Menu

Pembukaan MTQ Nasional ke-28 Sarat Budaya Minangkabau, “Syahadat Mengangkat Harkat”

  Dibaca : 125 kali
Pembukaan MTQ Nasional ke-28 Sarat Budaya Minangkabau, “Syahadat Mengangkat Harkat”
Acara pembukaan MTQ Nasional ke-28 di Sumbar penuh dengan nuansa Minangkabau.

PADANG, METRO—Pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-28 di Stadion Utama Sumbar di Padangpariaman kental dengan adat dan kesenian Minangkabau, Sabtu (14/11) malam. Pembukaan ini diselenggarakan kental dengan tradisi Minangkabau. Presiden RI Joko Widodo membuka acara secara virtual.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, adat Minangkabau kental dengan ajaran Islam karena memiliki filosofi “adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK). Maksudnya orang Minang berpedoman pada ajaran dalam Al-Quran.

Di stadion yang dijadikan sebagai lokasi pembukaan MTQ dipasang ‘marawa’ atau bendera Minangkabau yang terdiri dari tiga warna yaitu hitam, merah, dan kuning. Selain itu mimbar utama tidak saja berbentuk ‘bagonjong’ atau bergonjong namun juga terpasang “tabie” yang merupakan jahitan kain dari berbagai warna ukuran kecil yang bermakna kerbersamaan dan kesepakatan.

Menteri Agama (Menag) RI Fakhrul Rozi menyampaikan apresiasi kepada panitia dan Pemprov Sumbar yang menyelenggarakan MTQ di tengah pandemi. Katanya, penyelenggaraan MTQ Nasional kali ini dipenuhi berbagai tantangan karena diselenggarakan di tengah pandemi covid-19. Diharapkan penularan virus tidak terjadi selama MTQ Nasional ini berlangsung. “Kami minta semua pihak mematuhi protocol kesehatan,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Gemala Ranti mengatakan terselenggaranya MTQN ke-28 yang menarik dari sisi budayanya adalah tersanpaikannya pesan tokoh-tokoh Sumbar serta sejarah Islam masuk ke Minang. “Apa yang disampaikan dalam pembukaan MTQ itu ialah bentuk sosialisasi kita tentang keanekaragaman yang dimiliki Sumbar,” ujarnya.

Ia menyampaikan, tokoh Sumbar yang tersampaikan itu adalah Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Hamka dan lainnya. “Kami bangga dengan apa yang ditampilkan dalam pembukaan ini. Semoga memberi kesan baik untuk semua yang terlibat dalam kegiatan ini, begitu juga masyarakat Sumbar dan Indonesia umumnya,” katanya.

Seniman legendaris Elly Kasim yang turut menyumbangkan kreatifitasnya dengan pagelaran kesenian mengatakan, dalam pembukaan MTQ juga ditampilkan pertunjukan kesenian yang berjudul ‘Syahadat Mengangkat Harkat.’ Di antara isinya cerita turunnya salah satu surat dalam Al Quran dan sejarah masuknya Islam di Minangkabau di Bukit Marapalam.

Lalu juga ditampilkan tentang Pancasila dalam penyusunan ideologi bangsa yang terdapat sejumlah tokoh Minangkabau. Tidak hanya itu, dalam penampilan kesenian tersebut juga diceritakan tentang persatuan Indonesia dan NKRI harga mati. “Kita berharap ke depan Sumbar atau Minangkabau lebih Alqurani lagi. Serta semakin banyak qori dan qoriah lahir hendaknya di Sumbar,” ucapnya.

Dalam pembukaan MTQ, panitia menampilkan atraksi seni budaya. Puluhan seniman Sanggar Elly Kasim tampil apik membawakan atraksi. Pergelaran kolosal menampilkan para penari dengan visualisasi cahaya dan kolabarasi musik tradisional kontemporer. Meski memakai masker dan pelindung wajah, para penari tetap atraktif.

Pergelaran kolosal ini berkisah tentang ulama dan kaum adat Minangkabau membuhul ikrar “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Atraksi kolosal penuh makna karya almarhum Nazif Basir dalam pergelaran malam itu dibagi menjadi tiga episode.

Episode pertama menampilkan visualisasi jazirah Arab dengan ilustrasi turunnya Surat (Q.S) Al Mudatsir. Peristiwa tersebut sebagai bentuk penggambaran perintah Allah SWT kepada mahluk-Nya. Untuk bangun dari tidur dan mengagungkan-Nya serta meninggalkan perbuatan keji.

Para penari memainkan kain putih layaknya terbang menjulang tinggi. Lalu diiringi kibasan dan visualisasi cahaya, ini sebagai bentuk manusia melepaskan kelalaiannya. Kemudian diakhiri mengucap Syahadat dengan menengadahkan tangan ke langit.

Kemudian dari balik panggung, puluhan pesilat membawa tarian randai diiringi irama rabab dan saluang yang menjadi musik tradisional Minangkabau.

Di episode kedua, atraksi kolosal mengangkat kisah Minangkabau dan Islam yang pernah terjadi di Bukit Marapalam. Atraksi ini bercerita tentang pertikaian kaum adat dan ulama yang dikenal luas oleh masyarakat Minang dengan ‘Harimau Nan Salapan’ (Harimau Delapan).

Kisah Bukit Marapalam merupakan awal mula lahirnya sebuah perjanjian yang dibuhul antara kaum adat dan ulama dengan perjanjian Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Episode ini berkonsep opera dan bertutur yang kental dengan kekayaan tradisi budaya Minangkabau.

Episode terakhir berkisah tentang keberagaman budaya Indonesia dan kepercayaan kepada Ketuhaan Yang Maha Esa. Dilanjutkan dengan kisah dan peran tokoh-tokoh Minangkabau dalam proses terbentuknya NKRI. Dibalut tarian tradisonal Indang, aksi diakhiri lantunan ayat Ali-Imran tentang kerukunan dan persatuan.

Atraksi mumpuni ini hadir berkat koreografer nasional asal Solsel Hartati. Dia menyebut penampilan pembukaan MTQ mengangkat nuansa Minangkabau dan Islam. Dalam pementasan pembukaan MTQ dibagi dalam tiga episode yang melibatkan sekitar 100 orang penari, 30 orang pemusik dan 20 orang aktor. Umumnya mahasiswa seni dan kelompok sanggar seni.

“Naskah dan konsep dari pementasan pembukaan dibagi dalam tiga episode dalam durasi 28 menit yang merupakan karya dari Almarhum Nazif Basir dan Elly Kasim,” kata wanita asal Batang Lawe, Solsel itu.

Menurut Hartati, konsep tersebut merupakan karya terakhir dari salah seorang budayawan, seniman tokoh masyarakat Minangkabau almarhum Nazif Basir dan suami dari Elly Kasim. “Kami berdiskusi banyak sebelum beliau meninggal sekitar lima bulan lalu. Jadi ini semacam amanah dari almarhum Om Nazif,” ucapnya.

Pementasan pembukaan MTQ ikut dikerjakan oleh Artistic Director: Rama Soeprapto, Choreographer: Hartati, Music Director: Andi Rianto, Composer Tradisional Music: Syahrial Tando, Lighting Designer: Alim Jeni, Multimedia: Surefiver, Costume Designer: Elly Kasim, Show Director: Danny Ceper, Stage Designer: Iskandar Loedin, Juni Azwar dan Artistic consultant: Tom Ibnur. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional