Close

Pascadiguyur Hujan, Kualitas Udara di Bukittinggi-Agam Membaik

PEMBAHASAN—Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah Disdikbud Bukittinggi, Yunis Faizal melakukan pembahasan dicabutnya libur sekolah akibat kabut asap. (ulfa musriadi/posmetro)

BUKITTINGGI,METRO – Beberapa hari terakhir, kondisi kualitas udara di Sumatra Barat, khususnya Bukittinggi-Agam, sangat buruk. Bahkan pada Senin (23/9) kemaren BMKG – GAW mencatat, PM10 mencapai angka 487 dan masuk kategori berbahaya. Namun, karena guyuran hujan malam, kualitas udara mulai membaik.

Kepala BMKG – GAW Koto Tabang, Wan Dayantolis, menjelaskan, sejak Selasa (24/9) pukul 01.00 dini hari tadi, kualitas udara terpantau sedang dan sedikit membaik. Pengukuran PM10 pukul 06.00 pagi tadi, menunjukkan angka 61 mg/m3 sedikit di atas baik. Walaupun secara umum masih belum diangka normal, karena hujan baru membersihkan partikel besar, tapi partikel kecil masih ada.

“Untuk dua hari kedepan masih diprediksi akan turun hujan, pada siang hingga malam walaupun belum merata. Turunnya hujan semalam, juga telah terprediksi dua hari sebelumnya, termasuk kondisi terparah pada Senin siang kemarin yang mencapai level berbahaya. BMKG Koto Tabang akan terus melakukan update data per jam setelah mesin pemantau memberikan data per dua menit,” jelasnya.

Terkait hot spot tiap musim kemarau, menurut Wan Dayantolis, kekeringan tidak membawa api, tapi ada unsur lain seperti sambaran petir dan ulah manusia.

“Bukan karena musim kemaraunya tapi karena ada unsur lainnya. Titik hot spot tidak menunggu kemarau panjang, dari pengalaman, 10 hari musim hujan berakhir titik panas sudah muncul. Karena itu kami mengharapkan utamakan pencegahan bukan penanggulangan. Kami juga memuji langkah mitigasi dari Pemko Bukittinggi dalam mengatasi dampak kabut asap dan nilai berhasil,” ungkapnya.

Dari hasil itu, Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah Disdikbud Bukittinggi, Yunis Faizal, mengatakan, melihat kondisi udara mulai membaik, maka Rabu (25/9) para pelajar akan kembali belajar di sekolah.

“Mengingat agar tidak ketinggalan materi pelajaran. Semoga besok kondisi udara semakin membaik dan anak tidak lagi terganggu proses belajar mengajar,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Nofriyanto CH, dalam kesempatan itu juga mengimbau, masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran, baik sampah ataupun jerami. “Kabut asap, kalaupun tidak bisa menghindari mari kurangi aktifitas di luar ruangan. Kami juga tidak membolehkan membakar sampah termasuk jerami karena akan menimbulkan dampak tidak baik bagi kondisi udara,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Kesmas dan Pencegahan Pengendalian Penyakit, Dinkes Bukittinggi, dr. Salvi Raini, mengatakan setelah kejadian kabut asap hampir dua minggu, belum ada kenaikan yang signifikan data keluhan masyarakat ke puskesmas. Karena sejak awal, memasuki dua hari kabut asap sudah sosialisasi untuk antisipasi kepada masyarakat.

“Namun kami mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari terhirupnya kabut asap dengan partikel berbahaya bagi masyarakat. Lama kelamaan daya tahan tubuh berkurang dan mulai terdampak ISPA. Memang tidak langsung udara dengan kondisi buruk akan berdampak kepada kondisi tubuh, tapi saat kondisi tubuh kita menurun maka akan timbul berbagai penyakit. Untuk itu, kami terus himbau untuk menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” pungkasnya. (u)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top