Menu

PAD Sektor Pariwisata Turun Drastis di Kota Bukittinggi

  Dibaca : 100 kali
PAD Sektor Pariwisata Turun Drastis di Kota Bukittinggi
Ibnu Azis

BUKITTINGGI, METRO–Sudah menjadi rahasia umum bahwa pandemi Covid-19 yang berlang­sung sejak Maret 2020 lalu, telah memberikan kon­tribusi negatif yang sangat signifikan terhadap banyak sektor. Di antaranya tidak terkecuali pada sektor pa­riwisata, khususnya di Kota Bukittinggi.

Anggota DPRD Kota Bukittinggi Ibnu Azis me­ngatakan, secara kasat mata hal ini dapat dilihat dari adanya kebijakan “bu­ka-tutup” objek wisata ber­bayar. Sehingga, menu­runnya tingkat  kunjungan wisatawan pada momen-momen krusial seperti hari libur keagamaan dan hari libur nasional atau libur sekolah. Dan merosotnya okupansi (tingkat hunian) hotel atau penginapan yang ada di Kota Wisata ini terutama dalam kurun satu tahun ke belakang.

Dari sisi pemerintah daerah, situasi dan kondisi tersebut di atas sudah ba­rang tentu sangat berpe­ngaruh terhadap target penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupa pajak dan retribusi dari sektor pariwisata.

Sebagai contoh dan perbandingan saja. Jika pada tahun 2017 sampai 2019 lalu, jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Sanjai ini rata-rata lebih dari 1 juta orang per tahunnya de­ngan rata-rata capaian PAD sekitar Rp15,44 miliar lebih setiap tahun. Se­men­tara itu, pada tahun 2020, tingkat kunjungan wisa­tawan ke Kota Bukittinggi menurun drastis mencapai 500 ribu orang lebih atau hanya separuh dari rerata empat tahun sebelumnya. Dengan capaian PAD ber­kisar Rp 10 miliar lebih.

Maka tidak ada kata lain, pemerintah daerah melalui SKPD teknis serta stakeholder terkait meski segera menyatukan lang­kah serta menyusun stra­tegi antisipatif nan  jitu. Sehingga, bisa keluar dari kunkungan permasalahan pandemi yang belum dapat diperkirakan kapan akan selesai.

Pertama, pemerintah daerah melalui SKPD tek­nis mesti dapat memas­tikan bahwa segenap sta­keholder atau pelaku pari­wisata terkait  telah me­miliki standar penerapan protokol kesehatan. Di an­ta­ranya Prokes  berbasis  CHSE (kebersihan, kese­hatan, keamanan dan ke­les­tarian lingkungan hidup) pada setiap pelayanan a­ko­modasi, transportasi maupun konsumsi.

Kedua, terkait kebe­radaan objek wisata. pe­merintah daerah melalui SKPD berkenaan. Mesti dapat menjamin  terlak­sananya penerapan pro­tokol  kesehatan dengan menyediakan sarana pra­sarana atau fasilitas pro­tokol kesehatan seperti adanya alat pengukur suhu tubuh (thermo gun). Lalu, wadah untuk cuci tangan (wastafel), handsanitizer dan masker. Dan malahan jika memungkinkan, pada objek wisata yang besar, dapat disediakan klinik emergency.

”Ketiga, dapat di­per­tim­bangkan bahwa untuk mengantisipasi keru­mu­nan massa, perlu diambil kebijakan untuk melakukan pembatasan terhadap jum­lah pengunjung (maksimal 50 persen) pada setiap objek wisata  dan pem­batasan jam operasional untuk objek wisata ber­bayar,” ujarnya.

Keempat,  dalam va­riasi destinasi wisata,  pe­merintah daerah melalui SKPD teknis didorong untuk lebih mengaktifkan kem­bali keberadaan kampung atau desa wisata berbasis kelurahan. Serta mem­fasilitasi dan mendukung tumbuh-kembangnya ben­tuk-bentuk wisata kreatif lainnya, seperti wisata edu­kasi, sejarah dan kuli­ner di masa pandemi ini.

Kelima, pemerintah da­erah juga didorong untuk mereaktivasi eksistensi dan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi badan promosi daerah  sebagai stakeholder independen yang akan  membantu pe­merintah daerah mem­promosikan pariwisata Ko­ta Bukittinggi khususnya di masa pendemi. Sekaligus juga memberikan keya­kinan kepada setiap calon wisatawan atau stakehol­der pariwisata lainnya, baik di dalam negeri mau­pun di luar negeri, bahwa pariwisata Bukittinggi tetap sehat, kuat dan mandiri di masa pandemi.

Keenam, pemerintah daerah melalui SKPD tek­nis terkait juga mesti dapat  memastikan bahwa pene­gakan regulasi retribusi pajak dan retribusi daerah yang mendukung pariwi­sata serta regulasi adaptasi kebiasaan baru dilakukan dengan massif, cermat dan optimal.

Ketujuh, pemerintah daerah juga mesti dapat memastikan sekaligus men­jamin bahwa seluruh stakeholder pariwisata di Kota Sanjai ini telah ikut dan terlibat langsung mensuk­seskan program vaksinasi Covid-19 dalam menekan penyebaran virus ini di­tengah-tengah masya­ra­kat.

Maka sudah tepat rasa­­nya apabila pemerintah daerah dan segenap stakeholder terkait melakukan langkah-langkah strategis dan terobosan baik. Seba­gaimana telah diuraikan di atas dengan tetap be­rikh­tiar untuk melakukan upaya antisipatif terhadap pen­cegahan dan penang­gu­langan penularan Covid-19 ini pada beragam sektor kehidupan.

”Karena kita semua meyakini bahwa  harapan itu nyata adanya. Dan  se­mo­ga Allah SWT senan­tiasa membersamai selu­ruh ikhtiar tulus dan me­nye­luruh untuk mengan­tisipasi potensi penye­ba­ran Pandemi Covid-19 di negeri yang kita cintai ini,” katanya. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional