tiga jumlah penderita stunting terbanyak, ini butuh komitmen bersama dalam memutus rantai stunting.

Gusmal mengatakan, sesuai dengan arahan presiden, penanganan permasalahan stunting dilakukan secara terintegrasi melalui pelaksanaan 5 pilar pencegahan stunting yang terdiri atas komitmen dan visi pemimpin, kampanye yang berfokus pada pemahaman perubahan perilaku, komitmen publik dan akuntabilitas, konvergensi, koordinasi dan konsilidasi program nasional, daerah dan masyarakat, mendorong kebijakan nutritional food security, dan pemantauan dan evaluasi.

Kemudian, konfirmasi, sinkronisasi dan sinergisme kegiatan dari SKPD penanggungjawab layanan di kabupaten hingga ketingkat kecamatan dan nagari merupakan hasil yang diharapkan nantinya.

Ia berharap, secara bersama-sama mampu menurunkan angka stunting di Kabupaten Solok, sehingga kedepannya bisa memiliki anak-anak yang sehat, cerdas, mampu bersaing di era globalisasi dan mampu membangun Kabupaten Solok di segala bidang.

Persoalan stunting tersebut merupakan tantangan besar dan butuh kerjasama dari semua pihak, termasuk SKPD dalam rangka penanganan dan upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Solok.

Lebih lanjut, ia sudah menugaskan dinas terkait untuk fokus pada Paninggaham dan 9 nagari lokus stunting lainnya, terutama para petugas harus secepatnya dapat mengenali lingkungan penyebab stunting itu sendiri, sehingga nantinya berguna dalam membuat kebijakan, setelah itu libatkan perantau Kabupaten Solok untuk ikut berperan serta dalam mengatasi masalah stunting tersebut. “Saya yakin jika kita semua serius menangani masalah stunting ini, maka nantinya angka stuntig di daerah kita akan jauh berkurang dari data yang ada saat ini,” ujar Gusmal. (vko)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional