Menu

Pembunuh Bayaran Dititipkan di Lapas Suliki

  Dibaca : 2799 kali
Pembunuh Bayaran Dititipkan di Lapas Suliki
COVID— Sejumlah tenaga kesehatan menangani pasien Covid-19 yang baru tiba di IGD.

umar jaya si pembunuh bayaran
LIMAPULUH KOTA, METRO–Umar Jaya (50), perampok sadis yang disebut-sebut sebagai pembunuh bayaran sekaligus menghabisi nyawa bos Baiturahmah kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota. Di Limapuluh Kota, Umar diseret atas kasus perampokan toke padi, Haji Salmi Datuak Garang di Kecamatan Guguak, 8 Agustus 2011 lalu. Prosesnya sudah hampir rampung.

Umar dititipkan di Lapas sejak Senin (5/10) siang, untuk 60 hari ke depan. Penitipan dilakukan setelah berkas perampokan yang dilakukannya sudah tuntas. Dalam minggu ini, berkasnya akan diserahkan ke kejaksaan,” terang Kasatreskrim Polres Limapuluh Kota AKP Dicky Vertoffan Bachriel.

”Tadi siang tersangka sudah dititipkan di LP Suliki. Penitipan dilakukan untuk kesehatan korban. Di tahanan Polres dan Lapas standarnya tidak sama. Kita juga perpanjang masa penahanan selama 60 hari,” jelas Dicky.

Kasatreskrim juga menyebut, terhadap kejahatan yang dilakukan Umar Jaya dalam kasus di Limapuluh Kota, diancam dengan Pasal 363 dan Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan dengan ancaman pidana di atas lima tahun penjara.

Untuk daerah-daerah lainnya, penyidikan diserahkan ke masing-masing kepolisian. Seperti, untuk kejahatan di Payakumbuh, diproses di Polres Payakumbuh. Begitu juga untuk Bukittinggi dan Padang, prosesnya di Polres masing-masing.

”Kalau tuntas di sini. Sudah divonis, Umar Jaya diserahkan ke Polres lain untuk menyelidiki kasusnya, sepanjang kasus bersangkutan belum kadaluarsa. Bisa saja setelah vonis diperiksa, bisa saja setelah menjalani hukuman, itukan soal teknis saja,” jelas Kasat.

Seperti diketahui Umar Jaya jadi buronan Polres Limapuluh Kota, Payakumbuh, Bukittinggi dan Padang. Di Limapuluh Kota, Umar Jaya diburu setelah merampok 200 gram emas dan uang Rp90 juta milik Haji Salmi.

Nama Umar Jaya menggemparkan setelah dirinya tertangkap pada 17 September dan mengaku sebagai orang yang membunuh bos Baiturahmah, dengan bayaran Rp100 juta.  Penangkapan terhadap pelaku bermula dari jebakan transaksi narkoba oleh Dit Res Narkoba Polda Sumbar. Warga Perumahan Palapa Saiyo, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Padangpariaman ini dibekuk saat transaksi narkoba di parkiran RS Siti Rahmah, Aiapacah, Padang.

Umar Jaya yang memang dikenal sebagai penjahat sadis tidak dilepaskan begitu saja. Petugas menginterogasi pelaku dan jawaban yang sangat tidak disangka keluar dari mulut pria kurus ini. Ternyata, dia adalah pembunuh bayaran dan perampok sadis yang kerap beraksi di beberapa lokasi di Sumbar, termasuk Jambi, Riau, Bengkulu, Sumsel dan Lampung, bahkan sampai ke Jakarta.

Dia juga kerap beraksi menggunakan senjata api, ada dua yang digunakan Nayau bersama gerombolannya, yakni satu senjata jenis FN dan satu lagi senapan AK-47.

Umar Jaya mengakui sejumlah aksi pembunuhan, perampokan dan penjambretan yang dilakukannya. Salah satunya adalah aksi yang sempat menggemparkan Kota Padang 1996 silam yakni, pembunuhan di Jalan Damar, dengan korban pemilik Universitas Baiturrahmah Padang, Yusma dan pembantunya bernama Ana.

“Saat itu saya dibayar Rp100 juta untuk membunuh korban. Saya melakukannya bersama tiga rekan lain. Saat itu, Eko dan Epi Samsul sebagai eksekutor, Andi jaga di luar dan saya sebagai sopir. Masing-masing kami dibayar dengan harga yang sama,” akunya waktu itu.

Kemudian, polisi berhasil menangkap Eko dan Epi Samsul, tapi keduanya sudah meninggal karena sakit. Sementara, rekannya Andi sudah bebas dan Umar masih menjadi buronan sampai saat ini.  Sebelumnya, di tahun 1985, Umar Jaya melakukan perampokan di Bukititnggi dan membunuh seorang gadis yang menghuni rumah saat itu dengan sebilah pisau. Dia berhasil ditangkap dan dipenjara selama 10 tahun,

Pascabebas dari penjara, tepatnya di bulan puasa, Umar Jaya kembali melakukan aksinya yakni membunuh pemilik Yayasan Baiturahmah tersebut menggunakan linggis. Lalu, tahun 2003, Umar Jaya melakukan aksi perampokan dan membunuh korbannya di Pekanbaru, Riau.

Bukannya bertaubat, tahun 2005, pelaku kembali ke Sumbar dan melakukan aksi jambret di Payakumbuh. Saat itu, korbannya melawan dan dibunuh. Dia ditangkap dan kembali masuk penjara dan keluar pada tahun 2011.  Setelah bebas dari penjara Umar ini kembali melakukan aksi penjambretan di beberapa titik.

Paling sadis itu di Kota Payakumbuh dengan korban jambret meninggal dunia. Kemudian, perampokan juga dilakukan bersama komplotannya di Jambi dengan korban seorang dan melarikan uang Rp80 juta. Dan, komplotan itu memang terbilang sadis karena tidak akan segan-segan membunuh korban kalau ketahuan. (us)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional