Menu

Menuju Konversi Bank Nagari dari Konvensional ke Syariah

  Dibaca : 827 kali
Menuju Konversi Bank Nagari dari Konvensional ke Syariah
Ketua DPRD Sumbar, Supardi, Ketua Komisi III Afrizal dan Sekretaris Komisi III Ismunandi Sofyan pada saat rapat kerja dengan mitra Bank Nagari

Rencana Konversi Bank Nagari dari bank konvensional menjadi bank umum syariah, Komisi III DPRD Sumbar masih menunggu 16 tahapan yang harus dijalani manajemen Bank Nagari, sebagai syarat pengalihan.

Ketua Komisi III DPRD Sumbar, Afrizal mengungkapkan hal itu berkaitan adanya isu yang berkembang bahwa banyak fraksi di DPRD Sumbar yang tidak setuju dengan adanya pengalihan status Bank Nagari menjadi bank syariah.

“Kalau manajemen Bank Nagari segera menyelesaikan tahapan yang harus diselesaikannya itu tentu akan cepat pula proses menjadi bank syariah,” ujar Afrizal.

Menurut dia, dari 16 tahapan yang harus dilalui manajemen Bank Nagari itu, baru 8 tahapan yang sudah dituntaskan. 4 tahapan lagi sedang dalam tahap penyelesaian, dan 4 tahap lagi belum.

Bank Nagari sedang membuat angket atau minta persetujuan kepada nasabah Bank Nagari, apakah mereka bersedia atau tidak bersedia kalau Bank Nagari beralih dari bank konvensional menjadi bank syariah.

“ Itu salah satu dari yang 4 tahapan dimaksud dan prosesnya sedang jalan sekarang,” tukasnya.

Sedang menyangkut “market share” Bank Nagari di tengah masyarakat, Afrizal mengungkapkan bahwa saat ini bank milik Pemprov Sumbar itu berada pada level 32% dan bias dikatakan terbesar di Sumbar.

Katanya, Bank Nagari saai ini telah memberikan deviden tahun 2020 ini ke Pemprov Sumbar sebanyak Rp61 milyar, sedangkan Askrida yang ditargetkan akan memberi deviden Rp15 milyar hanya mampu memberikannya Rp5 milyar , sedangkan Jamkrida yang ditargetkan Rp1,2 milyar hanya sanggup Rp200 juta saja.

Sementara BUMD PT. Grafika yang bagaikan “hidup segan mati tak mau” itu, Afrizal mangakui kalau kondisinya saat ini sangat memprihatikan. Bahkan sudah 10 bulan tidak mampu memberi gaji karyawannya.

“Grafika itu sekarangkan sudah tidak mampu lagi memberikan deviden karena kondisi minus. Mungkin akan dihapus saja keberadaannya,” tuturnya.

Sedangkan Hotel Balairung di Jakarta. Masih terus merugi. Dalam Tahun 2021 akan dipaksa harus bias memberikan deviden kepada Pemprov Sumbar sebanyak Rp 500 juta.

Untuk tahun 2021, Komisi III akan melakukan evaluasi terhadap PT. Askrida disebabkan sejak dua tahun terakhir kinerjanya melorot tajam, termasuk Hotel Balairung yang akan dievaluasi total.

Sebelumnya, Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari Gusti Candra mengatakan, di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19, Unit Usaha Syariah Bank Nagari, ternyata terus berkembang. Animo masyarakat untuk menyimpan dana nya di unit usaha syariah (UUS) ini cukup bagus.

Hal itu  terlihat dari posisi aset Unit Syariah Bank Nagari per 30 September 2020 yang cukup menggembirakan. “Posisi aset Rp1,9 triliun, dana pihak ke tiga (DPK) Rp 1,78 triliun, dan pembiayaan Rp 1,54 triliun. Sedangkan jumlah debitur hingga akhir Agustus 2020 sebanyak 13.952,” ungkap Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari Gusti Candra kepada wartawan kemarin.

Jika dibandingkan dengan posisi tahun 2019 lalu, peningkatan tersebut dinilai cukup baik. “Hingga akhir Desember 2019, aset Unit Syariah Bank Nagari tercatat Rp1,7 triliun. Dana pihak ke tiga Rp1,53 triliun, dan pembiayaan Rp1,51 triliun,” urai Gusti.

Melihat perkembangan tersebut, dapat disimpulkan animo masyarakat untuk menyimpan dananya di syariah, cukup bagus. Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan tahapan konversi Bank Nagari dari konvensional ke syariah.

Saat ini, Bank Nagari memiliki lima kantor cabang syariah, yang tersebar di Padang, Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar dan Solok. Sedangkan cabang pembantu syariah ada empat unit yang tersebar di Padangpanjang, Simpang Empat, Dharmasraya dan Pariaman. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional