Menu

Pandong Dharmasraya Sebut Mahyeldi Tepat Nakhodai Sumbar

  Dibaca : 447 kali
Pandong Dharmasraya Sebut Mahyeldi Tepat Nakhodai Sumbar
Pandong Spenra (Tokoh Muda Kabupaten Dharmasraya)

DHARMASRAYA, METRO
Ketokohan Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah tak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan, tokoh muda Kabupaten Dharmasraya, Pandong Spenra juga terkesan dan berani angkat bicara terkait sosok yang memimpin ibu kota Provinsi Sumbar ini selama dua periode itu.

“Kami jauh tinggal di Pulau Punjung, Kabupatan Darmasraya, perbatasan Sumbar dengan Provinsi Jambi. Setiap hari kami mengamati kerja Buya Mahyeldi, kami sangat terkesan cara beliau membenahi Kota Padang. Bahkan kami ‘cemburu’ sama Buya. begitu cepat beliau membenahi ibu kota kita ini,” kata pria yang dikenal dekat dengan suku di pedalaman Dharmasraya dan Jambi itu.

Menurut Pandong, semua tahu betul banyaknya permasalahan di Padang sebelum Manyeldi jadi wali kota. Seperti persoalan jalan By Pass Padang, persoalan Pasar Raya Padang dan pasar satelit yang ada di Kota Padang. Sampai persoalan pantai Padang yang terlihat kumuh dan identik dengan tenda cepernya atau lokasi maksiat.

“Akhirnya hari ini kita bisa melihat, melalui sentuhan tangan Buya Mahyeldi, ketika beliau melakukan pembenahan boleh dikatakan tidak ada gejolak sama sekali. Itu bukti kongkret yang bisa kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri, semuanya berjalan dengan aman,” katanya.

Pandong melihat, Mahyeldi sangat cocok untuk memimpin Provinsi Sumbar ke depan. “Saya rasa bentuk kepemimpinan seperti Buya Mahyeldi yang kita inginkan untuk Sumatra Barat ke depannya. Tak ada salahnya Sumbar dinakhodai oleh Buya Mahyeldi,” ucap Pandong di Pulau Punjung.

Katanya, Sumbar terkenal masyarakatnya beradab, berbudaya, adat basandi syarak, syarak bansandi kitabullah (ABS-SBK). Maka dalam konteks ini melekat dengan Buya Mahyeldi.

“Tidak salah lagi Buya Mahyeldi lebih tepat memimpin Sumbar. Justru zaman yang dihadapi bukan seperti dulu lagi sudah banyak berubah. Orang menggunakan teknologi dan ini menjadi tantangan. Makanya yang dibutuhkan itu adab, Buya Mahyeldi mempunyai itu,” kata alumni Universitas Bung Hatta (UBH) Padang ini.

Selanjutnya, menurut Pandong, Mahyeldi tidak banyak bicara. Membuktikan cita-citanya hanya dengan kerja. Sumbar sangat membutuhkan seorang pemimpin di Sumatra Barat seperti Mahyeldi.

“Dia punya karakter, layak diteladani. Buya Mahyeldi ketika mengelola pemerintahan untuk melayani masyarakat begitu cermat, cerdas, banyak program semua berjalan lancar, terencana untuk kepentingan masyarakat,” sebut direktur Langgam Institute ini.

Untuk itu, ditegaskan Pandong, kepemimpinan ke depan berbicara bukan masalah pembangunan yang mewah saja. Budaya di Ranah Minang harus dipertahankan.

“Buya Mahyeldi punya nilai untuk itu. Kita sangat bersyukut Buya Mahyeldi dicalonkan jadi gubernur Sumbar. Sekali lagi saya jelaskan, saya bukan menolong buya tetapi menolong Sumbar. Karena yang pantas itu hanya Buya Mahyeldi orang yang tepat jadi nakhoda di Sumbar,” ujarnya.

Sementara itu, pendamping Mahyeldi, Calon Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy juga sudah menyambangi Dharmasraya untuk silaturahim ke sejumlah tokoh dan menyerap aspirasi masyarakat Dharmasraya. Audy berdiskusi dengan berbagai elemen masyarakat, tak hanya sharing mengenai pertanian dan peternakan tetapi juga membahas mengenai adat istiadat, Tanah ulayat, peran ninik mamak, Kamis (9/7).

Audy mengelilingi pasar di daerah itu dan bercengkrama dengan para pedagang. Audy beserta tim melakukan temu ramah bersama sejumlah tokoh pada Selasa (7/7) malam di Aula Mata Air Resto Pulau Punjung.

Ninik mamak mengharapkan agar persoalan adat terkait tanah ulayat bisa diakomodir oleh pemerintah ke depan. Tak hanya itu, masyarakat Dharmasraya yang mayoritas petani juga mengharapkan program-program inovatif di Dharmasraya.

Dalam kesempatan itu Audy juga meminta restu kepada sejumlah tokoh di Dharmasraya sanak saudara dan ninik mamak agar diizinkan untuk bisa bertarung dalam pesta demokrasi tanggal 9 Desember 2020 mendatang. Selama di perantauan, Audy disibukkan di dunia peternakan dan pertanian.

Setelah berkeliling di pasar Audy juga mengunjungi peternakan ayam, Audy memberi masukan kepada petani dan peternak agar lebih dekat dengan konsumen teknologi. Kunjungan terakhir Audy di Dharmasraya ialah ke pondok pesantren Tarbiyatul Athfal Koto Ranah Dharmasraya. Audy melakukan diskusi tentang pendidikan dan pesantren yang representatif dan mandiri dalam berbagai aspek. (uki)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional