Menu

Niniak Mamak Tigo Jurai Datangi DPRD, Desak Pemerintah Cabut Sertifikat di Tanah Ulayat 60 Hektare

  Dibaca : 134 kali
Niniak Mamak Tigo Jurai Datangi DPRD, Desak Pemerintah Cabut Sertifikat di Tanah Ulayat 60 Hektare
MENUNTUT— Ninik mamak, tokoh masyarakat, alim ulama dan cadiak pandai serta tokoh pemuda Nagari Padang Laweh Malalo, mendatangi Gedung DPRD Tanahdatar, menuntut pencabutan sertifikat dari tanah ulayat Malalo.

TANAHDATAR, METRO
Puluhan orang mendatangi kantor DPRD Tanahdatar di Pagaruyung yang terdiri dari ninik mamak, tokoh masyarakat, alim ulama dan cadiak pandai serta tokoh pemuda Nagari Padang Laweh Malalo, Tanahdatar.

Kedatangan mereka diterima oleh Ketua DPRD Rony Mulyadi Datuk Bungsu, Wakil Ketua DPRD Anton Yondra, Ketua Komisi 1 Benny Remon, Wakil Ketua Komisi 1 Nova Hendria, anggota komisi 1 Herman Sugiarto, Kamrita Kamal.

Mereka mendesak dicabutnya sertifikat di tanah ulayat kaum milik Malalo yang berada di Jorong Rumbai, Nagari Padanglaweh Malalo dan Jorong Kapuh, Nagari Bungo Tanjung.

Selain itu, mereka juga menyayangkan sikap Pemda Tanah Datar yang tidak juga menyelesaikan masalah tersebut. “Kami dari Malalo Tigo Jurai, Bungo Tanjung dan Batipuh Baruh sudah bersurat sejak 20 Oktober 2020 untuk meminta audiensi dengan bupati tapi hingga kini tidak ada jawaban pasti. Sejak awal, ninik mamak kami bersedia duduk bersama tapi tidak ada tanggapan hingga kini dan sertifikat terus terbit,” kata Indrawan, juru bicara dari Malalo Tigo Jurai.

Ia meminta pemerintah daerah bertindak untuk menyelesaikan pokok persoalan itu bukan sekedar menyuruh masyarakat menahan diri.

Sertifikat itu diterbitkan oleh BPN Tanah Datar di wilayah ulayat Padang laweh Malalo dan Bungo Tanjung.Tidak tanggung-tanggung, ulayat Malalo dan Bungo Tanjung yang disertifikatkan diduga mencapai 60 hektar.

Ia menduga sertifikat keluar melalui proses yang tidak sesuai fakta lokasi. Setelah sertifikat dibuat langsung dibeli oleh investor. “BPN tidak punya wewenang menentukan tapal batas administratif tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan negeri tetangga,” tegasnya.

Ninik mamak Malalo Tigo Jurai juga menolak pemakaian peta Belanda untuk dijadikan dasar penetapan wilayah. “Di Minangkabau, batas dan ulayat jelas kewenangan ninik mamak,” katanya.

Rombongan juga mendesak agar pemerintah segera menetapkan batas nagari secara administrasi. “Kami sama sekali tidak mau ada konflik. Ini bukan masalah antar nagari tetapi dengan oknum-oknum,” katanya.

Selain itu, ninik mamak dan perwakilan masyarakat Malalo Tigo Jurai sudah ada juga membacakan pernyataan sikap dan tuntutan. Diantaranya mendesak pemerintah mencabut semua sertifikat di tanah ulayat seluas 60 hektar, tetapkan batas administrasi dan mengusut keterlibatan semua oknum yang terlibat. Pernyataan tersebut disertai ancaman akan menutup operasional PLTA Singkarak jika tuntutan tidak ditanggapi oleh pihak yang berwenang.

Perwakilan Bungo Tanjung Yudhistira Datuk Majo Basa memaparkan awal terjadinya konflik itu hingga saat ini. Ia mengatakan, pihak sudah lama menginginkan pertemuan antar ninik mamak namun hingga saat ini tidak juga terlaksana. “Di Minangkabau, ulayat dan batas nagari ditentukan oleh ninik mamak bukan oleh BPN atau peta peta Belanda,” katanya.

Ia juga menyebut, jika tidak kunjung ada penyelesaian, mereka akan mencari jalan sendiri. “Kami tidak mau ada konflik,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Tanahdatar H. Roni Mulyadi.Dt Bungsu meminta semua pihak, anak kemenakan diseputar daerah yang bertikai untuk menahan diri. Jangan berbuat dan bertindak diluar koridor hukum. “Mari semua pihak menahan diri, jangan berbuat di luar koridor hukum,” katanya.

Ia juga menyatakan akan segera memanggil semua instansi terkait untuk sesegera mungkin menyelesaikan persoalan ini. (ant)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional