Menu

Minim Awan, Padang semakin Dingin

  Dibaca : 90 kali
Minim Awan, Padang semakin Dingin
Ilustrasi (foto : net)

ADINEGORO, METRO – Suhu udara di Kota Padang dalam beberapa hari terakhir tercatat cukup dingin. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Minangkabau mencatat, suhu minimum 17-18 September 2019 bahkan tercatat 16 derajat celsius, atau terjadi penurunan suhu yang signifikan dari sebelumnya berkisar 19 sampai 31 derajat celsius.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Minangkabau, Yudha Nugraha mengatakan, suhu yang dingin dalam beberapa hari terakhir di Kota Padang maupun secara umum di wilayah Sumbar merupakan fenomena yang biasa. Hal itu wajar menandakan datangnya periode musim kemarau.

”Perubahan suhu iklim memang hampir terjadi setiap kemarau. Karena tidak ada awan yang terbentuk pada atmosfer, hingga mengakibatkan permukaan bumi mampu melepas radiasi gelombang panjang ke atmosfer,” kata Yudha, Selasa (17/9).

Selain itu, sambung Yudha, kondisi pada saat musim kemarau cenderung memiliki kelembaban udara yang rendah atau kering, yang berarti tidak adanya uap air yang cukup di udara untuk menahan panas di bumi sehingga kondisi ini semakin menurunkan suhu udara pada malam hari.

”Dampaknya kondisi kelembapan pada malam hingga pagi hari menambah kondisi suhu udara menjadi dingin,” jelas Yudha.

Selain pengaruh kemarau, tambah Yudha, penurunan suhu juga dipengaruhi adanya kabut asap. Karena saat terjadi kabut asap, radiasi matahari tidak dapat masuk ke permukiman bumi. Mengingat kondisi asap sudah mulai berkurang, dalam 2-3 hari ini suhu minimum diperkirakan akan kembali ke normalnya sekitar 21-22 derajat.

Tak hanya itu, kata Yudha, kondisi saat ini juga dipengaruhi adanya kelembapan pada ketinggian permukaan hingga 1,5 km di atas permukaan laut. Maka pada sore hari masih terlihat adanya pembentukan awan. Namun, pada ketinggian 3 km di atas permukaan laut yang relatif kering sehingga potensi awan yang terbentuk untuk terjadi hujan relatif kecil.

”Puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus-September, muncul dengan karakteristik suhu udara dingin dan kering. Dengan karakteristik cuaca seperti ini diimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga kondisi badan supaya tetap fit,” tukas Yudha.

Sementara, Rima (24) warga Sawahan merasa suhu udara agak dingin dari biasanya sehingga membuatnya tidak kuat untuk mandi pagi. Padahal, lanjut Rima, hari sudah menunjukkan hampir pukul 08.00 WIB. Cahaya pagi juga sudah mulai muncul ke permukaan.

”Iya dingin, saya tidak kuat mandi, dingin sekali rasanya. Kalau mau mandi harus rebus air panas dulu,” kata Rima yang biasa mandi pagi hari itu. (mil)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional