Menu

Noka dan ALKO Berkolaborasi, Ratusan Petani Kopi Kerinci Diberdayakan

  Dibaca : 172 kali
Noka dan ALKO Berkolaborasi, Ratusan Petani Kopi Kerinci Diberdayakan
OUTLET— Kedai Kopi Noka Coffee meluncurkan outlet kedua mereka di Kota Padang yang berlokasi di Jalan Palembang Nomor 14, Ulak Karang Selatan.

PADANG, METRO
Berkolaborasi dengan Koperasi Petani Alam Korintji (ALKO), Kedai Kopi Noka Coffee, sebagai brand yang mengedepankan tema “The Infinite Story of Farmers, meluncurkan outlet kedua mereka di Kota Padang.

Berlokasi di Jalan Palembang Nomor 14, Ulak Karang Selatan, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Rumah Noka kedua setelah Bandung ini kembali mengedepankan produk olahan kopi Specialty grade dari petani lokal dilengkapi makanan fusion Western dan tradisional Sumbar untuk menambah kehangatan.

Dengan sedikitnya 625 petani kopi dibawah naungan ALKO, yang menangani lahan seluas 430 hektare (Ha) yang tersebar di 24 desa. Kolaborasi ini menjadi titik tolak untuk memberdayakan petani dan mengangkat cerita di hulu produksi kopi, khususnya bagi generasi milenial yang menjadi mayoritas konsumen Noka Coffee.

Rendrian Maharsya, selaku Cofounder sekaligus Chief Marketing Officer Noka Coffee dalam acara syukuran kedai kopi Noka, Jumat (23/10) sore mengatakan, Noka yang dalam bahasa Jepang berarti petani, mencerminkan budaya yang menghargai proses, memiliki ketahanan, dan memiliki karakter kuat yang identik.

Noka mengabadikan nama petani kopi yang berkontribusi ke dalam setiap produk mereka. Antara lain, Kopi Susu “Fine Robusta” Pak Agung, Kopi Susu “Arabica Honey” Mak Santi, dan Kopi Susu “Arabica Natural” Mbak Erna.

“Noka Coffee sendiri didirikan oleh tiga serangkai dengan latar belakang berbeda yakni Panji Abdiandra Mudiar (Certified Coffee Roaster by SCAI), Rendrian Maharsya (praktisi Kehumasan), dan Irvan Setiadi (wiraswasta) yang pertama kali didirikan di Kota Bandung,” ujar Rendrian Maharsya.

Disebutkannya, dengan berbisnis langsung dengan petani kopi, Noka Coffee mempromosikan kopi dengan kualitas terbaik (Specialty-grade) yang juga dapat dinikmati dengan harga kopi kekinian, dengan memotong banyak supply chain.

“Dalam kondisi pandemi yang sudah berlangsung 6 bulan lebih, pendapatan para petani kopi jelas menurun seiring berkurangnya demand, baik dari pasar domestik maupun global. Banyak dari mereka yang berpindah menjadi petani musiman, belum lagi pengepul yang membeli biji kopi dengan harga rendah. Cara ALKO dalam mengedukasi petani dan mencoba memberi peningkatan kesejahteraan mereka membuat kami bersemangat memulai project ini,” sebut Rendrian Maharsya.

Ditambahkannya, dengan edukasi yang konsisten oleh ALKO, kini sebagain besar petani kopi Kerinci dapat mengetahui fluktuasi harga kopi dunia secara real time, setiap hari. Noka melihat dedikasi ALKO di sektor agribisnis ini sebagai aset utama untuk sebuah kolaborasi jangka panjang.

“Salah satu nilai lebih ALKO yakni aplikasi Kopi Traceability dengan mengadopsi teknologi blockchain yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi asal Jepang, Emurgo. Teknologi ini memungkinkan customer mengetahui proses kopi dari petik, roasting, hingga penyajian,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, petani tradisional dengan segala keterbatasannya pada akses teknologi sangat terdampak kondisi force majeure seperti saat ini. Misalnya, hasil panen hanya mereka taruh di dalam karung, menunggu pengepul datang membeli dengan harga yang kadang tak mereka ketahui kebenarannya.

Sementara itu, Suryono Bagastani, selaku CEO ALKO yang juga merangkap petani dan prosesor menjelaskan, kolaborasi ini sejalan dengan misi koperasi dalam mengangkat derajat petani kopi dan menarik minat generasi muda Kerinci dan sekitar utuk membangun daerahnya melalui sektor agribisnis.

“Kami mengapresiasi Noka yang mengangkat cerita petani dalam setiap produk mereka, dan ini baru permulaan. Setelah Padang, kita juga akan mengerjakan Noka Coffee Jambi. Dimana ini akan menjadi project CSR, karena melibatkan mahasiswa berprestasi Universitas Jambi (Unja), tak hanya sebagai karyawan tapi juga pemegang saham outlet Jambi,” ujar Suryono.

ALKO sendiri merupakan perkumpulan Petani Kopi Lereng Gunung Kerinci yang berdiri pada tahun 2015. ALKO didirikan dengan tujuan untuk memberi pendampingan kepada petani kopi agar dapat memiliki ilmu agribisnis dan teknologi, guna meningkatkan kapasitas anggota dalam menjadikan tanaman kopi sebagai pendapatan utama, sebagai penyangga ekonomi masyarakat di sekitar kawasan penyangga Gunung Kerinci, dan penunjang industri pariwisata Kerinci.

“Visi besar ALKO yakni preserving nature dan empowering community. Salah satu wujud nyatanya adalah setiap 1 kilogram sampah yang dibawa pendaki dari gunung Kerinci akan ditukar dengan @100gram biji kopi dari petani ALKO. Koperasi juga memiliki koordinat kebun petani secara akurat, guna memastikan tidak ada petani yang berkebun di kawasan hutan lindung dan/atau taman nasional Gunung Kerinci Seblat,” jelas Suryono Bagastani.

Bentuk kegiatan empowering community ALKO, salah satunya dengan melakukan pelatihan gratis untuk petani perihal GAP (Good Agriculture Practice) kopi dari pola tanam sampai pascapanen. Termasuk di dalamnya melakukan pendampingan usaha kepada kelompok wanita tani anggota koperasi.

“Koperasi ALKO juga memberikan sharing Purchase Order can Profit untuk setiap pemesanan kopi, baik dari pasar domestik maupun 10 negara yang saat ini telah menjadi pasar ekspor,” pungkasnya. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional