Menu

Omzet Penjualan Kopi Menurun

  Dibaca : 172 kali
Omzet Penjualan Kopi Menurun
MERACIK— Owner Kopi Arabika Minang Kajai Specialty Coffee Pasbar memperagakan cara penyeduhan kopi secara manual brew.

Owner Minang Kajai Specialty Coffee, Hendi mengeluhkan penjualan kopi menurun drastis sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Pengusaha kopi dari Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Pasaman Barat  (Pasbar), itu tetap Optimis wabah pasti akan berlalu. “Usaha kopi ini sudah saya rintis sejak tahun 2017. Namun, sejak pandemi Corona, daya jual Kopi menurun,” ujarnya.

Peraih juara pertama dalam festival kopi tingkat Sumbar, tiga tahun berturut-turut (2017 hingga 2019) itu tidak bisa berbuat banyak dalam masa pandemi Corona ini.”Sayangnya, selama pandemi Corona peran pemerintah daerah dalam pemasaran hasil tani kurang mendukung. Sehingga kita tidak berani membeli kopi dalam jumlah besar kepetani, sementara permintaan dari luar pun tidak banyak,” katanya.

Ia mengaku, meski pemerintah kurang menunjukkan dukungan dan peran dalam pemasaran hasil tani petani kopi . Pemerintah dalam hal lain tetap mensupport dan tetap memperhatikan.

Misal dalam bantuan bibit, mesin serta alat-alat tani lainnya. Pemerintah dalam hal ini sangat berperan aktif dan menunjukkan suportnya. Akan tetapi selama pandemi Corona pemerintah setempat tidak bisa mengayomi petani kopi . Disamping itu dijelaskan Hendi, kelemahan di dunia usaha kopi dalam penentuan harga jual yang tidak bagus dan juga stok kopi belum banyak, sehinhha untuk pembeli dari luar negeri tidak bisa diladeni karena permintaan dalam jumlah besar.

“Bisa harga kopi Pasbar, terjual tinggi, namun pembeli ini meminta dalam jumlah besar, sementara hasil petani kita masih terbatas. Untuk pembeli dalam negeri selalu beralasan Corona menekan harga, jadi kita tidak berbuat apa-apa,” jelasnya.

Hendi menuturkan, sejauh ini ia hanya sanggup menyediakan kopi Kajai, berupa Green Bean . Sekitar 1,8 ton dalam setahun. Itu pun langsung dikumpulkan atau dibeli dari petani langsung.

Bahkan diungkapkannya, sebelum pandemi Corona ia sempat bekerjasama dengan eksportir dari Amerika Serikat. Kerjasama itu terputus sejak Corona terjadi setelah setahun jalan. “Semua terkendala karena Corona, padahal kita baru merintis dan baru mendapatkan buyer yang bisa menerima jumlah Green Bean dengan keadaan terbatas,” ungkapnya.

Peluang usaha kopi dinilainya sejauh ini sangat potensial dan menjanjikan, karena kopi saat ini menjadi tren baru dikalangan anak muda.  Sementara luas kebun kopi di Pasbar, ada sekitar 100 hektare secara terpisah, dengan hasil green bean dalam sebulan sekitar 500 kilogram. Ada tiga Kecamatan penghasil kopi didaerah itu yakni di Kecamatan Talamau dan Kecamatan Luhak Nan Duo. “Yang terluas kebun kopi milik rakyat itu berada di Kecamatan Talamau khususnya di Nagari Kajai dengan mayoritas kopi arabika. Untuk kopi robusta ada di Kecamatan Gunung Tuleh,” tuturnya.

Total jumlah green bean kopi yang dihasilkan dari kebun milik masyarakat di Pasbar itu, belum menghasilkan secara maksimal karena masih banyak yang baru berumur setahun, selain itu kurang terawat. Ia mengatakan dimasa pandemi Corona sangat mempengaruhi harga jual kopi . Ada penurunan 30 persen dari harga sebelum Corona berlangsung yang mencapai Rp 100 ribu untuk per kilogramnya green bean kopi (beras kopi). Saat ini harga kopi Rp 50 ribu sampai Rp60 ribu per kilogramnya berupa beras. Untuk penjualan buah cery kopi basah Rp 6 ribu per kilogram. “Harga kopi saat ini bervariasi dan tiap harinya berubah-rubah. Ya itu tadi, kita tidak punya pedoman harga tetap dari luar. Sementara pembeli luar selalu beralasan Corona,” keluh Hendi mengakhiri. (end)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional