Close

Pedagang Satwa Langka Lintas Negara Ditangkap di Lubuk Begalung, Gunakan WA dan Facebook untuk Promosi, Dijual Rp 500 Ribu hingga Rp 3 Juta

PERLIHATKAN BUKTI— Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Satake Bayu bersama BKSDA, dan jajaran Ditreskrimsus memperlihatkan barang bukti dokumentasi pengungkapan kasus pedagangan satwa dengan tersangka MDA (30).

PADANG, METRO–Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumbar bersama BKSDA Sumbar, kembali menangkap seorang pelaku yang menjual satwa dilindungi. Tak tanggung-tanggung, satwa-satwa yang dibeli dari Provinsi Jambi tersebut, dijual hingga ke luar negeri.

Pelaku yang diketahui berninisial MDA (30) ini berhasil diringkus tim gabungan setelah petugas yang melakukan penyamaran sebagai pembeli satwa, bertransaksi dengan pelaku di Gang Sehati Jalan Kampuang Jua, Kelurahan Kampuang Jua Nan XX, Lubuk Begalung, Jumat (11/3) sekitar pukul 08.00 WIB.

Usai diamankan, tim gabungan selanjutnya melakukan pengembangan ke kediaman pelaku di Kubu Dalam, Kelurahan Marapalam, Kecamatan Padang Timur. Dari hasil penangkapan itu, petugas menyita barang bukti tiga ekor kucing hutan (Prionaliurus Bengaliensis), satu ekor trenggiling (Manis Javanica) dan satu ekor kura baning coklat (Manouria Emys).

”Pelaku MDA (30) ini masih satu jaringan dengan pelaku yang berhasil kita tangkap beberapa waktu lalu di Payakumbuh. Pelaku sebelumnya sudah kita pantau dan berhasil ditangkap setelah dipancing untuk bertransaksi,” kata Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Satake Bayu, saat konferensi pers di Mapolda Sumbar, Selasa (15/3).

Dijelaskan Kombes Pol Satake Bayu, penangkapan pelaku ini merupakan pengembangan dari tangkapan sebelumnya yang merupakan jaringan penjualan satwa langka lintas negara yaitu Vietnam dan Thailand.

“Jaringan ini aktif di media sosial untuk memasarkan ataupun meniagakan satwa langka ini. Penjualan tidak hanya di Indonesia, tapi sampai ke luar negeri. Hasil dari pantauan kita, mereka telah lama melakukan aksi perdagangan satwa dilindungi,” ujar Satake Bayu.

Dikatakan Kombes Pol Satake Bayu, dari tangan pelaku MDA, petugas berhasil menyita tiga ekor kucing hutan dalam keadaan hidup yang berada di dalam kandang, satu ekor trenggeling dalam keadaan hidup di dalam karung putih, satu ekor kura-kura cokelat dan satu handphone.

“Pelaku ini meniagakan satwa langka melalui grup facebook dan grup hewan peliharaan WhatsApp. Tersangka ini telah beraksi selama satu tahun lebih. Untuk satwa-satwa langka yang dilindungi ini, tersangka mendapatkannya dengan cara membelinya ke Provinsi Jambi,” katanya.

Pengakuan tersangka kepada petugas, satwa dilindungi jenis kucing hutan dibeli tersangka seharga Rp200 ribu per ekor dan akan dijual dengan harga Rp 500 ribu. Sedangkan Trenggeling dibeli tersangka seharga Rp 1 juta dan dijual seharga Rp3 juta per ekor, dan kura-kuran baning coklat dibeli seharga Rp200 ribu lalu dijual seharga Rp500 ribu per ekor.

“Tersangka dijerat dengan pasal 40 ayat (2) pasal 21 ayat (2) huruf a Undang Undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dengan ancaman lima tahun kurungan penjara atau denda paling banyak Rp100 juta,” katanya.

Hal senada juga dikatakan, Kasat Polisi Kehutanan BKSDA Sumbar, Zulmi Gusrul, mengatakan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Polda Sumbar dalam penegakkan hukum penjualan satwa langka yang ada di Sumbar.

“Kita selalu berkoordinasi dengan Polda Sumbar memburu para pelaku yang memperdagangan satwa dilindungi dalam kondisi hidup maupun mati. Untuk satwa-satwa yang diamankan ini sudah kita lepasliarkan ke alamnya agar kondisinya tetap terjaga,” ujar Zulmi Gusrul.

Diganjar Penghargaan dari Republik Ceko

Sementara itu, Coordinator Of International In Situ Project, Chief Of Conservation Departement Zoo Ostrava Republik Ceko, Frantisek Pribsky mengatakan, pihaknya punya kebun binatang yang cukup besar, mulai aktif 70 tahun lalu. Pihaknya memiliki misi penyelamatan lingkungan hidup di negara asal satwa langka.

“Kami lihat di Sumbar ada beberapa kasus yang berhasil diungkap Polda Sumbar dan BKSDA Sumbar terkait penjualan hewan langka. Untuk itu hormati dan berikan apresiasi kepada dua instansi ini yang berhasil menggagalkan penjualan satwa langka,” kata Frantisek Pribsky.

Frantisek mengatakan, pihaknya melihat banyak kasus tentang pemburuan dan penjualan satwa langka di Indonesia. Dengan maraknya kasus-kasus perdagangan satwa langka ini, pihaknya merasa prihatin.

“Kami sangat senang dengan adanya aksi dari Polda Sumbar dan BKSDA terkait penggagalan penjualan satwa langka. Dengan dilakukannya penegakan hukum, ke depan tidak ada lagi masyarakat yang melakukan pemburuan atau penjualan satwa langka ini,” tutupnya. (rgr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top