Menu

Pemanfaatan Energi Listrik, Permudah Pengolahan Pertanian

  Dibaca : 78 kali
Pemanfaatan Energi Listrik, Permudah Pengolahan Pertanian
Pemanfaatan energi listrik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman atau mempermudah pengolahan infrastruktur pendukung pertanian.

WAHIDIN, METRO–PLN (Persero) melalui PLN Peduli mengalokasikan dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebesar Rp 4,84 miliar untuk mendukung sektor pertanian melalui program Electrifiying Agriculture di 54 lokasi se-Indonesia.

Electrifiying Agriculture_ merupakan program pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktifitas pertanian melalui pemanfaatan energi listrik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman atau mempermudah pengolahan in­frastruktur pendukung pertanian atau­pun peternakan dan perikanan.

“Diharapkan program-program Elec­tri­fiying Agriculuture ini mampu me­ning­katkan produktivitas dalam sektor per­tanian sehingga mampu mening­katkan kesehjateraan masyarakat,” ungkap Executive Vice President Komu­nikasi Kor­porat dan CSR PLN, Agung Murdifi.

Salah satu contoh program _Elect­rifiying Agriculture_ yang sudah dilak­sanakan berada di Desa Betet, Ng­ronggot, Nganjuk, Jawa Timur. Dikenal dengan Wisata Tani Listrik Terpadu Betet yang mengusung Wisata Tani Unggul di Tangan Pemuda Regul.

Tidak hanya menawarkan sisi wisata, Desa Betet juga digunakan sebagai tempat pertanian milenial yang meng­kolaborasikan penerapan teknologi dan sektor pertanian.

“Di mana dalam sektor pertanian green house menggunakan sinar ultraviolet untuk mempercepat masa tanam pada tanaman hidroponik seperti tana­man Sawi Pakcoy (Bok choy), Kangkung, bayam, serta pengunaan springkle pada lahan bawang agar dapat terairi secara baik,” terang Agung.

Wakil Bupati Nganjuk Marhen Dju­madi menilai program PLN Peduli ini memiliki wujud dan dampak yang nyata bagi masyarakat. Program ini mendu­kung upaya Pemkab Nganjuk untuk mewujudkan peningkatan pereko­nomi­an dan pemberdayaan masyarakat.

“Terima kasih kepada PLN, BUMN Kebanggaan kita yang telah membantu Desa Betet,” kata Marhen.

Ketua Kelompok Tani Achmad Syai­khu menjelaskan, Wisata Tani Listrik Terpadu Betet tetap melakukan kegiatan selama masa pandemi mengikuti ara­han dari pemerintah dan menetapkan protokol kesehatan.

“Terima kasih kepada PLN dengan adanya listrik dalam lingkunan persa­wahan pertanian, para petani merasa terbantu dalam segi penghematan biaya operasional untuk pengunaan bahan bakar minyak, dan penggunaan spring­kle dalam pertanian mampu meng­hemat tenaga kerja, penggunaan air dan mengurangi hama pada tanaman ba­wang.”

Selain Desa Betet PLN juga mem­bantu peningkatan poduktivitas petani buah naga di Banyuwangi melalui program “Listrik Untuk Sang Naga”. Program ini mendorong peningkatan pere­konomian petani karena panen dapat dilakukan sepanjang tahun, dimana untuk 1 hektare lahan dengan penyi­naran dapat menghasilkan buah naga sebanyak 77 ton tiap tahunnya atau naik hingga 4 kali lipat.

Dampak secara masif pun bukan hanya dirasakan oleh petani buah naga, namun juga masyarakat. Tercatat sampai dengan Juni 2020, sudah 6618 petani buah naga yang memanfaatkan listrik sebagai teknologi untuk menyinari ladang mereka.

Efek domino dari program ini mem­ban­tu memciptakan banyak lapangan kerja yang tumbuh dari sektor pendu­kung pertanian buah naga, mulai dari berbagai usaha pengolahan buah naga, hingga munculnya kelompok sadar wisata yang menjadikan ladang buah naga sebagai destinasi agrowisata, seperti Agrowisata Petik Jeruk dan Buah Naga.(ade)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional