Menu

Modus Ajak Berburu Babi, Oknum PNS Sodomi Anak di Bawah Umur di Kabupaten Agam

  Dibaca : 216 kali
Modus Ajak Berburu Babi, Oknum PNS Sodomi Anak di Bawah Umur di Kabupaten Agam
JUMPA PERS— Kapolres Agam AKBP Dwi Nur Setiawan memberikan keterangan saat jumpa pers terkait kasus pencabulan yang dilakukan oknum PNS terhadap seorang bocah laki-laki, Jumat (10/9)

AGAM, METRO–Seorang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Agam di­ring­kus aparat kepolisian setelah dila­porkan melakukan tindak pidana pen­cabulan terhadap bocah laki-laki di bawah umur. Tersangka pedofilia itu berinisial FR (56), warga Kecamatan Lubukbasung.

Informasi yang dihim­pun, pelaku berprofesi se­bagai guru di kabupaten itu. Aksi pedofilia yang dilakukan FR akhirnya ter­henti di tangan Satreskrim Polres Agam setelah men­dapat laporan dari pihak keluarga korban.

“Usai menerima lapo­ran atas perilaku menyim­pang tersangka dan mela­kukan serangkaian pe­nye­lidikan, tersangka ber­hasil kami tangkap dua hari lalu,­” kata Kapolres Agam, AKBP Dwi Nur Setiawan didampingi jajaran saat pers release pengung­ka­pan kasus tersebut di Ma­polres setempat, Jumat (10/9).

Dibeberkan, aksi pen­ca­bulan yang dilakukan FR kepada seorang bocah laki-laki berlangsung pada akhir Agustus lalu dan lebih da­ri sekali. Bertempat di sejumlah lokasi dalam akti­vitas berburu babi di wil­a­yah Bawan dan Palem­bayan.

“Modus pelaku yakni mengajak korban berburu babi. Jadi korban dan pela­ku ini memang sama-sama hobi berburu,” kata Kapol­res.

Korban sendiri bukan­lah orang asing bagi ter­sangka. Antara pelaku dan korban katanya, sudah saling mengenal karena sem­pat tinggal berte­tang­ga di wilayah Sago, Kena­garian Mang­gopoh, Keca­m­atan Lubuk­basung.

Saat ini, korban dike­tahui menetap di sebuah nagari di wilayah Keca­matan Ampeknagari. Awal kisah malang mengintai, korban dan sang predator anak ini tanpa sengaja bersua kembali di sebuah lokasi perburuan sekitar bulan Agustus 2021.

Pertemuan kembali itu membuat hubungan mere­ka makin akrab dan intens berkomunikasi lewat apli­kasi pesan WhatsApp. Me­lalui pesan aplikasi pintar itu, pelaku pun sering meng­goda korban dengan me­ngirim video dan gam­bar-gambar berbau sek­sual sesama jenis kepada korban.

Termasuk mengi­rim­kan foto-foto syur priba­dinya kepada korban. Pela­ku juga pernah meminta korban berbagi gambar yang sama kepadanya, namun hal itu ditolak kor­ban dengan alasan tidak memiliki pulsa.

Hari-hari berlanjut dan sampai pada malam 30 Agustus 2021, pelaku me­nga­jak korban mene­mani­nya berburu untuk esok harinya. Permintaan ini disanggupi oleh korban, karena memang hobinya juga.

Keesokan harinya, pela­ku menjemput korban di tempat yang dijanjikan di Simpang Kampung Da­gang, Nagari Bawan. Sekira pu­kul 10.00, mereka ber­temu dan pergi bersama untuk berburu menggu­nakan mobil pickup merk Kijang milik pelaku.

Di perjalanan, saat be­ra­da di Jl. Lintas Bawan-Pa­lembayan, pelaku mulai melancarkan aksi bejatnya kepada korban di dalam mobil. Berhubung korban masih anak-anak kata Ka­polres, ia hanya bisa diam dan takut untuk melawan.

Setelahnya, aksi pen­cabulan itu berlanjut di lo­kasi perburuhan di Palem­bayan. Saat sampai di lo­kasi, pelaku membawa kor­ban ke semak-semak dan kembali mencabulinya. Di sana korban sempat me­mohon agar pelaku men­g­hentikan perbuatannya, na­mun tidak dihiraukan.

Belum puas juga, pela­ku kembali mencabuli kor­ban setelah aktivitas ber­buru selesai. Persisnya saat dalam perjalanan pu­lang ke Bawan, sekira pukul 15.30. 

“Usai melancarkan aksi penyimpangan seksualnya berkali-kali, korban diberi uang Rp 100 ribu dan me­ngan­camnya agar tidak menceritakan kepada orang lain,” papar Kapolres.

Kasus itu imbuh Ka­polres, akhirnya diungkap pihak kepolisian setelah mendapat laporan dari keluarga korban. Pelaku berhasil diringkus aparat pada 8 September 2021 beserta sejumlah barang bukti berupa pakaian kor­ban, mobil dan handphone.

Saat ini, oknum guru pedofilia itu telah men­dekam di balik jeruji pesa­kitan di Mapolres Agam untuk dimintai pertang­gung­jawaban hukum. FR disangkakan melanggar Pasal 76E jo Pasal 82 ayat (1) UU No. 35 tahun 2014 ten­tang Perlindungan Anak. Serta disangkakan melang­gar Pasal 289 jo Pasal 292 KUH Pidana de­ngan an­caman maksimal 15 tahun kurungan penjara. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional