Close

Pascagempa Air Bersih untuk MCK Tidak Ada, Warga Diserang Demam di Pasaman Barat

LEMAS—Terlihat Khairul,salah seorang pengungsi di Kajai, sedang berguling lemas, akibat demam yang menyerangnya, karna stamina badan menurun.

PASBAR,METRO–Pasca gempa Kajai Kecamatan Talamau Kebupaten Pasaman Barat (Pasbar), sudah memasuki hari 12 hari. Para pengungsi mulai merasakan demam dan stamina badan menurun akibat kurang tidur. “Sejak kejadian gempa pada Tanggal 25 bulan Februari lalu, hingga sekarang saya hanya beberapa jam saja tidur, karena guncangan kecil masih terasa setiap malam.”kata salah seo­rang pengungsi Hendi (39), Selasa (8/3) kemarin.

Dikatakan Hendi, saya berserta istri dan anak-anak masih trauma atas kejaduan gempa 6,1 yang menguncang kampung ka­mi yakni Kajai sekitarnya, masih terbanyang di pelupuk mata saya kedahsyatan gempa itu, seolah-olah sesuatu yang besar akan keluar dari perut bumi akibat hentakan gempa.”ujar hendi.

Lebih parah sekarang ini, karna masih bertahan pada tenda-tenda pos pe­ngungsian, sudah beberapa warga yang menga­lami sakit bahkan ada yang me­ningal dunia, dengan ber­bagai keluhan, ada yang sakit perut, deman serta banyak kundisi sta­mina tubuh menurun. ”terang­nya.

Sementara itu, Khai­rul (56), pengungsi lainya me­ngatakan hal yang sama, dikatakan Khairul, saya mengalami demam se­men­jak Subuh tadi (Se­lasa_red), badan saya panas dingin dan mengigil kedingi­nan, ”kata Khai­rul.

Namun demikian, pagi tadi saya sudah berobat, dan diangjurkan oleh dokter untuk istirahat total karna stamina tubuh saya ngedrop, akibat kurang tidur dan cemas.”kita berharap pemerintah agar cepat membangun tempat hunian sementara,kalau dapat per Kepala Keluarga (KK). Kenapa demikian, kalau berlama-lama dalam tenda pengunsian ini, tidak lah baik,karna tidur hanya beralaskan tarpal dan tempat tidur busa yang hanya terbatas jumlahnya, karna di tenda kami ada o­rang tua dan anak-anak maka kita proritaskan mereka dulu.”te­rang­nya.

Air Bersih untuk, berwuduk saja sulit pak, karna air Pamsimas kami, beberapa bak penampungnya hancur dan pi­pa -pipa banyak yang pecah, di perparah lagi sungai yang mengalirinya teraumbat ratusan ton, matrial lumpur dan kayu sehingga membuat air sungai kami kecil. ”ungkap Ujang (50), pe­ngunsi lainya.

Sementara itu, PJ Wali Nagari Kajai Rahmadani me­ngatakan, dan juga ma­sih banyak warga kita yang belum dapat tenda pe­ngungsian, kita telah memasukan permohonan pa­da Kemensos untuk memberikan tenda untuk satu tenda satu KK. Jadi kalau sudah dapat Satu tenda per KK, baru lah bisa warga kita ini agak tenang. “Miris sekali hati saya, melihat masyarakata kita, yang tidur pada tenda-tenda pengungsian, dan juga masih banyak warga kita yang belum dapat tenda pengungsian. ”kata Rahmadani.

Namun demikian, sa­ya akan terus perjuangkan warga saya, karna duka mereka adalah duka, saya karna kita sama-sama terdampak gempa, sama-sama trauma. Kita minta pemerintah pusat harus cepat tanggap akan akan kejadian musibah gempa ini,“ ujar Rahma­dani. (end)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top