METRO BISNIS

Nelayan Padangpariaman Hadapi Kendala BBM Bersubsidi dan Alat Tangkap, Berharap Perhatian Pemerintah

×

Nelayan Padangpariaman Hadapi Kendala BBM Bersubsidi dan Alat Tangkap, Berharap Perhatian Pemerintah

Sebarkan artikel ini
PERTEMUAN—Ketua Kelompok Nelayan Semoga Jaya Ulakan, Safaruddin bersama para nelayan saat melakukan pertemuan.

PDG.PARIAMAN, METRO–Sejumlah persoalan ma­­­sih dihadapi nelayan di Kabupaten Padangpariaman, mulai dari keterba­tasan pasokan BBM bersubsidi hingga gangguan aktivitas penangkapan i­kan akibat penggunaan alat tangkap yang diduga tidak sesuai ketentuan.

Plt UPTD Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Perika­nan Kabupaten Padangpa­riaman, Dedi Tama, me­nyampaikan bahwa salah satu kendala utama yang dihadapi nelayan saat ini adalah sering terputusnya stok BBM bersubsidi jenis Pertalite di SPBU.

“Padahal, mayoritas nelayan pengguna kapal payang mengandalkan me­­sin tempel yang menggunakan Pertalite sebagai bahan bakar utama untuk melaut,” ungkap Dedi Ta­ma.

Dedi Tama menjelaskan, selama nelayan telah memiliki surat rekomendasi, pihak SPBU tidak mempersulit penyaluran BBM bersubsidi.

“Nelayan dari Ulakan dan Sunua umumnya mem­peroleh BBM di SPBU Toboh, nelayan wilayah Ketaping mengambil di SPBU Bandara, sedangkan nelayan Gasan memperoleh BBM di SPBU Tiku,” ujar dia.

Baca Juga  Promo Juli Menara Agung, Beli Honda Genio Dapat Potongan Tenor 2 Bulan

Selain itu, Dedi Tama mengungkapkan bahwa terdapat rencana pembangunan dua titik Kampung Nelayan yang akan berlokasi di Nagari Mangguang dan Tiram sebagai upaya mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Semo­ga Jaya Ulakan, Safaruddin, menyampaikan bahwa nelayan tradisional juga menghadapi persoalan aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan dari Muara Anai yang diduga masih menggunakan pukat harimau.

Menurutnya, aktivitas tersebut dilakukan di wi­layah perairan Ulakan sehingga berdampak pada berkurangnya hasil tang­kapan nelayan setempat.

Selain itu, Safaruddin juga menyoroti kebe­ra­daan alat tangkap jaring milenium milik nelayan Pasie Jambak, Kota Pa­dang, yang hanyut hingga ke wilayah pesisir Ulakan Tapakis. Kondisi tersebut dinilai merugikan nelayan tradisional karena alat tang­kap tersebut mengganggu aktivitas pe­nang­kapan ikan.

Menurutnya, jaring mi­lenium seharusnya dio­perasikan pada zona sekitar dua mil laut dari bibir pantai. Namun, di lapangan masih ditemukan aktivitas penangkapan sekitar satu mil laut dari bibir pantai yang merupakan wilayah tangkap nelayan tradisional. Akibatnya, alat tangkap nelayan tradisional sering terganggu sehingga hasil tangkapan ikan menjadi berkurang.

Baca Juga  Pascalebaran, Harga Cabai di Tingkat Petani Turun

Di sisi lain, persoalan BBM bersubsidi juga masih menjadi keluhan nelayan. Ketersediaan Pertalite di SPBU terkadang mengalami kekosongan atau keterlambatan distribusi, sehingga nelayan tidak dapat melaut tepat waktu.

Kondisi tersebut berdampak langsung terha­dap produktivitas dan pen­dapatan nelayan yang sa­ngat bergantung pada waktu penangkapan ikan. Para nelayan berharap peme­rintah bersama instansi terkait dapat memberikan perhatian terhadap ke­tersediaan BBM bersubsidi, meningkatkan pe­nga­wa­san terhadap penggu­naan alat tangkap yang tidak sesuai ketentuan, serta mempercepat pembangunan sarana pendu­kung seperti Kampung Nelayan agar kesejahteraan masyarakat pesisir di Ka­bupaten Pa­dangpariaman semakin meningkat. (*)