Menu

Merancang Ketahanan Pangan Lokal

  Dibaca : 326 kali
Merancang Ketahanan Pangan Lokal
Ibnu Asis, Anggota DPRD Bukittinggi

Kota Bukittinggi sudah lama dikenal sebagai destinasi Wisata di Sumbar. Bahkan, Kota Sanjai ini berani mendeklarasikan diri sebagai “The Dreamland of Sumatera” alias Ranah Impian di Pulau Sumatera. Maka sebagai konsekuensi logis dari eksistensi Kota Sejuk ini, berimplikasi langsung terhadap perputaran roda perekonomian dan mobilitas warga masyarakatnya ungkap  Ibnu Asis anggota DPRD Bukittinggi.

Ibnu Asis menjelaskan Secara umum, bidang Jasa dan Perdagangan menjadi pilihan mata pencarian sebagian besar penduduknya atau hampir setara dengan 60 persen dari jumlah penduduk Kota dengan luas hanya sekitar 25,2 kilo meter persegi ini. Dan dua hal itu sangat sejalan seirama dengan Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Kota Bukittinggi tahun 2010-2030, disamping bidang Kesehatan dan bidang Pendidikan sebagai pendukungnya.

Kondisi nyata diatas, menyebabkan laju pertumbuhan perekonomian Kota Bukittinggi mencapai angka sekitar 6,12 persen per tahun (lebih tinggi dari rerata pertumbuhan perekonomian Sumatera Barat sekitar 5,14 persen per tahun). Dengan rerata Product Domestic Ratio Brutto (PDRB) sekitar 46,83 juta perkapita per tahun atau lebih tinggi dari rerata PDRB Sumbar sekitar 42,57 juta per kapita per tahun. Dengan laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,77 persen per tahun (lebih tinggi dari rerata pertumbuhan penduduk di Sumbar sekitar 1,62 persen per tahun) dan dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 5.000 jiwa lebih per kilo meter persegi (lebih tinggi dari rerata kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Barat sekitar 131 jiwa lebih per kilo meter persegi).

Keadaan tersebut mengakibatkan pembangunan infrastruktur dan sarana utilitas kota untuk beragam keperluan mengalami kemajuan pesat. Namun disisi lain, pada saat bersamaan justru terjadi penyusutan lahan pertanian (pangan) yang sangat signifikan.

Apalagi Kota Sanjai ini bukanlah Kota Agraris (pertanian) dan hanya sebagian kecil saja atau kurang dari 3,79 persen dari jumlah penduduknya yang berprofesi atau bermata pencarian sebagai petani. Sebagaimana diketahui bahwa lahan pertanian (pangan) di Kota Bukittinggi tinggal tersisa seluas 380-400 hektare saja.

Ditambah lagi, beberapa tahun belakangan ini tidak ada lagi program cetak sawah baru. Dimana dari total luasan tersebut hanya separuhnya yang masih efektif dan produktif dengan rerata total produksi sebanyak 6 – 8 ton gabah kering panen (gkp) per hektar, dengan luas tanam 568 hektar per tahun. Adapun target luas tanam yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat 1.032 hektar per tahun.

Sementara itu, target luas tanam yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian sebesar 795,98 hektar luas tanam. Dengan kata lain, bahwa kedua target luas tanam tersebut tidak dapat tercapai.Di masa pandemi saat ini, hampir semua sektor atau bidang terdampak langsung. Secara umum, perekonomian global maupun lokal tergerus, daya beli masyarakat menurun, kesehatan masyarakat terganggu hingga pendidikan anak bangsa pun kurang stabil.

Kecuali sedikit bidang yang dianggap dan diprediksi oleh sebagian pakar dan pengamat masih akan eksis dan tetap terus bertahan. Diantaranya adalah bidang pertanian (tanaman pangan). Walaupun sesungguhnya bidang ini juga terpengaruh dan terdampak, akan tetapi tidak secara langsung. Oleh karena itu, menjadi sangat penting dan mendesak agar kiranya Pemerintah Daerah dan segenap stakeholder terkait segera menyusun dan merancang skenario ketahanan pangan sekaligus mengantisipasi risiko krisis pangan menghadapi masa pandemi yang belum bisa diperkirakan kapan akan selesai.

Di tengah situasi dan kondisi nyata semakin menyempitnya lahan pertanian basah (pangan) serta terus bergeraknya roda pembangunan infrasrtuktur tersebut, maka ketahanan pangan menjadi suatu keniscayaan dan tanggung jawab yang mesti diupayakan dan diwujudkan secara bersungguh- sungguh dan bersama- sama.

Ketahanan pangan dimaksud berdasarkan Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan.

Sedangkan organisasi dunia Food and Agriculture Organitation (FAO) mendefinisikan ketahanan pangan sebagai suatu kondisi dimana setiap orang sepanjang waktu, baik fisik maupun ekonomi, memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari sesuai preferensinya. Berikut ini adalah beberapa gerak langkah terpadu nan berkesinambungan yang patut dan mungkin segera dipersiapkan oleh Pemerintah Daerah beserta segenap stakeholder berkompeten, yang memungkinkan sektor pertanian (pangan) pada skala lokal, khususnya di Kota Bukittingi, akan tetap bertahan, beragam, cukup, aman dan bahkan menjadi primadona di masa-masa sulit atau masa krisis yang mendera seperti saat ini.(pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

IKLAN

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional