Close

Miris, Kejahatan Seksual Anak Meningkat 100 Persen di Kota Padang, Kompol Rico: Hingga November, Ada 82 Kasus

ILUSTRASI.

M.YAMIN, METRO–Kepolisian Resort Kota Padang mencatat sejak Januari 2021 hingga November ini terdapat 82 laporan polisi terkait kasus kejahatan seksual pada anak. Dari 82 laporan terse­but, jumlah korbannya bisa lebih dari angka kasus ter­lapor tersebut. Pasal­nya, dalam setiap kasus yang dilaporkan, jumlah korban beragam, mulai dari satu orang hingga tiga orang anak sebagai korban.

Angka ini jelas mem­buat miris, karena kenaikan angka laporan polisi ter­hadap kasus kejahatan seksual pada anak, untuk tahun ini naik dibandingkan tahun 2020 lalu. Kenaikan tersebut hingga 100 per­sen. Buktinya, dari Januari hingga Desember 2020 ter­dapat 48 kasus atau lapo­ran polisi.

“Untuk tahun ini saja, kejahatan seksual terha­dap anak mencapai 82 ka­sus, dengan korban lebih dari itu. Karena setiap lapo­ran polisi yang kami teri­ma, jumlah korban bera­gam, mulai dari satu orang hingga tiga orang korban,” ungkap Kasat Reskrim Pol­resta Padang, Kompol Rico Fernanda, Jumat (19/11).

Rico menjelaskan, dari 82 kasus yang terjadi hing­ga saat ini, untuk pelaku, mayoritas berasal dari ka­langan terdekat dari korban sendiri. Mulai dari kakek, ayah, kakak, paman hingga tetangga. Data ter­se­but, berdasarkan lapo­ran ma­sya­rakat yang ma­suk ke Mapolresta Padang dan fakta-fakta di lapangan.

“Dalam bulan ini saja (November) terdapat dua kasus, yakni seorang ba­pak mencabuli anak kan­dungnya dan seorang ka­kek yang mencabuli cucu kandungnya, itu baru da­lam bulan ini saja. Semen­tara untuk bulan bulan se­belumnya, hal yang sa­ma juga terjadi, dengan pelaku berasal dari kalangan ter­dekat dari korban,” papar Rico Fernanda.

Di tengah kondisi terja­dinya peningkatan keja­ha­tan seksual terhadap anak di Kota Padang, Polresta Padang, melalui Kasat Res­krim menyebutkan bahwa hal ini membutuhkan kerja­sama dari semua pihak, bukan saja menjadi tang­gung jawab pihak kepoli­sian untuk menekan angka kejahatan tersebut.

“Menurut kami, ini dibu­tuhkan kerja sama dengan semua pihak, bukan saja dari pihak kepolisian, salah satunya kami juga telah bekerjasama dengan pihak Dinas Sosial, dari Bapas, dari instansi yang berkai­tan dengan perempuan dan anak, untuk bersama sama menekan angka keja­hatan seksual terhadap anak,” kata Rico.

Ketika hal ini masih saja terjadi, artinya memang dibutuhkan kerja sama de­ngan semua pihak yang ada. Termasuk untuk me­nge­dukasi masyarakat agar memahami kasus kasus kejahatan seksual pada anak, yang meningkat tajam dibanding tahun 2020 yang lalu, dengan angka kenaikan mencapai 100 persen.

Untuk diketahui, kasus kejahatan seksual ter­ha­dap anak atau pemerko­saan terhadap dua bocah adik kakak yang ter­jadi di kawasan Mata Air, Ke­camatan Padang Selatan, Kota Padang kini menjadi perhatian publik. Kenapa tidak, kedua bocah itu diper­kosa oleh lima orang ang­gota keluarga se­da­rahnya, yang terdiri  dari kakek, paman, sepupu hingga ka­kak kandung kor­ban.

Setelah dilakukan pe­nangkapan, Satreskrim Polresta Padang pun sudah menetapkan tiga tersangka yang terlibat kasus p­e­merkosaan sedarah terse­but. Tiga tersangka yaitu J (70) yang merupakan kakek korban, AO (23) paman korban, serta ADR (16) kakak korban.

Sedangkan dua orang yaitu RMR (11) kakak kan­dung korban dan GA (9) sepupu korban tidak dila­kukan proses secara hu­kum karena masih anak di bawah umur. Apalagi, dua anak itu tidak terlibat lang­sung pemerkosaan dan hanya meraba-raba atau mengelus tubuh korban, sehingga hanya ditetapkan sebagai saksi.

Kasatreskrim Polresta Padang Kompol Rico Fer­nanda mengatakan, pihak­nya memproses hukum tiga orang dalam kasus pe­merkosaan ini, yaitu kakek korban, paman korban dan sepupu korban. Namun, khusus untuk sepupu kor­ban, karena dalam kategori bawah umut penanganan proses perkaranya didam­pingi Balai Permasya­raka­tan Lapas (Bapas).

“Untuk J dan AO akan dikenakan Pasal 82 Ayat (1) Jo Pasal 76E Jo Pasal 81 Ayat (1) dan Ayat (2) Jo Pasal 76D UU RI No.17 Tahun 2016, tentang Pene­tapan Peraturan Pemerin­tah Pengganti UU No.01 Tahun 2016, tentang Peru­bahan Kedua Atas UU No 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak Men­jadi Undang-undang,” se­but Kasatreskrim Polresta Padang Kompol Rico Fer­nanda, Kamis (18/11).

Sementara itu untuk ADR, ungkap Rico, ter­masuk anak yang berkon­flik dengan hukum (ABH) akan dikenakan Pasal 82 Ayat (1) Jo Pasal 76E Jo Pasal 81 Ayat (1) dan Ayat (2) Jo Pasal 76D UU RI No.17 Tahun 2016, tentang Penetapan Peraturan Pe­merintah Pengganti UU No.01 Tahun 2016, tentang Perubahan Kedua Atas UU No 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak Men­jadi Undang-undang Sub Pasal 1 Ayat 3 UU RI No.11 Tahun 2012, tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

“Sedangkan dua anak yang tidak diproses hukum karena usianya di bawah 12 tahun,  akan dititipkan di Lembaga Pe­nye­leng­gara­an Kesejahteraan Sosial (LPKS) ABH Kasih Ibu Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah. Dua anak ini sta­tusnya saksi,” ungkap Kom­pol Rico.

Dijelaskan Kompol Rico, berdasarkan pemeriksaan, tersangka J yang sudah lanjut usia ini sudah mela­kukan aksi pencabulan terhadap korban sebanyak dua kali. Begitu juga de­ngan paman korban AO yang juga melakukan pen­cabulan terhadap korban dua kali, sedangkan pelaku ADR sebanyak empat kali.

“Aksi pencabulan itu dimulai sejak awal November 2021. Para tersangka melakukan aksinya di ru­mah yan g memang diting­gali korban bersama para tersangka. Ibu korban juga tinggal di rumah tersebut,” pungkas Kompol Rico. (rom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top