Menu

Mitigasi Bencana Terus Berlanjut di masa Pandemi Covid-19

  Dibaca : 252 kali
Mitigasi Bencana Terus Berlanjut di masa Pandemi Covid-19
Penyerahan DSP BNPB dari Sestama BNPB, Harmensyah bersama Anggota DPR RI, Asli Chaidir kepada Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno disaksikan Kepala BPBD Sumbar, Erman Rahman dan Asisten II Setdaprov Sumbar, Benny Warlis dan Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB, Jarwansah.

TIDAK hanya fokus dalam menyiapkan logistik penanganan bencana non- alam di masa pandemi Covid-19, mitigasi bencana alam di Provinsi Sumbar juga menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumbar. Seperti penanganan abrasi pantai di Kota Padang. Perjuangan Pemprov Sumbar melalui BPBD Sumbar mendapatkan dana siap pakai (DSP) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) membuahkan hasil. BNPB menyerahkan DSP Rp19 miliar lebih, di Gubernuran Sumbar, Rabu (21/10).

Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Utama (Sestama) BNPB Harmensyah kepada Gubernur Irwan Prayitno. Dana tersebut untuk menangani abrasi di Jalan Samudera, di belakang Masjid Al Hakim, pengamanan Tugu Merpati di Muaro Lasak Purus, dan pengamanan abrasi di Pasia Jambak. “Kita bersyukur dengan dukungan anggaran dari BNPB. Karena abrasi yang melanda Kota Padang sudah mengkhawatirkan,” sebut Irwan Prayitno.

Dikatakannya, dukungan dari BNPB tersebut sangat berarti bagi Sumbar. Karena APBD Sumbar 2020 sudah tersedot habis untuk penanganan Covid-19.

Sestama BNPB Harmensyah mengatakan, abrasi pantai di Kota Padang menjadi perhatian BNPB. Lokasi yang terdampak abrasi adalah lokasi vital, seperti Masjid Al Hakim, yang baru dibangun dari sumbangan warga senilai Rp15 miliar. Kemudian, Tugu Merpati yang menjadi sejumlah pengingat momentum perdamaian. Begitu juga di Pasir Jambak yang berdampak pada masyarakat banyak.

Dengan DSP tersebut, diharapkan penanganan abrasi pantai di Kota Padang dapat berjalan dengan cepat, untuk mengamankan fasilitas publik. Penyerahan DSP tersebut juga dihadiri Anggota DPR RI, Asli Chaidir. Anggota Komisi VIII DPR ini mengaku, siap men-support Pemprov Sumbar dan Kota Padang untuk mendapatkan anggaran dari pusat. “Kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan anggaran penanganan abrasi ini,” sebutnya.

Asli Chaidir berharap BNPB mendukung sejumlah penanganan bencana lainnya di Sumbar. Karena banyak bencana abrasi pantai lainnya mengancam Sumbar. Kalaksa BPBD Sumbar, Erman Rahman mengatakan, pihaknya di BPBD saat ini tidak hanya fokus dalam menyiapkan logistik penanganan bencana non-alam pandemi Covid-19, namun juga bencana alam seperti abrasi pantai dan banjir. “Kita di BPBD selalu siap dalam penyediaan logistik penanganan Covid-19 dan penanganan cepat bencana alam di Sumbar,” ujarnya.

Kepala Dinas PSDA Sumbar Rifda Suriani menjelaskan, penanganan abrasi tersebut dengan konstruksi pembangunan Groin Tipe T. Termasuk seawall dengan pemasangan batu memagari pantai. “Untuk kontruksi yang efektif adalah Groin T dan seawall,” ujarnya.

Untuk mendapatkan anggaran tersebut, sebelumnya Gubernur Irwan Prayitno bersama rombongan menemui Kepala BNPB Doni Monardo, 11 Agustus 2020 lalu ke Jakarta. Ikut dalam kunjungan itu Wali Kota Padang Mahyeldi, Sekprov Sumbar, Alwis, Kalaksa BPBD Sumbar, Erman Rahman, Kepala Bappeda Sumbar, Hansastri, Kepala Dinas PUPR Sumbar, Fathol Bari, dan Kepala PSDA Sumbar Rifda Suriani. Kehadiran rombongan Gubernur Sumbar diterima langsung Kepala BNPB Letjend TNI Doni Monardo, didampingi Sestama BNPB Harmensyah, Deputi Tanggap Darurat Dodi Ruswandi, Deputi Rehab-Rekon BNPB Rifai, Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB Rustian. Usai penyerahan DSP kepada Gubernur Sumbar, rombongan Sestama BNPB, Harmensyah bersama Anggota DPR RI, Asli Chaidir langsung melakukan survey lokasi Mesjid Al Hakim yang terdampak abrasi pantai sore harinya.

Kemudian rombongan berangkat menuju Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kamis, (22/10). Tujuan keberangkatan ke kabupaten tersebut, ingin memastikan kesiapsiagaan masyarakat, dalam melakukan langkah mitigasi gempa dan tsunami. Hal ini seiring dengan seringnya terjadi gempa akhir-akhir ini di daerah tersebut.

Seperti diketahui, gempa bumi 5,6 M terjadi di Kabupaten Kepulaun Mentawai, Senin (19/10). Berdasarkan data dihimpun dari BMKG sejak 10 Oktober sampai 19 Oktober 2020 terjadi 10 kali gempa terjadi di area episentrum megathrust di Kepulauan Mentawai, dengan kekuatan di bawah 6,0 dan yang paling tinggi magnitudo 5,8.

Harmensyah mengatakan, dengan adanya gempa beberapa hari terakhir ini, menjadi peringatan dan tanda-tanda alam untuk masyarakat. “Kalau siap, saat terjadi gempa, masyarakat bisa selamatkan diri secara mandiri. Karena itu, ketahanan keluarga yang tangguh bencana itu sangat penting,” terangnya.

Tidak hanya masyarakat di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Harmensyah mengingatkan masyarakat pesisir di Provinsi Sumatera Barat, baik itu di Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Padangpariaman dan lainnya, juga harus bisa membaca tanda-tanda alam ini.

Susur Sungai Cegah Banjir Bandang
Musim hujan yang terjadi di penghujung tahun ini, juga menjadi perhatian BPBD Provinsi Sumbar. Terutama untuk mengantisipasi dampak banjir dan banjir bandang. BPBD Sumbar melaksanakan kegiatan susur sungai,17-20 Oktober 2020, di sungai Batang Bangko Janiah, Kabupaten Solok Selatan.

Kegiatan ini untuk mengantisipasi banjir bandang di Kabupaten Solok Selatan. “Tim yang diturunkan juga dibantu utusan TNI/Polri, PMI, Tagana, masyarakat siaga bencana dan masyarakat peduli sungai,” ujar Erman Rahman melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumbar, Syahrazad Jamil, SH, MM didampingi Kasubid Kesiapsiagaan Ilham Wahab SSos, Kamis (22/10).

Hasil survei sebelumnya, diperkirakan panjang sungai Bangko Janiah yang disusuri itu 7,4 km.”Personel dilengkapi chainsaw untuk memotong batang kayu yang ditemui sepanjang badan sungai, hingga ke hulu. Batang-batang kayu yang banyak ditemui di badan sungai tersebut membuat badan sungai menjadi sempit. Setelah dipotong dan dipindahkan ke pinggir sungai, badan sungai menjadi lega lagi,” ujar Syahrazad.

Dia menambahkan potensi banjir bandang di Sumbar memang sangat banyak. “Karena sungai kita memang sangat banyak. Seperti di Pasaman, Agam, Pesisir Selatan, dan lainnya,” ujarnya. Ilham Wahab menambahkan, secara teknis ekspedisi ini dibagi tiga tim. Langkah pembagian tim sudah biasa dilakukan pada giat ekspedisi. “Tim 1 mulai melakukan pembersihan sejak 0 km hingga beberapa kilometer menuju ke hulu sungai. Setelah itu mereka digantikan oleh tim dua, dan seterusnya giliran tim 3. Jadi kami sistemnya estafet,” jelas Ilham.

Sepanjang perjalanan, kata Ilham, tidak ditemukan kerusakan yang diakibatkan oleh ulah manusia. “Tidak ada kayu yang ditemukan itu bekas di-chainsaw, hanya batang kayu yang tumbang dari bekas tanah longsoran atau kayu-kayu yang sudah tua,” ujar Ilham.(**)

Editor:
Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional