Menu

Padang Batal jadi Tuan Rumah Penas Tani dan Nelayan,  Beredar Surat Pemindahan Lokasi ke Padangpariaman

  Dibaca : 344 kali
Padang Batal jadi Tuan Rumah Penas Tani dan Nelayan,  Beredar Surat Pemindahan Lokasi ke Padangpariaman
TINJAU LOKASI PENAS— Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit didamping Wakil Wali Kota Padang Hendri Septa, meninjau lokasi Penas Tani dan Nelayan XVI Tahun 2020 di kawasan Aiapacah, beberapa waktu lalu. Namun, sayangnya, Kota Padang dinilai tidak siap dan akhirnya tuan rumah dialihkan ke Kabupaten Padangpariaman.

AIAPACAH, METRO – Kota Padang gagal menjadi tuan rumah iven berskala nasional Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XVI Tahun 2020. Iven yang digadang-gadangkan bakal mendatangkan puluhan ribu orang ke Kota Padang, pada 20 hingga 25 Juni 2020 di Aiapacah itu, akhirnya batal dilaksanakan di ibu kota provinsi Sumbar ini.

Dari informasi yang beredar Senin (9/12), Gubernur Sumbar Irwan Prayitno melalui surat resminya, acara dialihkan kepada Kabupaten Padangpariaman.

Dalam surat itu, Gubernur Irwan Prayitno mengatakan bahwa urusan penempatan dan pemindahan lokasi Penas KTNA adalah dari pusat. Pemerintah pusat punya tim sendiri yang mengevaluasi kesiapan teknis di lapangan.

Kemudian, terang Irwan, pemerintah pusat juga yang memutuskan sesuai dengan surat Panitia Penyelenggara Penas Petani dan Nelayan XVI Tahun 2020 tertanggal 2 Desember 2019. “Surat Gubernur mengikuti keputusan panitia pusat yang telah melakukan evaluasi,” ujar Irwan, kemarin.

Dalam surat Panitia Penyelenggara Penas Petani dan Nelayan XVI Tahun 2020 Nomor 09/PENAS XVI/12/2019 disebutkan bahwa, merekomendasikan lokasi kegiatan Penas Petani Nelayan XVI Tahun 2020 yang semula bertempat di Kota Padang, dipindahkan ke Kabupaten Padangpariaman.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nusyamsi yang menandatangani surat itu mengatakan, keputusan ini berdasarkan hasil rapat persiapan Penas Petani Nelayan XVI Tahun 2020 yang dilaksanakan pada 9 September di Padang dan 16 Oktober di Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian.

Menurut Dedi, panitia penyelenggara belum memperoleh hasil yang optimal terkait persiapan penyelenggaran Penas Petani Nelayan XVI Tahun 2020. Untuk mengetahui progress lebih lanjut, dilaksanakan rapat terbatas di Ruang Oval Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian tanggal 2 Desember 2019.

Rapat dipimpin Ketua Umum KTNA Nasional dan dihadiri Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Wakil Gubernur Sumbar dan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Sumbar. Hasil rapat merekomendasikan pelaksanaan Penas Petani Nelayan XVI dipindahkan ke Padangpariaman.

Sementara itu, kemarin, surat pernyataan Gubernur Sumbar telah beredar luas dan viral di sejumlah grup whatsapp dan media sosial. Sebagian pihak sangat menyayangkan hal itu karena telah dipersiapkan dan disosialisasikan sejak jauh- jauh hari.

“Alah pindah barang ko ka Pariaman. Sebagai ibukota provinsi, Kota Padang kini lamah. Dak punya posisi tawar,” celetuk Junior, salah seorang anggota grup WA yang juga tergabung dalam grup WA wartawan.

Pemindahalihan tuan rumah itu dinilai sebagai kegagalan Kota Padang menyakinkan pemerintah pusat dan gubernur untuk mengadakan even nasional tersebut. Padahal, berbagai persiapan telah dilakukan. Mulai dari persiapan lahan di sekitar kantor Balaikota Aiapacah sampai menyeleksi rumah-rumah warga sebagai tempat menginap para peserta nanti.

Anggota grup WA lainnya, juga berkomentar hal sama. Banyak yang menyebut, mengatakan iven Penas Tani dan Nelayan bakal jadi panas, karena Kota Padang gagal sebagai pelaksana tuan rumah. Padahal sejak awal sudah ditunjuk.
“Sepertinya Penas Tani dan Nelayan ini bakal memanas. Kota Padang kalah dengan Padangpariaman,” celetuk Andri Koboy, anggota grup WA.

Seperti informasi yang beredar dalam surat resmi bernomor 253/12975/DTPHP/12/2019, Gubernur Sumbar mengatakan Kota Padang sebagai tempat pelaksanaan Penas Tani dan Nelayan yang ke XVI batal dan dialihkan ke Kabupaten Padang Pariaman.

Tidak Ada Pembatalan

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Syaiful Bahri, yang bertindak sebagai Sekretaris Umum Panitia Pelaksana Penas Tani dan Nelayan XVI menanggapi informasi pembatalan tersebut dengan ’tertawa kecil’. Lalu, ia pun membantahnya.

“Tidak ada pembatalan. Kota Padang tetap sebagai penyelenggara,” kata Syaiful Bahri kepada koran ini dengan santai.

Menurutnya, sampai saat ini belum ada satu surat pun yang sampai kepadanya yang menyatakan pembatalan Padang jadi tuan rumah. Panitia juga telah melakukan berbagai persiapan. Bahkan ia mempresentasikan, persiapan yang telah dilakukan sudah mencapai 60 persen.

Mulai dari persiapan lokasi acara, lahan yang akan ditanami dan tempat menginap para peserta Penas Tani dan Nelayan. Dijelaskannya, saat ini lokasi acara sudah disiapkan di samping Balaikota Aiapacah Padang.

Saat ini, lahan sedang didatarkan. Sementara untuk lahan yang akan ditanami buah buahan serta padi hanya tinggal memunggu penanaman saja.

Khusus untuk penginapan para peserta, jumlah rumah masyarakat yang telah disiapkan adalah untuk 48 ribu peserta.

“Kita sudah siapkan semua. Sudah 60 persen. Kalaupun dibatalkan, pasti ada formalitas pembatalan itu. Saya belum terima,” katanya.

Amasrul: Saya Sedang di Pusat untuk Pemantapan Penas

Terpisah, Sekretaris Daerah Kota Padang Amasrul, mengaku tidak mengetahui tentang kabar pembatalan Kota Padang sebagai tuan rumah Penas Tani dan Nelayan 2020 nanti. Amasrul yang dihubungi koran ini kemarin mengaku sedang berada di Jakarta untuk pemantapan persiapan acara tersebut.

“Saya tidak tahu kabar itu. Saya sedang berada di pusat sekarang dalam rangka pemantapan persiapan Penas Tani dan Nelayan,” kata Amasrul singkat.

Amasrul enggan berkomentar banyak. Ia juga mengaku tidak mengetahui surat gubernur Sumbar yang membatalkan agenda nasional itu.

“Saya tak tahu,” katanya.

Untuk diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggiatkan pertukaran inovasi antar petani, diantaranya dengan secara rutin memfasilitasi gelaran Penas Tani dan Nelayan. Esensi Penas sebagai ajang pertukaran inovasi dan teknologi antara petani, tidak hanya terjadi tiga tahun sekali, tapi bisa terjadi setiap saat.

Penas merupakan proses pembelajaran dari petani, oleh petani, dan untuk petani. Kami berkoordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbantan) untuk pesiapkan teknologi dan inovasi yang akan diperagakan nanti. Semua (teknologi.red) ini akan dilihat langsung oleh petani. Petani secara otomatis akan mereplikasi kalau memang teknologi itu aplikatif,”kata Momon.

Kegiatan Penas merupakan kegiatan rutin setiap tiga tahun sekali. Digagas oleh para tokoh tani dan nelayan sejak tahun 1971, kegiatan Penas diharapkan bisa menjadi wadah pertemuan para tani dan nelayan dan petani hutan untuk saling mengisi dan memperkuat kepemimpinan agribisnis sektor pertanian dan perikanan. (tin/fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional