Menu

Merasa Dirugikan Penyewa, Nenek Nurjanah, Pemilik Gudang di Sawah Liek Tempuh Jalur Hukum

  Dibaca : 96 kali
Merasa Dirugikan Penyewa, Nenek Nurjanah, Pemilik Gudang di Sawah Liek Tempuh Jalur Hukum
MINTA KEADILAN— Nenek Nurjanah (72), berusaha menanyakan kepada penyewa gedung miliknya tentang haknya dan terjadi keributan di Sawah Like, Kampung Olo, Kecamatan Nanggalo.

SAWAH LIEK, METRO–Malang betul nasib Nenek Nurjanah (72 tahun), warga Sawah Liek, Kampung Olo, Kecamatan Nanggalo. Dirinya merasa diperas oleh penyewa gudang miliknya sendiri. Tak kuat dengan tipu daya penyewa gedung tersebut. Nenek Nurjanah meminta keadialan kepada aparatur hukum dengan mem­bawa masalah yang dihadapinya ke jalur hukum.

Ia mengatakan, terjadi sewa menyewa bangunan gudang yang sudah berja­lan selama 10 tahun itu tak jelas ujung pangkalnya, disebabkan penyewa gu­dang masih merupakan saudara (adik ipar).

Nurjanah  mengakui sejak 10 tahun bangunan gudang miliknya dipakai, penyewa tidak pernah mem­­bayar sewa satu per­sen pun hingga saat ini.

Ia menceritakan, di ta­hun 2012 penyewa atas nama Neliwati dan sua­mi­nya Joni yang notabene adik suami Nurjanah, Dar­mus Alpirin.

Neliwati dan Joni me­miliki usaha pelaminan menyewa gudang untuk tempat usaha pelaminan sekaligus tempat tinggal. Bangunan yang disewakan Nurjanah berseberangan dengan rumah kediaman­nya.

“Karena masih ada hu­bungan keluarga, Saya tidak bisa menolak permin­taan penyewa untuk meng­gunakan gudangnya. Maka mulai saat itu Neliwati memakai gudang tersebut sebagai tempat usaha se­ka­ligus tempat ting­gal­nya,” kata Nurjanah ketika ditemui awak media, Ming­gu (1/8).

Ia mengatakan, dari awal masuk penyewa tidak membayar sewa hingga saat ini, maka pihaknya sebagai pemilik gudang sudah berulang kali me­nyuruh penyewa dan usa­ha pelaminannya agar me­ngo­songkan gudang yang ditempati karena tidak mem­bayar.

Tak hanya itu, selain menggunakan gudang, ter­nyata Neliwati dan Joni yang merupakan adik ipar juga pernah meminjam sertifikat Nurjanah untuk menambah modal usa­ha­nya.

Karena masih terikat hubungan saudara dan adanya jaminan pemba­yaran oleh suami Neliwati (Joni) dan suami Nurjanah (Darmus Alpirin), maka terjadilah peminjaman ser­ti­fikat untuk penam­bahan modal usaha pelaminan milik penyewa.

Celakanya,  ternyata penyewa tidak mampu me­lu­nasi pinjaman di bank, se­hingga status tempat usa­ha dan tempat tinggal nya di Kurao di lelang bank. Pi­hak bank mencoba mela­kukan mediasi dengan ke­dua belah pihak dan men­carikan solusi terhadap kredit macet tersebut.

Pihak Nurjanah akhir­nya berkenan membayar sisa pinjaman penyewa di bank dengan syarat penye­wa mengem­balikan serti­fikat yang di­pin­jamnya dan segera me­ngo­songkan gu­dang milik Nurjanah.

Akhirnya pihak Nurja­nah telah melakukan pem­ba­yaran, namun pihak pe­nyewa tidak mau mengo­songkan gudang sampai saat ini. ”Penyewa ini ber­sama anak-anaknya malah melakukan pemerasan de­ngan meminta sejumlah uang kepada saya agar mereka mau mengosong­kan lokasi. Tentu saja saya tidak mau lagi menge­luar­kan dana mengikuti per­mintaan mereka, sebab hu­tangnya sudah saya ba­yar­kan,” jelasnya.

Nurjanah menegaskan dirinya tidak bisa lagi mem­­­berikan toleransi. Ia merasa dirinya dizalimi dan dirampas oleh pihak penyewa.

“Kami akan menempuh jalur hukum dan berbagai cara untuk menegakan kebenaran melawan ke­mung­karan dan kezaliman ini. Kalau sempat rumah kami dirusak oleh pihak Neliwati dan anak-anak­nya, maka kami tidak akan segan-segan juga akan berbuat demikian,” tegas Nurjanah.

Ketika Nurjanah dan keturunannya mendatangi anak-anak Alm. Joni dan Neliwati agar segera pin­dah dari tempat tersebut, mendapat perlawanan dari Reni dan Rido. Mereka menantang Nurjanah me­la­kukan gugatan.

Pantauan POSMETRO, terjadi keributan antara Nurjanah dan Reni dilokasi bangunan tersebut dan sempat mendapat men­dapat perhatian dari te­tangga.

Salah seorang tetang­ga,  Nanda dan Ipul, me­reka membenarkan bahwa tanah yang ditempati ke­luar­ga Alm. Joni meru­pakan pusaka tinggi keluar­ga Nurjanah yang bersuku Melayu di Kelurahan Kam­pung Olo, Kecamatan Nang­­­galo. “Sepenge­ta­huan saya, tanah dan ba­ngu­nan itu adalah milik suku Melayu yakni nenek Nurjanah,” katanya.

Sementara, Rido yang didampingi Reni yang me­ngua­sai bangunan itu, me­ngatakan,  tempuh saja jalur hukum ke kepolisian atau gugat saja ke penga­dilan.

“Silahkan saja laporkan ke Kepolisian dan gugat di Pengadilan. Karena kami juga punya bukti,” ujarnya ketika terjadi keributan itu.

Sementara Kapolsek Nanggalo AKP Sosmedya mengatakan, jika ada yang dirugikan silahkan mela­por. ”Dari laporan dipe­lajari dengan penyidik dulu. kalau dibaca sepintas bisa ke ranah perdata. Tapi silahkan datang ke polsek untuk lebih jelasnya,” pung­kasnya. (hen)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional