Menu

Pemburu Emas Liar Rambah Hutan Solsel, Gunakan Zat Merkuri dan Sianida

  Dibaca : 1547 kali
Pemburu Emas Liar Rambah Hutan Solsel, Gunakan Zat Merkuri dan Sianida
KERUGIAN—Salah satu unit rumah yang dilanda banjir di Solsel. BPBD Solsel merilis kerugian banjir yang melanda tiga kecamatan itu mencapai Rp7 miliar.

PADANG, METRO— Kepala Badan Nasional Penang- gulangan Bencana (BNPB), Letjend TNI, Doni Monardo mengungkapkan, hasil foto udara yang diambil tim gabungan BNPB, masih ditemukan adanya alat-alat berat yang bekerja melaksanakan aktivitas penambangan di tengah hutan di Kabupaten Solok Selatan.

“Alat berat ini tidak mungkin bisa masuk ke tengah hutan ini, tanpa ada yang mengantarnya. Tidak boleh ada dari aparat, negara dan komunitas di daerah yang melakukan pembiaran pencemaran dan pengrusakan lingkungan. Keselamatan rakyat itu penting,” tegas Doni Monardo saat, rapat koor- dinasi membangun kesadaran masyarakat secara kolektif dalam pengurangan resiko bencana banjir dan banjir bandang, Senin (23/12) di Hotel Gran Inna Muara, Padang.

Doni menegaskan, hasil temuan dari tim ga- bungan ini nantinya akan dibahas BNPB nantinya, untuk melahirkan rekomendasi untuk mengatasi banjir bandang di Sumbar. Doni juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif seluruh pihak dalam mengurangi resiko bencana banjir bandang di Sumbar saat ini.

Bagi yang merusak sumber air baik melalui aktivitas illegal loging dan illegal meaning dengan melakuka pencemaran sumber air, akan mendapatkan sanksi yang cukup berat.

Pencemaran lingkungan melalui penggunaan zat merkuri dan sianida pada sumber air menurutnya, sangat membahayakan bagi kesehatan. Ibu hamil akan melahirkan anak-anak yang mengalami cacat secara fisik sejak lahir.

Doni juga mengajak partisipasi LSM untuk me- ngungkap berbagai data-data temuan dalam peng- rusakan lingkungan di Sumbar. Menurutnya, Sumbar harusnya menjadi contoh dalam menjaga lingkungan. Karena di BNPB sendiri jabatan-jabatan penting banyak dipegang oleh orang Minang. “Jika Sumbar tidak mampu menjadi contoh, ini jelas memalukan orang- orang Minang di BNPB,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno juga meminta kepada TNI dan Polri agar konsisten memberantas aktivitas tambang liar ini. Aktivitas penambangan emas liar yang berlokasi di Lubuk Ulang Aling Kabu- paten Solok Selatan ini tidak pernah putus-putus. Padahal, Indonesia ini negara hukum.

“Aktivitas penambangan ini menggunakan barang yang gede-gede, yakni alat berat eskavator. Orangnya pun ada. Kok nggak ditangkap. Heran saya. Bagaimana caranya lagi. Siapa yang akan melakukan ini? Kami dari Pemda hanya punya Satpol PP yang menjalankan tugas penegakan perda. Pol PP gak kan berani melakukan tindakan terhadap mereka yang melakukan ativitas penambangan liar di tengah hutan ini,” ungkap Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno juga mengatakan, pihak BMKG telah mengingatkan dirinya, bahwa hujan dengan intensitas tinggi akan terjadi hingga April 2020. Hujan tidak bisa ditahan. Tapi manusia diberi akal oleh Allah SWT untuk berusaha maksimal mengurangi resiko bencana melalui mitigasi, sehingga berdampak dapat memi nimalisir korban.

Banjir bandang terjadi menurutnya, bukanlah air sungai yang meluap. Melainkan air yang datang dari hulunya, di atas pegu- nungan. Artinya ada sesuatu yang terjadi di hulu sungai yang berada di atas gunung dan bukit. Banjir bandang ini menurutnya bisa dinihilkan, jika seluruh pihak, baik itu pemerintah kabupaten kota, bersama TNI, Polri, LSM dan komu- nitas serta masyarakat, melakukan inspeksi ke hulu sungai tersebut, minimal enam bulan sekali.

“Untuk inspeksi ini saya sudah kirimkan surat kepada seluruh bupati dan walikota, untuk melibatkan seluruh pihak tersebut me- lakukan inspeksi. Sudah empat kali saya kirim surat. Inspeksi dilakukan baik itu turun langsung meninjau lokasi hulu sungai, maupun menggunakan tekhnologi drone melihat kondisi di hului sungai,” ungkapnya.

Menurutnya, banjir bandang terjadi karena di atas pegunungan terdapat kantong-kantong air yang terbentuk karena kayu dan materil batu batuan yang menumpuk. Kantong air seperti danau tersebut yang selama ini kering, saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi, akhirnya tumpah dan tidak terbendung, membentuk aliran sungai baru yang turun ke pemukiman masyarakat.

“Melalui inspeksi ini dapat diambil langkah pen- cegahan untuk membersihkan materil bebatuan dan kayu yang menutup kantong-kantong air ini,” ujarnya.

Penyebab lainnya, aktivitas gempa yang sering terjadi membuat tanah di pegunungan dan perbukitan yang banyak pasirnya menjadi labil. Saat hujan lebat air masuk ke celah- celah gunung dan bukit yang menyebabkan membawa materil bebatuan dan lumpur, sehingga menyebabkan longsor.

“Kondisi ini harus menjadi perhatian pemda dan akademisi, agar membuat kajian secara ilmiah, untuk menentukan batas zona aman pemukiman warga yang ada di dekat perbukitan. Jika kajian ini sudah ada, maka perlu upaya pemda melakukan relokasi warganya yang berada di lereng perbukita,” ujarnya. (fan)

Editor:
KOMENTAR

1 Komentar

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional