Menu

Minangkabau Ekspres Renggut Nyawa Ayah dan Anak

  Dibaca : 453 kali
Minangkabau Ekspres Renggut Nyawa Ayah dan Anak
TEWAS— Ayah dan anak tewas akibat ditabrak kereta api Minangkabau Ekspres saat melintasi rel tanpa palang pintu. (romi rahmat/posmetro)

PADANG, METRO – Perlintasan kereta api tanpa palang pintu kembali memakan korban jiwa. Kali ini ayah dan anak tewas seketika setelah sepeda motor yang ditungganginya ditabrak kereta api Minangkabau Ekspres Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di depan SPBU Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Senin (2/7) siang sekira pukul 13.00 WIB.

Korban bernama Masrizal (58) dan Deni (19) yang juga merupakan warga Rawang Ketaping RT 2 RW 5, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, tewas dengan kondisi luka parah. Masrizal terpental beberapa meter, sedangkan anaknya Deni terlindas kereta api. Sementara sepeda motor korban jenis Honda Supra BA 2611 BF ringsek.

Kecelakaan itu sempat membuat kemacetan di sepanjang jalan Adhinegoro, akibat ramainya warga maupun pengendara yang berkerumun menyaksikan kedua korban tergeletak bersimbah darah. Setelah itu, jasad kedua korban dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang untuk dibersihkan dan kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dikebumikan.

Informasi dihimpun, kecelakaan maut tersebut berawal ketika ayah dan anak itu berboncengan menggunakan sepeda motor datang dari Jalan Adinegoro ke arah pasar Lubuk Buaya. Mereka ingin belanja ke toko bangunan yang berada di balik rel. Namun, saat sepeda motor yang ditumpangi melintasi rel tiba-tiba datang kereta api melaju kencang dari dari arah BIM menuju Stasiun Simpang Haru. Korban yang sudah terjebak langsung tertabrak kereta.

Akibatnya, sang ayah terpental ke kanan dan tewas di pinggir rel. Sedangkan anaknya bersama sepeda motor berada di bawah kolong kereta api dan terseret hingga 50 meter. Kereta api sempat berhenti setelah kejadian itu. Korban langsung dievakuasi dan kereta kembali melaju ke Simpang Haru.
Salah seorang warga, Wahyu (33) mengatakan, kedua korban ditabrak akibat tida mendengar dan tidak melihat kereta api akan melintas. Bahkan, sebelum ditabrak, warga lainnya sempat menyoraki namun karena motornya sudah di tengah rel, korban tidak sempat menyelematkan diri dan langsung ditabrak.

“Kejadiannya sangat cepat. Ke dua korban tidak sempat menyelamatkan diri. Di lokasi memang tidak ada palang pintu, makanya sangat rawan terjadi kecelakaan,” ujar Wahyu.

Sementara itu, Kapolsek Koto Tangah, Kompol Joni mengatakan, ketika mendapatkan informasi pihaknya langsung menurunkan personelnya mengamankan TKP dan mengevakuasi korban ke rumah sakit.

“Informasinya korban ingin membeli sesuatu ke sebuah toko bangunan. Saat melintasi rel tiba -tiba ada kereta api lewat dan kecelakaan tak terilakkan. Kedua korban meninggal di tempat. Untuk kasus ini masih dalam penyelidikan kita,” ungkapnya.

Ajukan Palang Pintu

Manajer Pengamanan PT KAI Divre II Sumbar, AKBP Jefry Indrajaya membenarkan perlintasan kereta api yang menjadi lokasi kecelakaan tidak memiliki palang pintu. Karena kawasan itu tidak secara resmi dikelola oleh pihak PT KAI Divre II Sumbar.

“Seharusnya masyarakat dapat mengajukan untuk pembuatan palang pintu di perlintasan kereta itu ke pemerintah setempat. Setidaknya juga ada orang yang dapat menjaga di lokasi,” kata Jefry.

Jefry meminta kepada masyarakat dan pengendara agar berhati-hati saat melintas di perlintasan kereta api yang tidak memiliki palang pintu. Karena kereta api melaju dengan cepat dan tidak mungkin berhenti secara mendadak.

“Kereta alu itu melaju dengan kecepatan mencapai 60 kilometer perjam, sehingga tidak mungkin berhenti mendadak. Makanya masyarakat diharapkan berhati-hati dan melihat kiri kanan apabila mau melintas di rel kereta, apalagi yang tidak memiliki palang pintu,” pungkasnya. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional