Menu

Pariwisata Zaman Now Butuh Pemimpin Zaman Now

  Dibaca : 179 kali
Pariwisata Zaman Now Butuh Pemimpin Zaman Now
Osvian Putra

Osvian Putra: Febby itu Progresif dan Millenial

PADANG, METRO – Ketua Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Riau, Osvian Putra mengatakan, geliat pariwisata tanah air beberapa tahun terakhir makin terasa kencang. Gerbang-gerbang terluar negeri ini dipercantik dan diubah visi dari halaman belakang menjadi halaman depan. Pintu masuk utama baik di wilayah barat, tengah dan timur dibenahi. Airport baru dibangun, pelabuhan laut dan jalur kereta api direvitalisasi, jalan tol dibangun masiv.

“Geliat pariwisata tanah air saat ini yang semakin kencang tentu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memacu pertumbuhan ekonomi,” sebut Osvian yang juga Sumando Tanah Datar yang saat ini berkiprah di Bumi Lancang kuning.

Menurutnya, semua arus barang dan manusia telah diperlancar. Jalur distribusi dipermudah dan disederhanakan. Imbasnya antara lain adalah sektor pariwisata. Jumlah kunjungan terlihat naik, devisa sektor pariwisata meningkat tajam dan multiplier effect yang dirasakan masyarakat juga meningkat.

Menyesuaikan dengan keadaan zaman yang penuh disrupsi dan perubahan yang begitu cepat, pemerintah menyiapkan strategi baru. Kalau dulu ada adagium yang besar mengalahkan yang kecil, maka sekarang paradigmanya adalah siapa yang cepat yang akan mengalahkan yang lambat.

Gelombang perubahan yang begitu masiv di segala lini, menurutnya terjadi semenjak berkembangnya teknologiinformasi. Hampir semua sendi kehidupan digitalisasi menyesuaikan dengan trend global. Akibatnya apa? Harus diakui banyak usaha konvensional jatuh, tumbang terkapar digilas teknologi.

“Heboh soal tiket penerbangan yang makin mahal, sistim penjualan dan distribusi tiket yang sekarang sudah berpindah dari travel biro konvensional ke market place baru dengan moda penjualan digital, semua bisa dilakukan dalam genggaman tangan dengan menggunakan gadget, semudah menggerakkan jari, semudah itu pula transaksi digital dibidang apa saja dilakukan saat ini. Marah……? Sama siapa?” ungkapnya.

Kalau membaca falsafah adat Minang, lanjutnya, alam takambang jadi guru, maambiak tuah ka nan manang, maambiak contoh ka nan lah sudah, Sumatra Barat patut bangga punya Feri Unaldi, salah satu founder Traveloka yang sekarang sudah menjelma menjadi unicorn.

“Artinya, sepanjang kita bisa membaca tanda-tanda zaman, mestinya kita tidak gagap dengan perubahan. Di banyak daerah di Sumatra Barat, untuk sektor pariwisata banyak kita lihat daerah-daerahmiracle (ajaib). Siapa sangka Sawahlunto yang dulu mati suri tiba-tiba bersinar terang dibawah kepemimpinan alm Amran Nur dan dilanjutkan sampai sekarang hingga kota itu mendapat predikat sebagai kota warisan dunia yang diakui oleh UNESCO,” terangnya.

Siapa juga yang menyangka bila daerah pesisir sepanjang tepi kawasan Pesisir Selatan kini menjelma sebagai primadona baru kawasan wisata terkemuka di tanah air. Sementara Lembah Harau di 50 Kota dan Bukittinggi sebagai kota pariwisata yang sudah lebih dahulu terkenal tetap berusaha beradaptasi menciptakan objek dan atraksi baru yang sesuai dengan konsep kekinian.

Di lain daerah, banyak yang sigap namun banyak juga yang gagap dengan perubahan. Pergeseran pola perjalanan, travel pattern, soal millennial market, digitalisasi dan lain-lain menjadi masalah.

Karena itu, menurutnya, beberapa daerah yang akan melaksanakan kontestasi pemilihan kepala daerah harus tanggap dengan kondisi ini agar tidak ketinggalan kereta mengikuti arus zaman. Harus dicari pemimpin- pemimpin muda yang adaptatif mengikuti perubahan, mampu berpikir out of the box danberani mengambil keputusan.

Contohnya, di Luhak Nan Tuo yang sebentar lagi akan menggelar Pilkada. Potensi terbesar di sektor pariwisata sepertinya belum tergali secara maksimal dengan menggunakan pola terkini. Semua masih berjalan apa adanya, natural dan tidak banyak sentuhan modernisasi baik visi dan sistim.

Dia menilai, selama ini Tanahdatar cenderung menjadi objek, banyak wisatawan yang datang, akan tetapi PAD sektor pariwisata belum tergali secara maksimal. Rendahnya tingkat pertumbuhan atraksi wisata, objek yang cenderung monoton serta kurangnya amenitas membuat Tanah Datarsebagai pemilik warisan budaya Minangkabau seolah “terjual murah,” dibanding daerah sekelilingnya yang lebih lincah bermain memanfaatkan perubahan.

Osvian Putra berpendapat, saat ini ada anak muda putra daerah yang punya potensi besar dan memiliki rekam jejak bagus di bidang pariwisata adalah H Febby Dt Bangso.

“Selain sebagai pelaku industry pariwisata yang telah malang melintang selama puluhan tahun di bidang biro perjalanan, dia juga punya latar belakang akademis jurusan paska sarjana pariwisata Universitas Trisakti. Salin itu, beliau sekarang berkiprah sebagai Staff Khusus Mentri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal serta Transmigrasi. Dari pengalamannya itu, saya rasa kemampuan Febby Dt Bangso untuk mengelola pariwisata Tanahdatar sangatlah mumpuni,” tuturnya.

Apalagi dengan perpaduan latar belakang pekerjaan, pendidikan serta karier politiknya sangat mendukung apabila Tanahdtar ingin serius bangkit dan maju di sektor pariwisata. Dengan usianyaFebby Dt Bangso yang relative masih muda, tentunya paham trend millennial yang berlaku saat ini.

“Saya yakin Tanah Datar akan melejit mengejar ketertinggalannya dan akan lari sprint untuk mengembangkan sektor pariwisata. Sebab pariwisata Zaman Now hanya akan bisa berkembang jika diurus generasi Zaman Now juga.” Begitu pungkas Rang Sumando yang juga salah satu Master Asesor bidang pariwisata ini. (hsb)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional