Menu

Pemerintah Larang Jual Beli Migor Curah, Berbahaya, Tidak Melewati Pengawasan BPOM

  Dibaca : 141 kali
Pemerintah Larang Jual Beli Migor Curah, Berbahaya, Tidak Melewati Pengawasan BPOM
MINYAK GORENG CURAH— Salah seorang pedagang minyak curah di Pasar Raya Padang, H Oyong Sampoerna, mengaku masih banyak masyarakat yang membeli migor curah karena murah. (sri agustini/posmetro)

PASAR RAYA, METRO – Mulai 1 Januari 2020 nanti, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan melarang jual beli minyak goreng (migor) curah dan mengalihkan masyarakat memakai minyak goreng dalam kemasan.

Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih menyukai minyak goreng curah karena lebih murah. Terutama untuk para pedagang-pedagang yang menjual makanan atau gorengan.

“Sampai kini pembeli masih ramai. Saya menjual 20 kg/hari,” sebut pedagang Pasar Raya Padang, Oyong Sampoerna (55), Senin (7/10).

Menurut Oyong, harga yang murah membuat peminat minyak goreng curah cukup banyak. Pembeli biasanya dari kalangan pedagang gorengan dan masyarakat menengah ke bawah.

Saat ini untuk 1 kg minyak goreng curah diperdagangkan dengan harga Rp9 ribu. Sementara, minyak goreng dalam kemasan dijual dengan harga Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per liter.

Sementara 1 liter itu sama dengan 9,5 ons. Artinya, 1 liter kurang dari 1 kg. Harganyapun sampai terpaut Rp3 ribu hingga Rp4 ribu.

“Karena harganya murah, maka banyak yang beli. Terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Karena kalau mereka beli minyak kemasan, harganya mahal,” sebut Oyong.

Pedagang lain, Das (40) mengatakan minyak goreng curah itu dibelinya langsung dari pabrik Incasi Raya di Bypass. Kemudian dijualbelikan di Pasar Raya Padang. Hingga kini masih banyak yang cari. Khususnya pedagang gorengan.

“Yang banyak beli pedagang gorengan. Mereka kan untuk jualan,” sebutnya.

Semenatara, Kabid Pengawasan Dinas Perdagangan Kota Padang, Hasnah mengatakan hingga kini belum mengetahui adanya pelarangan tersebut. “Saya belum tahu infonya. Nanti saya cari tahu dulu,” sebut Hasnah.

Seperti diketahui, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melarang peredaran minyak curah di pasar masyarakat mulai 1 Januari 2020. Sebagai gantinya minyak curah wajib menggunakan kemasan.

Kebijakan ini tidak dilakukan dengan masa transisi, artinya tidak ada masa uji coba untuk kurun waktu tertentu. Ia mengatakan kebijakan ini sejatinya bisa dijalankan karena pemerintah sudah memegang komitmen dari para pengusaha dari berbagai asosiasi.

Pemerintah juga sudah melakukan sosialisasi kepada distributor minyak curah dan masyarakat sebagai pengguna. Salah satunya dengan mengadakan bazar kementerian yang menjual minyak goreng dalam kemasan di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp11 ribu per kilogram, yakni hanya Rp8.000 per kg.

Menurut Mendag, peredaran minyak curah di pasar dan penggunaan di masyarakat sangat berbahaya. Sebab, kualitas minyak tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak melewati pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Saat ini, masyarakat memang masih kerap menggunakan minyak curah dalam pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari, khususnya masyarakat kelas bawah dan pedagang kaki lima. Data Kementerian Perdagangan mencatat setidaknya total produksi minyak goreng di dalam negeri mencapai 14 juta ton per tahun. (tin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional