Menu

Musim Penghujan di Akhir 2020, Dinkes Sumbar Ingatkan Masyarakat Waspada DBD

  Dibaca : 93 kali
Musim Penghujan di Akhir 2020, Dinkes Sumbar Ingatkan Masyarakat Waspada DBD
Arry Yuswandi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumbar

PADANG, METRO
Bulan November hingga Desember 2020 ini diprediski curah hujan cukup tinggi di Provinsi Sumbar. Selain pandemic Covid-19 yang melanda daerah ini, di musim penghujan ini, masyarakat harus tetap waspada terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Kita harapkan, masyarakat jangan abai dengan potensi penyakit lainnya yang berbahaya, selain Covid-19 ini. Apalagi sekarang sudah memasuki musim penghujan,”sebut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumbar, Arry Yuswandi, kemarin.

Dikatakannya, pada musim hujan populasi nyamuk Aedes Aegypti akan meningkat, karena telur yang belum menetas akan menetas, ketika habitat perkembangbiakannya mulai tergenang air hujan. Kondisi tersebut akan meningkatkan populasi nyamuk, sehingga menyebabkan peningkatan penularan penyakit DBD. Kelangsungan hidup nyamuk Aedes Aegypti akan lebih lama, bila tingkat kelembaban tinggi selama musim hujan. Sehingga, masyarakat harus lebih waspada pada saat memasuki musim hujan.

Dijelaskannya, DBD adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes Spp. Di Indonesia teridentikasi ada 3 jenis nyamuk yang bisa menularkan virus dengue yaitu Aedes Aegypti, Aedes Albopictus dan Aedes Scutellaris. Nyamuk Aedes Aegypti betina merupakan vektor utama penyebab DBD.

Dikatakannya, gejala DBD ditandai dengan demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, mual dan manifestasi pendarahan seperti mimisan atau gusi berdarah serta adanya kemerahan di bagian permukaan tubuh pada penderita.

Pada umumnya penderita DBD akan mengalami fase demam selama 2-7 hari. Fase pertama penderita akan merasakan demam yang cukup tinggi 400C pada hari ke 1- 3; kemudian pada fase kedua penderita mengalami fase kritis pada hari ke 4-5. Fase ini penderita akan mengalami turunnya demam hingga 370C dan penderita akan merasa dapat melakukan aktivitas kembali (merasa sembuh kembali).

Pada fase kedua ini jika tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat dapat terjadi keadaan fatal, akan terjadi penurunan trombosit secara drastis akibat pemecahan pembuluh darah (pendarahan). Di fase yang ketiga akan terjadi pada hari ke 6-7, penderita akan merasakan demam kembali. Fase ini dinamakan fase pemulihan. Di fase inilah trombosit akan perlahan naik kembali normal kembali.

“Kita tetap koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten dan kota untuk tetap mensosialisasikan bahaya DBD ini,”sebutnya.

Kementerian Kesehatan merilis secara Nasional (2019), jumlah kasus hingga tanggal 3 Februari 2019 adalah sebanyak 16.692 kasus dengan jumlah kematian 169 orang. Kasus terbanyak terdapat di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT dan Kupang.

Oleh karena itu Arry mengatakan, perlu adanya peran serta masyarakat untuk mencegah dan mengendalikan kasus DBD. Kegiatan yang optimal adalah melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara “3 M PLUS” melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).

Kegiatan 3M meliputi 1) Menguras tempat penampungan air minimal 1 minggu sekali, 2) Menutup tempat penampungan air, 3) Mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang memiliki potensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

“Kalau mengatasi DBD itu cara yang ampuh itu adalah dengan 3 M tadi, kalau dengan foging itu lebih pada membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik nyamuk masih banyak dalam air. Untuk itu kita lebih utamakan pencegahan, dari pada foging semata,”pungkasnya.(fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional