Menu

Paripurna Istimewa Memperingati Hari Jadi Sumbar ke-75, Sejahterakan Masyarakat dengan Lebih Memaksimalkan Potensi Daerah

  Dibaca : 134 kali
Paripurna Istimewa Memperingati Hari Jadi Sumbar ke-75, Sejahterakan Masyarakat dengan Lebih Memaksimalkan Potensi Daerah
PENYERAHAN PENGHARGAAN— Dalam rapat paripurna istimewa DPRD tentang Hari Jadi Sumbar ke75, Gubernur Irwan Prayitno menyerahkan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dinilai berjasa dalam mengangkat nama Sumatra Barat. Penyerahkan disaksikan Ketua DPRD Sumbar Supardi, wakil Ketua DPRD dan tamu undangan.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Provinsi Sumatra Barat menggelar Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka memperingati Hari Jadi Provinsi Sumatera Barat Ke-75, Kamis (1/10). Selain dihadiri sejumlah tokoh-tokoh Sumbar, dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan penghargaan kepada 14 orang dan kelompok yang dinilai berjasa dalam mengangkat nama Sumatera Barat.

Paripurna istimewa yang digelar secara virtual dan memenuhi standar protokol kesehatan covid-19 itu dipimpin Ketua DPRD Sumbar Supardi, dan didampingi wakil Ketua DPRD. Pimpinan Fraksi, pimpinan komisi dan pimpinan AKD hadir secara langsung. Sementara untuk anggota dewan yang lain mengikuti secara virtual.

Hadir dalam kesempatan itu Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, mantan Menteri Dalam Negeri yang juga mantan Gubernur Sumbar periode 2005-2009 Gamawan Fauzi, sejarawan Minangkabau dan sejarawan Islam dari UIN Sumbar Yulizar Yunus, Ketua MUI, LKAAM, Niniak Mamak, Bundo Kanduang, dan tokoh-tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.

Ketua DPRD Sumbar Supardi saat membuka rapat paripurna mengatakan, meski Sumbar sudah berusia 75 tahun, namun peringatannya baru dua kali dilakukan. “Hari jadi Provinsi Sumatera Barat baru dimulai tahun kemarin, sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019,” ungkapnya.

Dijelaskannya, penetapan 1 Oktober 1945 sebagai hari jadi bertepatan dengan dibentuknya Keresidenan Sumatera Barat. Dahulu keresidenan dibentuk bersamaan dengan pengambilalihan pemerintahan dari tangan penjajahan Jepang.

“Momentum menetapkan tanggal 1 Oktober 1945 sebagai titik tolak Hari Jadi Sumbar adalah rapat KNID-SB yang memutuskan untuk membentuk kembali Keresidenan Sumbar dan sekaligus pengambilalihan kekuasaan Keresidenan dari tentara pendudukan Jepang oleh pemuda-pemudi yang dimotori oleh M Syafei, Dr M Djamil, dan Rasuna Said,” terangnya.

Penetapan tanggal hari lahir ini, lanjutnya, telah melalui pertimbangan mendalam serta memperhatikan nilai-nilai dan heroitisme yang terkandung di dalamnya serta dukungan data-data autentik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam rentang waktu 75 tahun tersebut, lanjut Supardi , seharusnya telah banyak yang dilakukan untuk menjadi Sumatera Barat lebih maju, lebih beradab dan lebih sejahtera. Ia juga mengajak untuk menjadikan peringatan Hari Jadi Sumatera Barat ke-75 tahun 2020 ini, sebagai wahana refleksi dan evaluasi sampai sejauh mana yang telah dicapai pada usia ke 75 tahun tersebut.

“Refleksi dan evaluasi menjadi penting , karena dalam waktu dekat, juga akan terjadi suksesi kepemimpinan daerah yang akan membawa daerah ini ke arah yang lebih baik, lebih maju, dan lebih sejahtera,” tutur Supardi.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengucapkan selamat atas terwujudnya Sumbar sebagai provinsi yang telah memperingati hari jadi pada setiap 1 Oktober dan perayaan ini sudah dua kali dirayakan.

“Ulang tahun tetap kita rayakan walaupun dalam situasi pandemi Covid-19. Dan perayaan ulang tahun ini sudah 2 (dua) kali dirayakan. Mudah-mudahan dapat memberikan motivasi dan momentum semangat dan pemikiran bagi masyarakat Sumbar agar menjadi lebih baik lagi kedepan,” ucapnya.

Lebih lanjut Irwan Prayitno menjelaskan bahwa Sumatera Barat merupakan satu kesatuan daerah yang disebut daerah otonomi memiliki tujuan mensejahterakan masyarakat Sumbar sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada didaerah.

“Untuk itu, peringatan hari ini dapat menjadikan sejarah yang menjadikan tolak ukur dapat dipelajari, menggambarkan bagaimana sebetulnya sebuah daerah, karakter bisa membangun dan mengembangkan”, ulasnya.

Irwan Prayitno mengungkapkan, sejarah telah membuktikan Sumbar tampil dengan karakteristik yang dimiliki, mari kita majukan Sumbar dengan potensi yang ada. Seperti potensi parawisata, budaya, kuliner, dan juga potensi Sumberdaya manusia (SDM).

Semua ini menjadikan Sumbar maju dengan cirinya dan karakrer sendiri. Tidak perlu ikut daerah lain yang punya cirinnya. Kita ingin Sumbar maju seiring dengan kemajuan Indonesia. Dengan memperkuat sumber daya yang ada dan potensi yang ada kita optimalkan.

Sesuai dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang masih ada dalam kehidupan masyarakat Sumbar, dan sampai sejauh mana pula filosofi ABS-SBK tersebut, dapat menyesuaikan dengan perkembangan yang ada.

“Untuk menjadikan kehidupan masyarakat Sumbar aman tentram dan harmonis serta beriman dan bertakwa mengamalkan nilai nilai budaya dan keagamaan dalam mengamalkan nilai-nilai positif yang teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari”, harap Irwan.

Sementara itu, Gamawan Fauzi dalam pidatonya menyampaikan agar Pemprov dan DPRD Sumbar berfikir keras dalam memajukan provinsi Sumbar ke depan. Pasalnya, daerah yang sebelumnya belajar di Sumbar, sudah mulai melewati Sumbar dari berbagai sektor.

Dia juga mengingatkan pemerintah daerah Sumatra Barat (Sumbar) belajar konsep pembangunan ke negara Singapura dan Bhutan. Ia menilai negara tersebut konsisten mengoptimalkan kelebihan dan mengeliminasi kelemahan yang ada untuk memajukan daerahnya.

“Pembangunan bukanlah mengambil atau memindahkan sebuah konsep dari negara atau daerah yang sudah terbukti maju dan memindahkan ke Sumbar namun harus disesuaikan dengan kondisi yang kita miliki,” kata Gamawan.

Ia mengatakan, setiap daerah memiliki kondisi, situasi, potensi, peluang, tantangan dan hambatan yang berbeda. Sumbar dapat menarik pelajaran dari Singapura dan Lee Kuan Yew. Mantan Perdana Menteri Singapura itu saat muda dan baru menamatkan sekolah di Inggris lalu melakukan analisa yang sungguh-sungguh bagaimana cara memajukan Singapura.

Menurut Gamawan Lee belajar dari New York sebagai kota bisnis terbesar di dunia dan Frankrut sebagai kota perbankan di Eropa. Kemudian Singapura merumuskan kebijakan dimulai dari industri perbankan dan perdagangan dengan memperbaiki kekurangan model perbankan dan bisnis perdagangan.

“Singapura konsisten dengan konsepnya sehingga memetik hasil seperti sekarang,” katanya.

Ia menilai sejak awal orde baru, Sumbar yang memiliki Kota Padang sebagai ibu kota tidak semegah ibu kota provinsi lain, namun hal itu bukan segalanya, karena tujuan pembangunan kalau kemegahan maka akan ada bangunan besar seperti hotel, perkantoran dan gedung-gedung. Padahal itu bukan milik masyarakat setempat.

Apabila pusat perbelanjaan, hotel, tempat hiburan yang berskala besar tidak dimiliki masyarakat Sumbar maka uang yang dihasilkan  akan mengalir kepada pemilik modal yang ada di luar Sumbar bahkan ditarik ke luar negeri.

Ia mengatakan potensi sektor pariwisata yang dimiliki oleh daerah itu sangat indah yang harus dikembangkan dengan sungguh-sungguh terencana dan terprogram dengan baik sehingga memberikan sumbangan pemasukan bagi daerah. Sumatera Barat dapat memilih arah pengembangan pariwisata kemana, apakah wisata keluarga, wisata religi, wisata alam atau wisata kuliner.

Ia mengatakan ada kekhawatiran objek wisata rusak karena konsep pembangunan yang tidak jelas dan tidak tuntas di setiap objek wisata.

Untuk bidang pendidikan, sejak dulu daerah ini terkenal dengan sejumlah sekolah ternama yang banyak menghasilkan ulama besar, pemikir besar guru, pendidik yang tersebar di Indonesia. Ini mungkin dapat digerakkan untuk membangun sekolah berkualitas hingga orang yang ingin bersekolah datang ke Sumatera Barat.

Sumbar sebagai tempat berobat, menurut dia ini merupakan kekuatan karena Fakultas Kedokteran Unand salah satu yang terbaik di Pulau Sumatera yang memiliki guru besar, para ahli, spesialis dan lainnya. Lalu bidang pertanian yang menjadi mata pencaharian bagi 50 persen warga Sumbar.

Petani di Sumbar sebagian besar petani sawah dan perkebunan campuran kecil yang bersifat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja namun belum untuk meningkatkan kesejahteraan.

Lalu, bidang keagamaan, agama merupakan pondasi kuat dalam sendi kehidupan masyarakat Minangkabau dan agama merupakan hal yang sangat penting dan mendasar sehingga filosofi Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah (ABS-SBK). (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional