Menu

Pasar Ternak Aie Pacah Mati Suri

  Dibaca : 1273 kali
Pasar Ternak Aie Pacah Mati Suri
LPM beserta pemerintahan kelurahan rawang mengadakan syukuran bersama suksesnya acara manunggal BBGRM tahun 2021 dengan makan bajambah bersama.
IMG_20160216_121323

LANGANG— Kondisi Pasar Ternak Aie Pacah Kelurahan Aie Pacah, Kecamatan Koto Tangah seakan mati suri, karena sepinya aktivitas jual beli ternak di sana.

PADANG , METRO–Sejatinya pasar ternak yang telah berjalan sekitar 2 tahun dan rumah potong hewan (RPH) nya baru diresmikan Pemko Padang pada akhir 2015 lalu di Kelurahan Aie Pacah, Kecamatan Koto Tangah adalah Rumah Potong Hewan (RPH) terbesar di Sumbar dengan luas 3,8 hektare dan bangunan 20×40 meter. Namun begitu, pasar ternak ini terlihat ‘mati suri’, begitulah kata yang cocok untuk menggambarkan kondisinya.

Dari pantauan koran ini di lokasi, Selasa (16/2), pasar ternak itu terlihat sangat sepi. Hanya diisi oleh 4 orang toke sapi dan itupun warga yang berdomisili di sekitar RPH dengan jumlah ternak jika digabungkan sekitar 50 ekor. Saat ditanyai, Suhemi (40) selaku toke dan pengurus RPH enggan untuk membahas rincian untung-rugi sebagai pedagang sapi, namun ia menuturkan dana modal yang terbenam mencapai ratusan juta. “Kalau untung-rugi susah hitungnya. Dana yang terbenam sampai ratusan juta,” tuturnya.

Ia mengatakan, saat RPH didirikan, sempat ratusan ternak sapi dan kambing dari beberapa toke diperdagangkan di RPH ini. Namun seiring waktu, para tokepun menarik kembali ternak-ternaknya dari RPH Aie Pacah karena sangat sepi hingga mengalami kerugian. Saat ini RPH Aie Pacah hanya ramai waktu Lebaran Haji saja. Menurutnya, ini disebabkan kurangnya upaya pemerintah untuk mensosialisasikan pasar ternak baru ini, sedangkan untuk dikenalnya pasar oleh masyarakat butuh proses dan waktu yang cukup lama.

“Baru berdiri, pasar ini sangat ramai. Tapi sekarang cuma Lebaran Haji yang ramai. Sekarang lumayan ada kami empat tokek, sebelum ini cuma kandang yang ada isinya kosong,” tambahnya.

Berbeda dengan Buyuang salah seorang tokek sapi Aie Pacah membantah faktor lokasi sebagai sebab matinya RPH Aia Pacah. Menurutnya Menurutnya, akses lokasi RPH bagus dan area tersebut memiliki tanah yang keras, sehingga tidak berlumpur di kala hujan. Selain itu, Buyuang mengaku pihak Dinas Peternakan juga tidak pernah melakukan pengecekan ke lokasi setelah RPH didirikan.

“Sebenarnya lokasi bagus di sini karena terhindar dari macet. Dan tidak lumpur. Masuk tronton pun tidak akan terpuruk. Menteri, walikota tidak pernah ke sini, kecuali pernah ngecek itu waktu baru berdiri saja,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kota Padang Dian Fachri menyatakan, pasar ternak Aie Pacah sedang dalam pembenahan. Menurutnya, di sana telah dibuat master plan bahwa lokasi itu adalah pasar ternak kota Padang yang dilengkapi RPH.

“Sudah dialokasikan bahwa di situ memang telah dibuat master plan-nya sebagai pasar ternak Kota Padang yang di mana telah dilengkapi juga dengan RPH,” ujar Dian.

Dian menjelaskan pasar ini secara resmi memang belum beroperasi karena pembangunan pasar belum selesai sepenuhnya. Pembangunan pasar pada bagian bangunan transaksi jual beli yang akan diletakkan di tengah Pasar Ternak Aie Pacah tertunda akibat minimnya dana APBD dan besarnya pengeluaran pada sektor lain yang lebih diprioritaskan pemko seperti perbaikan jalan dan tempat wisata.

”Pasar ternak ini sampai sekarang masih belum kita bangun, yang kita bangun masih RPH nya. Jadi pasar ternak itu ada RPH, instalasi, rumah bulat untuk transaksi jual-beli dan semacamnya. Ada masterplannya, tapi memang belum ada biaya untuk membangun itu. Makanya belum jalan. Jadi pasar ternak itu kami mulai dari membangun RPH karena dana pembangunannya dibantu oleh pusat,” tambahnya.

Dian mengaku, sedang mengupayakan pembangunan pasar ternak Aie Pacah segera diselesaikan. Ia mengatakan, pernah membahas diadakannya pemasaran dan perkenalan Pasar Ternak Aie Pacah kepada masyarakat dengan mengadakan live stock expo ke Kepala Dinas Peternakan Sumbar di depan Bapak Walikota Padang. Rencana Dian, ia akan panggil para pedagang sapi dan daging untuk membawa ternak mereka guna dipamerkan untuk menarik minat masyarakat dan para pedagang sapi. Namun sampai sekarang belum ada keputusan tertulis dari dari dinas terkait provinsi kepada walikota terkait hal itu.

”Saya pernah mengajukan dan melobi di depan pak walikota ke kepala Dinas Peternakan Sumbar untuk mengadakan live stock expo di Padang, tapi memang belum saya terima keputusan dari provinsi berbentuk surat kepada walikota menetapkan di sana live stock expo untuk 2016 diadakan September ini,” ujarnya. ”Mudah-mudahan acara pameran jadi diadakan, supaya orang-orang seluruhnya datang baik dari Jambi, Bengkulu, dan sebagainya, pokoknya regional,” ujarnya. (cr3)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional