Menu

Pemakaian Tinggi saat Belajar Daring, Ortu Keluhkan Biaya Internet yang Mahal

  Dibaca : 239 kali
Pemakaian Tinggi saat Belajar Daring, Ortu Keluhkan Biaya Internet yang Mahal
Kepala Disdik Padang, Habibul Fuadi

ANDURING, METRO
Sejumlah orang tua (ortu) mulai mengeluhkan biaya internet yang tinggi. Mereka berharap pemerintah bisa menurunkan tarif internet, sehingga bisa meringankan beban masyarakat.

“Kebutuhan internet sekarang tinggi. Anak belajar online. Duit beli beras terpaksa dialihkan buat beli kuota internet,” tandas Emi (45), salah seorang ibu rumah tangga.

Saat ini, tandas Emi, anaknya ada yang kuliah. Pembelajaran dilakukan dengan sistem daring. Selain itu, ada pula satu anaknya yang SMP dan satu orang SMA. Tiap minggunya, kata Emi, ia terpaksa mengeluarkan uang Rp100 ribu buat beli internet saja. Jika dikalikan sebulan, bisa memakan biaya Rp400 ribu.

Idealnya terang Emi, dalam kondisi yang serba online sekarang, pemerintah berinisiatif menurunkan tarif internet. “Sekarang saja berlangganan tiap bulan mencapai Rp350 ribu. Mahal sekali. Kalau dapat, tolonglah diturunkan tarifnya agar terjangkau bagi kami. Apalagi lagi saat ini kebutuhan internet tinggi,” tandasnya.

Warga lainnya, Iyul (43) juga berharap yang sama. Pemerintah hendaknya bisa menyediakan layanan internet yang murah pada masyarakat. Sehingga semuanya bisa memanfaatkan internet tanpa harus terbebani biaya yang terlalu besar.

“Sekarang tarifnya masih tinggi, untuk keluarga menengah ke bawah masih kesusahan menjangkaunya,” tandas Iyul.

Kepala Dinas Perdagangan, Andree Algamar mengatakan, kewenangan soal tarif internet merupakan kewenangan Dinas Kominfo. “Mungkin kewenangan Dinas Kominfo,” tandas Andree.

Boleh Gunakan BOS
Kepala Diskominfo, Rudy Rinaldy sudah dihubungi, tapi belum bisa dikonfirmasi. Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Habibul Fuadi mengatakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) boleh digunakan untuk biaya pembelian paket data dalam proses belajar daring dengan peserta didik.

“Teknis bagaimana pembagiannya, itu tergantung pihak sekolahnya,” ujarnya, Rabu (15/7).

Ia mengatakan untuk besaran dana BOS pada masing-masing sekolah berbeda jumlahnya dan itu tergantung banyak siswa. “Kita tak bisa kalkulasikan angkanya, sebab pada satu sekolah jumlah siswa berbeda,” ucap Habibul.

Untuk per tahunnya terang Habibul, tingkat SD dana BOS berkisar Rp1 juta, sementara tingkat SMP Rp1,3 juta. Angka itu belum bisa difinalkan, sebab melihat kebutuhan sekolah.

“Sekolah yang susah jaringan seperti di Bungus, sistemnya bisa jemput bola seperti guru antarkan tugas ke rumah yang di sana telah terbagi kelompok. Teknisnya diserahkan pada sekolah masing-masing,” paparnya.

Sementara, Anggota Komisi IV DPRD Padang, Wismar Pandjaitan meminta kepada pihak sekolah untuk mengikuti petunjuk teknis yang ada pada Disdik. Sehingga tidak jadi kekeliruan serta mencegah penyalahgunaan dana BOS.

Selanjutnya, kepada guru diminta melakukan koordinasi dengan kepala sekolah soal pemakaian dana BOS. “Jangan kebijakan diambil sepihak saja. Jika ada temuan dan kesalahan, siapa yang akan bertanggungjawab?” tanyanya. (tin/ade)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

IKLAN

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional